Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 7, 2026

Ujub yang Sangat Halus: Renungan Seorang Hamba dalam Menjaga Hati

Ujub yang Sangat Halus: Renungan Seorang Hamba dalam Menjaga Hati Dalam perjalanan memperbaiki diri, ada satu penyakit hati yang sangat halus dan sering tidak disadari: ujub, yaitu kekaguman terhadap diri sendiri. Banyak orang mengira ujub hanya terjadi ketika seseorang memamerkan amalnya di hadapan orang lain. Padahal kenyataannya, ujub bisa terjadi di dalam hati, bahkan ketika tidak seorang pun mengetahuinya. Para ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din menjelaskan bahwa ujub adalah ketika seseorang melihat amal, pemahaman, atau kebaikan pada dirinya lalu hatinya merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Walaupun ia mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi jika hatinya masih merasa dirinya memiliki sesuatu yang istimewa, maka ujub bisa saja telah masuk secara halus. Ketika Syukur Bercampur dengan Keakuan Seorang hamba terkadang berkata dalam hatinya: “Alhamdulillah Allah memberi saya pemahaman ini. Tidak semua orang diberikan hal ini.” Sekilas kalimat ini tampak sebag...

Kabut Ego yang Menutup Petunjuk Allah

Kabut Ego yang Menutup Petunjuk Allah Dalam perjalanan hidup, sebenarnya petunjuk Allah tidak pernah jauh dari manusia. Ia hadir melalui wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an, melalui sunnah Rasulullah ﷺ, melalui nasihat orang-orang berilmu, bahkan melalui peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi setiap hari. Namun sering kali manusia tidak mampu melihat petunjuk itu dengan jelas. Bukan karena petunjuknya tidak ada, tetapi karena ada sesuatu yang menutup pandangan batin. Penutup itu sering disebut sebagai ego. Ego tidak selalu tampak dalam bentuk kesombongan yang besar. Kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih halus: gengsi, rasa ingin dipuji, bangga pada diri sendiri, takut dianggap rendah, malu yang berlebihan, marah yang tidak terkendali, atau kegelisahan yang membuat hati tidak tenang. Semua itu seperti kabut yang menutupi pandangan. Ketika kabut itu tebal, arah jalan menjadi tidak jelas. Manusia berjalan tetapi sering ragu, mengambil keputusan tetapi sering keliru, bahkan kadang meras...

Petani, Hati, dan Petunjuk dalam Kehidupan

Petani, Hati, dan Petunjuk dalam Kehidupan Percakapan dengan petani itu tidak hanya berhenti pada pembahasan tentang tikus dan rumput di sawah. Setelah menjelaskan beberapa sebab teknis dalam pertanian, saya mencoba mengaitkannya dengan pelajaran kehidupan. Saya mengatakan kepada beliau bahwa para ulama sering menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada beberapa unsur yang saling bekerja. Ada tubuh yang bergerak dan bekerja. Ada pikiran yang menganalisis dan merencanakan. Ada rasa yang membuat manusia merasakan senang, takut, atau khawatir. Namun menurut para ulama, di dalam diri manusia juga ada sesuatu yang lebih dalam, yaitu hati (qalb). Hati inilah yang sering disebut sebagai tempat datangnya cahaya petunjuk dari Allah. Tokoh besar seperti  menjelaskan bahwa hati adalah pusat kesadaran manusia yang paling dalam. Jika hati bersih dan hidup, maka ia mampu menerima petunjuk dan membimbing manusia dalam menjalani kehidupan. Sementara itu pikiran, rasa, dan tubuh pada dasarnya hanyalah...