Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 10, 2025

Ketegasan Mama adalah Bentuk Cinta: Kisah Pengorbanan yang Tak Pernah Tercatat, Tapi Selalu Mengalir dalam Doa

Oleh Amran. Ketegasan Mama adalah Bentuk Cinta: Kisah Pengorbanan yang Tak Pernah Tercatat, Tapi Selalu Mengalir dalam Doa Nak… dengarlah dari hati Mama. Mama tahu kamu sering melihat Mama keras, suaraku tinggi, atau kata-kataku kadang membuatmu tersinggung. Tapi ketahuilah… tidak ada satu pun dari itu yang lahir dari kebencian. Semua itu lahir dari cinta—cinta yang sering tidak terlihat, tetapi terasa dalam pengorbanan yang panjang dan diam. Sejak hari pertama Allah menitipkanmu dalam rahimku, Mama tidak pernah menyesal. Sembilan bulan mengandungmu adalah perjalanan yang Mama jalani dengan ikhlas. Walaupun hidup kami saat itu sempit dan serba kekurangan, Mama tetap bertahan. Mama tetap berjuang. Tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menyerah, apalagi menyesal melahirkanmu. Kamu tidak tahu betapa seringnya malam-malam Mama terjaga. Bukan karena Mama tidak lelah, tetapi karena Mama khawatir. Khwatir besok kita makan apa. Khwatir minyak tanah hanya tinggal setetes. Khwatir ti...

Hati yang Dinilai, Bukan Hanya Kata dan Penampilan

Hati yang Dinilai, Bukan Hanya Kata dan Penampilan” Amran . Aku menyadari: orang tua yang tampak keras dalam mendidik anaknya, bukan berarti mereka tidak sayang. Sebaliknya — kadang kekerasan itu muncul dari luka masa lalu, dari pengalaman hidup yang lalu membentuk hati menjadi tegar, agar tak ada tangisan yang sama menimpa anaknya kelak. Kekerasan mereka bukan ujung dari cinta, melainkan bentuk perlindungan yang tersamar. Bila kita menilai mereka dari luarnya saja — keras, dingin, kejam — kita mungkin salah besar. Karena yang keras bukan selalu orangnya — tapi sejarah hidupnya. Mereka perlu dihormati, bukan dijelekkan. Mereka perlu didengar, bukan dinasehati dengan angkuh. Karena mereka sudah matang dengan pengalaman hidup, sudah kenyang menghadapi derita, sudah belajar keras untuk mandiri. Mungkin kita mengira kita baik — karena kita sukses, karena kita punya pengetahuan, gelar, harta, status. Tapi pernahkah kita menilik, dari mana kekuatan kita itu? Apakah dari hati yang pernah ret...

Nasehat Orang Tua Yang Menjadi Cahaya Sepanjang Hidupku

  “Nasihat Orang Tua yang Menjadi Cahaya Sepanjang Hidupku” Oleh Amran, SP, MSi. Ada sebuah pesan yang hingga hari ini tidak pernah pudar di dalam hati saya. Pesan yang datang dari dua manusia yang paling berjasa dalam hidup saya—Etta dan Emmi. Nasihat itu disampaikan bukan dengan suara keras, bukan dengan ancaman, tetapi dengan kelembutan yang membuatnya meresap sampai ke tulang. Suatu hari, mereka berkata kepada saya dengan mata yang tenang dan suara yang penuh kasih, “Nak… kalau nanti kau punya anak, jangan kau sentuh mereka dengan tanganmu. Walau bagaimana pun menjengkelkannya, tetaplah sabar. Anak itu titipan. Kalau anakmu tumbuh menjadi anak yang baik, itu karena didikanmu dan doamu yang tulus. Jangan pernah kau kotori amanah Allah dengan kemarahanmu.” Sejak saat itu, nasihat tersebut menjadi kompas dalam hidup saya. Menjadi pengingat dalam setiap langkah, dalam setiap emosi, dalam setiap kejengkelan yang kadang muncul sebagai manusia. Orang tua saya mengajarkan bahwa m...

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku” Oleh Amran, SP,M.Si. Di mata sebagian orang, cara saya mendidik anak mungkin tampak lembek . Tidak tegas. Terlalu lunak. Tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa cara saya mendidik hari ini adalah cermin dari cinta yang saya terima sejak kecil. Saya tumbuh dari didikan dua orang tua yang luar biasa lembut. Mereka tidak pernah memaksa, tidak pernah mengancam, apalagi menghukum hanya karena hal-hal kecil yang sering membuat orang lain marah. Di rumah kami, suara keras jarang terdengar. Tidak ada bentakan. Tidak ada hukuman. Yang ada hanya tatapan penuh kasih, senyum yang menenangkan, dan doa yang disampaikan tanpa kata. Ketika mereka menyuruh dan saya tidak mau, mereka tidak marah. Mereka hanya berkata pelan, “Ya sudah…” Kemudian mereka diam, mungkin dalam hati mereka mendoakan saya. Tidak ada dendam, tidak ada penekanan. Dan tanpa saya sadari, justru kelembutan itu yang membuat saya berubah. Bukan karena takut—tetapi...