Ketegasan Mama adalah Bentuk Cinta: Kisah Pengorbanan yang Tak Pernah Tercatat, Tapi Selalu Mengalir dalam Doa
Oleh Amran. Ketegasan Mama adalah Bentuk Cinta: Kisah Pengorbanan yang Tak Pernah Tercatat, Tapi Selalu Mengalir dalam Doa
Nak… dengarlah dari hati Mama.
Mama tahu kamu sering melihat Mama keras, suaraku tinggi, atau kata-kataku kadang membuatmu tersinggung. Tapi ketahuilah… tidak ada satu pun dari itu yang lahir dari kebencian. Semua itu lahir dari cinta—cinta yang sering tidak terlihat, tetapi terasa dalam pengorbanan yang panjang dan diam.
Sejak hari pertama Allah menitipkanmu dalam rahimku, Mama tidak pernah menyesal. Sembilan bulan mengandungmu adalah perjalanan yang Mama jalani dengan ikhlas. Walaupun hidup kami saat itu sempit dan serba kekurangan, Mama tetap bertahan. Mama tetap berjuang. Tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menyerah, apalagi menyesal melahirkanmu.
Kamu tidak tahu betapa seringnya malam-malam Mama terjaga.
Bukan karena Mama tidak lelah, tetapi karena Mama khawatir.
Khwatir besok kita makan apa.
Khwatir minyak tanah hanya tinggal setetes.
Khwatir tidak ada beras untuk dimasak.
Dulu, setiap hari Mama harus memikirkan bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul. Berbeda dengan sekarang yang tabung gas bisa bertahan satu minggu—dulu minyak tanah cuma cukup satu hari, itu pun kalau ada. Sering kali Mama berdiri lama, memandang lampu yang temaram, sambil berdoa lirih:
“Ya Allah… cukupkanlah rezeki anakku.”
Mama bekerja dari pagi hingga malam.
Keringat bercampur dengan air mata, tapi semua itu Mama jalani dengan keyakinan bahwa Mama harus bertahan demi kamu. Kadang rasa sakit, kadang rasa takut, kadang badan ingin menyerah… tapi bayangan wajahmu selalu membuat Mama bangkit lagi.
Alhamdulillah… di tengah kesempitan hidup, Allah menghadirkan saudara dan mertua yang sesekali membantu. Tapi itu bukan tujuan. Mama tidak ingin mengulur tangan meminta-minta. Mama ingin bangkit dengan perjuangan sendiri. Karena itu kehormatan. Karena itu bekal yang ingin Mama wariskan padamu.
Nak…
Jika Mama tidak menyayangimu, mungkin hidupmu tidak akan seperti sekarang.
Mungkin kamu akan Mama titipkan ke orang lain.
Mungkin kamu tidak akan tumbuh di pangkuanku.
Tapi Mama memilih menahan semuanya sendiri—lapar, takut, capek, malu, dan segala bentuk kesulitan—demi kamu.
Kamu mungkin melihat Mama keras, tetapi sesungguhnya Mama memiliki hati yang lembut.
Mama tegas bukan karena benci.
Mama keras bukan karena marah.
Mama bersuara tinggi karena Mama tidak mau kamu mengulang luka lama yang pernah Mama rasakan.
Mama ingin kamu tumbuh lebih kuat, lebih baik, lebih terhormat.
Dan di samping Mama, ada ayahmu.
Ayahmu tidak banyak bicara, tetapi dialah penyeimbang dalam keluarga ini.
Walaupun Mama sering menganggap ayahmu lemah, nyatanya ayahmu adalah lelaki yang hatinya luas. Dia bisa mengalah meski tidak sepenuhnya salah.
Dia sabar.
Dia menahan amarah.
Dia memaafkan.
Kalau ayahmu ikut keras seperti Mama, entah apa jadinya rumah kita.
Allah menjadikan Mama sebagai benteng dan ayahmu sebagai kesejukan—agar kamu merasakan dua sisi cinta yang sempurna.
Nak…
Setiap kata kasar yang keluar dari mulut Mama, percayalah, hanya berhenti di mulut… tidak pernah sampai ke hati.
Kadang Mama menyesal sudah berkata keras.
Kadang Mama menangis sendiri setelah memarahimu.
Tapi Mama tetap yakin kamu adalah amanah Allah yang harus dijaga.
Sekarang usia Mama semakin tua.
Tenaga Mama tidak lagi sekuat dulu.
Namun ada satu yang tidak berubah:
Doa Mama untukmu tetap mengalir, bahkan mungkin lebih sering daripada dulu.
Mama belum bisa memberimu rumah yang mewah.
Mama belum bisa menghadiahkan rezeki yang luas.
Tapi Mama memberikan sesuatu yang lebih mahal dari semuanya:
cinta, perjuangan, air mata, dan doa yang tidak pernah putus.
Nak… ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui sekarang.
Bukan karena Mama ingin menyembunyikan sesuatu darimu, tetapi karena ada beban-beban hidup yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sudah ditempa oleh pengalaman.
Suatu hari nanti, ketika hidup mengajarimu tentang letih, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana rasanya menjaga orang lain lebih dari dirimu sendiri… barulah kamu akan mengerti.
Saat kamu menjadi orang tua, atau ketika pundakmu mulai merasakan beratnya kehidupan, kamu akan memahami mengapa Mama bersikap seperti itu.
Dan mungkin, nak…
Pemahaman itu baru akan benar-benar hadir di saat Mama sudah tiada, ketika rumah terasa lebih sepi, ketika sosok Mama tidak lagi menyambutmu di pintu, ketika nasihat Mama hanya tinggal kenangan yang terulang dalam benakmu.
Kelak, setelah Mama pergi selamanya, barulah kamu akan merasakan betapa besar cinta yang dulu mungkin tidak begitu kamu pahami.
Saat itu kamu akan berkata dalam hatimu,
“Oh… ini maksud Mama. Ini alasan Mama dulu tegas, keras, dan penuh perhatian.”
Biarlah waktu menjadi guru yang pelan-pelan membuka rahasia itu.
Karena cinta seorang ibu… sering kali baru benar-benar terasa ketika kita tidak lagi bisa memeluknya.
Mama yakin, Allah akan membukakan jalan hidupmu.
Karena tidak ada perjuangan orang tua yang sia-sia di hadapan Allah.
Dalil Al-Qur’an tentang Birrul Walidain (Bakti pada Orang Tua)
1. QS. Al-Isra’ : 23–24
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua…
Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah:
‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika kecil.’”
2. QS. Luqman : 14
“…Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali.”
3. QS. Al-Ahqaf : 15
“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah…”
Ayat-ayat ini menjadi saksi bahwa cinta dan pengorbanan seorang ibu tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Komentar
Posting Komentar