Dari Mencari Alasan ke Mencari Jalan
Dari Mencari Alasan ke Mencari Jalan Ada masa dalam hidup ketika hujan sedikit saja sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti. Tanggal tua terasa seperti vonis. Tubuh lemas dianggap tanda untuk menunda. Pikiran jengkel, stres, dan marah terasa sah untuk tidak bergerak. Semua itu terlihat logis. Masuk akal. Manusiawi. Namun pelan-pelan saya sadar: bukan hujan, bukan tanggal, bukan tubuh yang menghentikan langkah. Yang menghentikan adalah takut . Takut yang Menyamar Jadi Alasan Takut sering tidak datang sebagai kepanikan. Ia datang sebagai kehati-hatian berlebihan. Sebagai pertimbangan yang tampak bijak. Sebagai penundaan yang terasa aman. Takut akan miskin. Takut dikritik. Takut kesehatan menurun. Takut kehilangan cinta. Takut menua. Takut mati. Takut seperti ini melahirkan gejala halus: ragu melangkah khawatir berlebihan terlalu berhati-hati menunda dengan alasan Bukan karena malas bekerja, melainkan karena ingin aman dari kemungkinan gagal. Saat Saya Berhenti Mencari Alasan Titik...