Ujub yang Sangat Halus: Renungan Seorang Hamba dalam Menjaga Hati

Ujub yang Sangat Halus: Renungan Seorang Hamba dalam Menjaga Hati

Dalam perjalanan memperbaiki diri, ada satu penyakit hati yang sangat halus dan sering tidak disadari: ujub, yaitu kekaguman terhadap diri sendiri. Banyak orang mengira ujub hanya terjadi ketika seseorang memamerkan amalnya di hadapan orang lain. Padahal kenyataannya, ujub bisa terjadi di dalam hati, bahkan ketika tidak seorang pun mengetahuinya.

Para ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din menjelaskan bahwa ujub adalah ketika seseorang melihat amal, pemahaman, atau kebaikan pada dirinya lalu hatinya merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Walaupun ia mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi jika hatinya masih merasa dirinya memiliki sesuatu yang istimewa, maka ujub bisa saja telah masuk secara halus.

Ketika Syukur Bercampur dengan Keakuan

Seorang hamba terkadang berkata dalam hatinya:

“Alhamdulillah Allah memberi saya pemahaman ini. Tidak semua orang diberikan hal ini.”

Sekilas kalimat ini tampak sebagai syukur. Namun para ulama mengingatkan bahwa di dalamnya bisa terselip keakuan yang sangat lembut. Hati bisa mulai merasakan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Di sinilah ujub mulai tumbuh tanpa terasa.

Perbedaannya sangat halus. Jika hati melihat Allah sebagai pemberi, maka itu syukur. Tetapi jika hati melihat dirinya sebagai pemilik kelebihan, maka itu ujub.

Ujub Tidak Memerlukan Penonton

Berbeda dengan riya yang membutuhkan pandangan manusia, ujub bisa terjadi walaupun seseorang sendirian. Ia tidak perlu memamerkan amalnya. Cukup hatinya merasa kagum pada dirinya sendiri.

Karena itu para ulama mengatakan bahwa ujub sering lebih berbahaya daripada riya. Orang yang riya kadang masih sadar bahwa niatnya rusak sehingga ia bisa bertaubat. Tetapi orang yang ujub sering merasa dirinya baik-baik saja.

Akibatnya ia tidak lagi merasa perlu memperbaiki diri.

Ujub yang Lebih Halus Lagi

Dalam perjalanan spiritual, ujub bisa muncul dalam bentuk yang lebih tersembunyi lagi. Misalnya seseorang merasa:

dirinya lebih memahami penyakit hati

dirinya lebih sadar tentang ego

dirinya lebih berhati-hati terhadap riya

Padahal di dalam perasaan itu bisa muncul bisikan yang sangat halus: “Tidak banyak orang yang memahami ini seperti saya.”

Ini yang oleh para ulama disebut sebagai ego spiritual.

Bahkan perasaan “saya fakir kepada Allah” pun bisa berubah menjadi ujub jika seseorang merasa dirinya lebih memahami kefakiran daripada orang lain.

Mengapa Allah Menyembunyikan Amal dari Hamba-Nya

Para ulama tasawuf menjelaskan sebuah hikmah yang sangat indah. Kadang Allah menyembunyikan nilai amal seorang hamba dari dirinya sendiri agar ia selamat dari ujub.

Seorang hamba mungkin telah melakukan banyak kebaikan, tetapi ia tetap merasa amalnya sedikit. Perasaan ini bukan karena putus asa, tetapi karena Allah ingin menjaga hatinya tetap rendah.

Jika seseorang melihat amalnya besar, ia bisa bersandar pada amalnya. Tetapi jika ia merasa amalnya kecil, ia akan terus berharap kepada rahmat Allah.

Cara Para Sahabat Memandang Amal

Para sahabat Nabi memiliki cara pandang yang sangat menakjubkan. Mereka melihat dosa mereka sangat besar, tetapi melihat amal mereka sangat kecil.

Umar bin Khattab pernah berkata bahwa jika ada pengumuman dari langit bahwa semua manusia masuk surga kecuali satu orang, ia takut orang itu adalah dirinya.

Padahal beliau adalah salah satu sahabat terbesar dalam Islam.

Inilah hati yang benar-benar takut kepada Allah.

Sikap Hati yang Paling Selamat

Para ulama merumuskan sikap yang paling aman dalam perjalanan hati:

Ketika melihat kebaikan pada diri kita, katakanlah dalam hati:

“Ini karunia Allah.”

Ketika melihat kekurangan diri, katakanlah:

“Ya Allah, ampuni aku.”

Dan ketika melihat orang lain, katakanlah:

“Mungkin mereka lebih baik dariku di sisi Allah.”

Dengan cara ini hati tetap bersyukur tanpa jatuh pada ujub, dan tetap rendah tanpa putus asa.

Tidak Merasa Aman dari Ujub

Kesimpulan yang paling penting adalah bahwa seorang hamba tidak boleh merasa dirinya sudah bebas dari ujub. Karena ketika seseorang merasa dirinya sudah bersih dari ujub, di situlah ujub bisa muncul kembali dalam bentuk yang baru.

Sikap yang paling selamat adalah selalu memohon perlindungan kepada Allah dari penyakit hati yang tersembunyi, dan memohon ampun jika ada ujub yang tidak kita sadari.

Pada akhirnya, tujuan perjalanan ruhani bukanlah menjadi orang yang merasa suci. Tujuannya adalah menjadi hamba yang selalu merasa membutuhkan Allah.

Selama rasa butuh kepada Allah tetap hidup di dalam hati, maka ujub akan sulit tumbuh. Dan di situlah seorang hamba berjalan dengan tenang di jalan menuju Tuhannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”