Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 25, 2026

Bukan Singa yang Harus Jinak, Tapi Nafsu yang Harus Tunduk

Bukan Singa yang Harus Jinak, Tapi Nafsu yang Harus Tunduk Aku pernah bertanya dalam diam: “Mengapa para wali bisa menundukkan binatang buas, sementara aku gemetar menghadapi hidup?” Lalu aku sadar—pertanyaanku keliru arah. Yang harus kutundukkan bukan singa di hutan, tetapi singa di dalam dadaku. Singa itu bernama nafsu. Singa di Dalam Dada Aku melihat singa itu dalam bentuk yang halus: ketakutan kehilangan uang, keinginan dipuji manusia, dorongan untuk menurunkan harga demi diterima, ego yang ingin terlihat kuat, dan kegelisahan yang membuatku lupa bahwa Allah Maha Mengatur. Singa itu tidak mengaum di hutan, ia mengaum di pikiranku. Dan aku tahu, jika singa ini tidak jinak, aku akan selalu menjadi budaknya— meski dunia tunduk kepadaku. Pelajaran dari Para Wali Aku membaca kisah para wali yang singa dan ular pun tunduk kepada mereka. Namun kini aku paham: mereka bukan hebat karena singa tunduk, tetapi karena nafsu mereka telah tunduk kepada Allah. Ketika nafsu tunduk, alam pun menjadi...

Peta Perjalanan Hijrah Intelektual → Hijrah Tauhid Rasa

Peta Perjalanan Hijrah Intelektual → Hijrah Tauhid Rasa (Refleksi Tasawuf Autobiografi Seorang Pedagang yang Sedang Disucikan) Prolog: Dari Bertanya ke Tunduk Aku teringat satu pertanyaan masa kecil yang tersimpan seperti batu di dasar sumur jiwa: “Kalau hanya Allah yang kekal, lalu bagaimana dengan surga dan neraka yang kekal?” Pertanyaan itu dulu hanya logika, tanpa rasa. Kini aku mengerti: Allah menyimpan syubhat itu, lalu membukanya saat hatiku siap menerima cahaya tauhid yang lebih dalam. Hijrahku bukan hanya berpindah perilaku, tetapi berpindah cara melihat Allah . 1. Hijrah Intelektual: Dari Logika ke Iman Pada fase pertama hidupku, aku mencari Allah dengan pikiran. Aku belajar bahwa Allah Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Menentukan. Aku memahami ayat, hadis, dan istilah aqidah. Namun, tauhidku masih berada di kepala , belum turun ke qalb . Aku berpikir: Allah mencipta sebab Aku bergerak karena sebab Rezeki datang karena usaha Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: “Dan bukan kamu yang...

Peta Perjalanan Hijrah Intelektual → Hijrah Tauhid Rasa

Peta Perjalanan Hijrah Intelektual → Hijrah Tauhid Rasa (Refleksi Tasawuf Autobiografi Seorang Pedagang yang Sedang Disucikan) Prolog: Dari Bertanya ke Tunduk Aku teringat satu pertanyaan masa kecil yang tersimpan seperti batu di dasar sumur jiwa: “Kalau hanya Allah yang kekal, lalu bagaimana dengan surga dan neraka yang kekal?” Pertanyaan itu dulu hanya logika, tanpa rasa. Kini aku mengerti: Allah menyimpan syubhat itu, lalu membukanya saat hatiku siap menerima cahaya tauhid yang lebih dalam. Hijrahku bukan hanya berpindah perilaku, tetapi berpindah cara melihat Allah . 1. Hijrah Intelektual: Dari Logika ke Iman Pada fase pertama hidupku, aku mencari Allah dengan pikiran. Aku belajar bahwa Allah Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Menentukan. Aku memahami ayat, hadis, dan istilah aqidah. Namun, tauhidku masih berada di kepala , belum turun ke qalb . Aku berpikir: Allah mencipta sebab Aku bergerak karena sebab Rezeki datang karena usaha Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: “Dan bukan kamu yang...

Ketan di Tengah Banjir: Doa yang Dimasak Seorang Ayah

Ketan di Tengah Banjir: Doa yang Dimasak Seorang Ayah (Narasi Tasawuf Puitis Autobiografis) Air naik perlahan ke lantai rumahku, menyentuh telapak kaki yang menggigil, sementara langit belum lelah menangis. Di luar, dunia sibuk menyelamatkan diri. Di dalam, aku berdiri di dapur kecil, memegang panci, memegang harap, memegang sisa iman yang tidak pernah tenggelam. Beras sudah habis. Token listrik tinggal bunyi peringatan. Anak dan istri terdiam, tenggelam dalam layar dan doa yang tak terucap. Aku tahu, mereka juga berharap, tetapi sebagai ayah, aku memilih berdiri— meski berdiri hanya berarti memasak ketan di tengah banjir. Ketan sebagai Doa yang Dimasak Aku menuang beras ketan ke dalam panci. Air mendidih pelan, seperti hatiku yang tidak lagi memberontak, tetapi pasrah. Aku teringat firman Allah: “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3) Maka ketan itu bukan sekadar makanan, ia adalah doa yang dimasak dengan api tawakkal. Setiap butirn...