Melangkah Walau Rasa Menghalangi Catatan kecil tentang ikhtiar, nafs, dan tawakkal
Melangkah Walau Rasa Menghalangi Catatan kecil tentang ikhtiar, nafs, dan tawakkal Di jalan-jalan kampung aku sering belajar banyak hal. Bukan hanya tentang berdagang atau mencari rezeki, tetapi tentang memahami diriku sendiri. Setiap kali melihat orang duduk santai, orang berkumpul, atau seorang tua yang mungkin membutuhkan kacamata, ada dua suara yang sering muncul di dalam diri. Satu suara berkata: “Singgahlah. Sampaikan salam. Tawarkan dengan baik.” Tetapi suara yang lain kadang berbisik: “Jangan dulu… mungkin mereka sibuk… mungkin mereka tidak mau… nanti saja.” Di situlah aku mulai belajar bahwa di dalam diri manusia memang ada dorongan yang berbeda. Ada dorongan yang mengajak bergerak, dan ada pula dorongan yang menahan langkah dengan rasa ragu, malu, atau gengsi. Jika mengikuti rasa itu terus, langkah sering berhenti. Kesempatan lewat begitu saja. Setelah itu yang tersisa hanyalah penyesalan kecil: mengapa tadi tidak singgah? Karena itu aku mencoba membuat satu keputusan sederha...