Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu
Oleh Amran. Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu”
1. Aku Sayang Mama, Tapi Aku Masih Serba Bingung
Mama…
Ada kalimat yang dari dulu ingin sekali aku sampaikan, tapi selalu tertahan di tenggorokan:
“Saya sayang Mama.”
Kalimat itu sederhana, tetapi rasanya berat karena aku tahu… aku sering mengecewakan Mama.
Maafkan aku, Ma.
Setelah dewasa, pikiranku seperti ingin terbang ke mana-mana.
Seolah aku baru keluar dari sangkar yang bertahun-tahun mengurungku.
Aku berlari ke dunia luar dengan mata penuh harap…
tapi langkahku masih goyah.
Aku menemukan kebebasan, tapi aku belum mengerti cara menjalaninya.
Aku bingung, aku ragu, aku takut kehilangan arah.
2. Aku Baru Mengenal Dunia, Tapi Mama Sudah Menjalani Semua Luka Itu
Mama…
Aku belum mengerti arti penderitaan.
Aku belum paham makna cinta yang sesungguhnya.
Yang aku tahu hanyalah rasa sakit…
sakit ketika disakiti, dihina, dicaci, diremehkan.
Tapi Mama… Mama sudah melewati semuanya jauh sebelum aku ada.
Mama sudah menyerap semua pahit getir kehidupan, sampai mungkin tak ada celah luka yang tersisa.
Mama tahu makna kegagalan.
Mama tahu makna derita.
Mama tahu bagaimana rasanya jatuh, bangkit, dan jatuh lagi.
Sementara aku?
Aku baru memulai…
Aku masih belajar berjalan.
Aku masih mencari jati diri.
Aku belum tahu arah, belum mengerti makna hidup.
Dan ketika aku marah, ketika aku sedih, ketika aku membentak—itu bukan benci, Ma.
Itu aku… anak yang baru belajar menjadi manusia.
3. Aku Masih Pemula Dalam Hidup, Ma… Jangan Tinggalkan Aku
Aku sadar, Ma…
Aku sering salah.
Aku sering membangkang.
Kadang aku merasa dunia ini terlalu keras, dan aku melampiaskan itu ke Mama.
Tapi jauh di dalam dada, aku tahu:
Aku takut kehilangan Mama.
Aku tahu rumah kita adalah tempat paling aman.
Aku tahu aku selalu pulang ke Mama ketika dunia luar terlalu berat.
Tanpa Mama dan Papa, aku tidak akan ada.
Mama yang mengandungku.
Mama yang membesarkanku.
Mama yang melindungiku.
Mama yang menjadi alas doaku—yang tak pernah putus meski aku sering melukai hati Mama.
4. Aku Butuh Mama, Meski Aku Terlihat Seperti Tidak Peduli
Ma…
Izinkan aku berkata jujur.
Aku takut bentakan Mama.
Aku takut tatapan marah Mama.
Aku takut wajah Mama berubah tegang.
Bukan karena Mama jahat.
Tapi karena aku mencintai Mama…
dan aku takut kehilangan cinta itu.
Yang aku butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang Mama.
Aku butuh Mama tersenyum ketika aku pulang.
Aku butuh Mama memelukku ketika aku jatuh.
Aku butuh Mama mendoakanku setiap kali aku pergi.
Aku butuh Mama untuk membimbingku—
bukan dengan kemarahan,
tapi dengan ketulusan dan kelembutan yang hanya Mama miliki.
5. Aku Egois, Ma… Tapi Ego Ini Hanya Karena Aku Masih Takut
Aku akui,
aku banyak kelemahan.
Aku malas.
Aku keras kepala.
Aku manja.
Aku cepat marah.
Aku mudah tersinggung.
Tapi Ma…
Semua itu muncul karena aku baru belajar menjadi bebas,
dan kebebasan itu kadang menakutkan.
Aku butuh Mama untuk memegang tanganku—bukan menarikku… hanya menggenggamku.
Aku butuh Mama untuk mengarahkan… bukan memaksa.
Aku butuh Mama untuk mendekapku… bukan menghakimi.
Karena aku tahu,
ketika Mama memelukku, dunia seketika menjadi tempat yang aman.
6. Maafkan Aku… Dan Bimbinglah Aku Dengan Cinta, Bukan Kemarahan
Mama…
Maafkan anakmu.
Maaf karena aku sering membuat Mama marah.
Maaf karena aku sering membuat Mama menangis dalam diam.
Maaf karena aku sering menjawab, sering membantah, sering tidak peka.
Maaf karena aku masih belajar menjadi manusia.
Aku memohon, Ma…
Bimbinglah aku dengan kasih.
Temani aku dengan cinta.
Doakan aku dengan hatimu yang lembut.
I love you, Mom.
Dari dulu sampai selamanya.
Aku anakmu,
yang sedang belajar menjadi baik,
yang sedang belajar memahami hidup,
yang sedang belajar mencintai Mama dengan cara yang benar.
Komentar
Posting Komentar