Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 18, 2026

Melihat Diri Lewat Keluarga: Belajar Memahami, Bukan Menghakimi

Melihat Diri Lewat Keluarga: Belajar Memahami, Bukan Menghakimi Bismillahirrahmanirrahim. Beberapa waktu terakhir, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda ketika berada di rumah. Saat melihat anak dan istri, terkadang muncul perasaan yang sulit diungkapkan. Bukan sekadar melihat perilaku mereka, tetapi seperti melihat cermin—yang memantulkan diri saya di masa lalu. Saya melihat ada sikap yang dulu pernah ada dalam diri saya: ego yang kuat, emosi yang mudah muncul, dan sikap yang belum mampu dikendalikan dengan baik. Dan di titik itu, hati ini seperti diingatkan. Ketika Orang Lain Menjadi Cermin Dulu, mungkin saya lebih mudah melihat kesalahan orang lain. Lebih cepat menilai. Lebih ingin memperbaiki mereka. Namun sekarang, perlahan saya mulai memahami—dengan pemahaman yang masih sangat terbatas—bahwa apa yang saya lihat pada orang lain, bisa jadi pernah ada dalam diri saya, atau bahkan masih tersisa dalam bentuk yang tidak saya sadari. Sehingga ketika melihat, hati tidak lagi langsung...

Dari Banyak Alasan Menuju Disiplin: Belajar Mengendalikan Nafsu dalam Perjalanan

Dari Banyak Alasan Menuju Disiplin: Belajar Mengendalikan Nafsu dalam Perjalanan Bismillahirrahmanirrahim. Jika saya melihat ke belakang, ada satu hal yang perlahan saya sadari: dulu saya sering punya alasan. Ketika di lapangan menghadapi kendala, hati terasa berat. Langkah menjadi lambat. Dan akhirnya pulang dengan berbagai pembenaran. Seolah-olah kondisi di luar menjadi penentu langkah saya. Namun sekarang, dengan pemahaman yang masih sangat terbatas, saya mencoba belajar sesuatu yang berbeda: menjalankan waktu, bukan mengikuti rasa. Ketika Rasa Tidak Lagi Diikuti Beberapa hari terakhir, saya mencoba tetap berada di lapangan sesuai waktu yang telah saya niatkan. Ada hasil atau tidak, tetap dijalani. Mudah atau tidak, tetap dilanjutkan. Dan ternyata, yang berubah bukan hanya hasil, tetapi cara melihat proses itu sendiri. Dulu pulang terasa seperti beban. Sekarang pulang terasa lebih tenang. Bukan karena semuanya berhasil, tetapi karena sudah berusaha menjalankan apa yang seharusnya di...

Dari Mengamati ke Melangkah: Perjalanan Kecil Menjemput Rezeki

Dari Mengamati ke Melangkah: Perjalanan Kecil Menjemput Rezeki Bismillahirrahmanirrahim. Kalau saya melihat ke belakang, terkadang saya tersenyum sendiri. Ada masa di mana saya banyak berpikir, tetapi sedikit bertindak. Sebagai seorang yang memiliki latar belakang pendidikan, saya merasa seolah harus memahami semuanya dulu sebelum melangkah. Namun kenyataannya, justru terlalu banyak berpikir membuat langkah terasa berat. Di masa itu, saya sering memperhatikan orang-orang di jalan. Penjual koran yang berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Pengamen yang berani tampil di depan orang banyak. Penjual asongan yang menawarkan dagangannya tanpa ragu. Saat itu, saya hanya melihat. Belum benar-benar memahami. Namun sekarang, perlahan saya menyadari bahwa di balik kesederhanaan mereka, ada sesuatu yang sangat berharga: keberanian untuk bertindak. Belajar dari Kehidupan Sederhana Mereka mungkin tidak banyak teori. Tidak banyak pertimbangan. Namun mereka melangkah. Sementara saya—yang mera...

Nafsu, Marah, dan Belajar Menempatkan Diri

Nafsu, Marah, dan Belajar Menempatkan Diri Bismillahirrahmanirrahim. Dalam perjalanan memahami diri, ada satu hal yang sering muncul dan terasa sangat nyata: marah. Kadang datang tiba-tiba. Kadang muncul karena hal kecil. Kadang terasa “benar” untuk diluapkan. Dari sini saya mulai bertanya dalam diri, apakah marah ini salah? atau memang bagian dari diri yang harus ada? Perlahan saya memahami—dengan pemahaman yang masih sangat terbatas—bahwa marah adalah bagian dari nafsu yang Allah ciptakan dalam diri manusia. Ia bukan musuh, tetapi juga bukan sesuatu yang boleh dibiarkan liar. Marah itu seperti api. Ia bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membakar. Ketika Nafsu Dibiarkan Saat marah diikuti begitu saja, tanpa kendali, di situlah nafsu mengambil alih. Ucapan menjadi kasar. Sikap menjadi berlebihan. Bahkan terkadang melukai orang lain tanpa disadari. Dalam kondisi seperti ini, marah bukan lagi sekadar reaksi, tetapi sudah menjadi jalan bagi hawa nafsu. Dan seringkali, setelahnya yang tersis...

Menulis dalam Perjalanan: Antara Hikmah, Diri, dan Takdir

Menulis dalam Perjalanan: Antara Hikmah, Diri, dan Takdir Bismillahirrahmanirrahim. Dalam perjalanan memahami diri, ada satu hal yang perlahan saya sadari: tidak semua yang terlintas dalam pikiran layak untuk langsung diucapkan, dan tidak semua yang terasa dalam hati pantas untuk langsung dituliskan. Ada adab yang perlu dijaga. Dulu, ketika mulai menulis, saya lebih banyak berbicara dari pikiran. Apa yang dipahami, itulah yang dituangkan. Tulisan terasa penuh, tetapi setelah direnungi kembali, ada bagian yang belum selaras. Pikiran berjalan sendiri, sementara rasa dan pengalaman belum sepenuhnya menyatu. Seiring waktu, perjalanan hidup mengajarkan sesuatu yang berbeda. Tidak semua yang dipahami itu benar-benar telah dijalani. Tidak semua yang bisa dijelaskan, benar-benar telah dirasakan. Dari situlah muncul kehati-hatian dalam menulis. Saya mulai melihat bahwa menulis bukan sekadar menyampaikan pemahaman, tetapi juga menjaga hati. Ketika ingin menulis tentang suatu hikmah, saya bertany...