Ihtiar Tanpa Beban
Ihtiar Tanpa Beban: Ketika Melangkah Mengikuti Petunjuk Pagi itu sekitar pukul sembilan, saya melangkah keluar rumah untuk membagikan brosur. Tidak ada target berlebihan di kepala, tidak pula harapan muluk-muluk. Yang ada hanya satu niat sederhana: menjalankan ihtiar. Saya membagikan brosur hingga sekitar pukul sepuluh. Setelah itu hujan turun. Di tempat terakhir saya singgah, hujan justru semakin deras. Saya berhenti, lalu memutuskan masuk ke masjid dan menunggu waktu zuhur. Di sanalah satu pelajaran penting muncul dengan sangat jernih: tentang petunjuk dalam ihtiar. Petunjuk Tidak Selalu Datang Lewat Pikiran yang Rumit Selama ini banyak orang mengira petunjuk harus dirasakan dengan emosi yang kuat, dipikirkan panjang, atau dipaksakan dengan keberanian yang berat. Padahal sering kali petunjuk datang melalui keadaan yang sederhana. Ketika kita berjalan di suatu tempat: melihat orang berkumpul atau sendiri, ada kesempatan untuk singgah, dan secara syariat tidak ada larangan serta tidak ...