Melangkah Walau Rasa Menghalangi Catatan kecil tentang ikhtiar, nafs, dan tawakkal
Melangkah Walau Rasa Menghalangi
Catatan kecil tentang ikhtiar, nafs, dan tawakkal
Di jalan-jalan kampung aku sering belajar banyak hal. Bukan hanya tentang berdagang atau mencari rezeki, tetapi tentang memahami diriku sendiri. Setiap kali melihat orang duduk santai, orang berkumpul, atau seorang tua yang mungkin membutuhkan kacamata, ada dua suara yang sering muncul di dalam diri.
Satu suara berkata:
“Singgahlah. Sampaikan salam. Tawarkan dengan baik.”
Tetapi suara yang lain kadang berbisik:
“Jangan dulu… mungkin mereka sibuk… mungkin mereka tidak mau… nanti saja.”
Di situlah aku mulai belajar bahwa di dalam diri manusia memang ada dorongan yang berbeda. Ada dorongan yang mengajak bergerak, dan ada pula dorongan yang menahan langkah dengan rasa ragu, malu, atau gengsi.
Jika mengikuti rasa itu terus, langkah sering berhenti. Kesempatan lewat begitu saja. Setelah itu yang tersisa hanyalah penyesalan kecil: mengapa tadi tidak singgah?
Karena itu aku mencoba membuat satu keputusan sederhana dalam hati:
Lebih baik ditolak daripada tidak mencoba.
Penolakan tidak melukai. Ia hanya bagian dari perjalanan. Tetapi tidak mencoba sering meninggalkan rasa sesal yang lebih lama.
Aku juga belajar bahwa tugas manusia sebenarnya bukan memastikan hasil. Tugas manusia hanyalah melangkah dan berusaha dengan cara yang baik. Hasilnya berada di tangan Allah.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini seperti memberi penegasan: setelah niat baik dan usaha dilakukan, jangan lagi terlalu sibuk memikirkan hasil. Serahkan kepada Allah yang Maha Mengatur rezeki.
Kadang tubuh merasa lelah. Kadang panas, kadang hujan. Kadang juga terasa sepi, seolah tidak ada yang membutuhkan. Namun perlahan aku mulai memahami bahwa lelah juga bagian dari kehidupan. Ia bukan musuh, melainkan tanda bahwa tubuh sedang bekerja.
Ramadhan mengajarkan kesabaran itu dengan sangat nyata. Dalam keadaan lapar dan haus, langkah tetap berjalan. Justru di situ terasa bahwa manusia sebenarnya mampu bertahan lebih kuat daripada yang ia kira.
Di perjalanan ini aku juga melihat banyak keadaan manusia. Ada yang sibuk bermain, ada yang merokok, ada yang menghabiskan waktu tanpa tujuan. Melihat semua itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Aku hanya mengambil pelajaran bahwa manusia memang mudah lalai jika tidak menjaga dirinya.
Dan aku bersyukur jika Allah memberi sedikit kesadaran untuk terus memperbaiki diri.
Akhirnya aku menyadari satu hal sederhana:
rezeki sering datang kepada orang yang tetap melangkah.
Bukan kepada yang paling kuat, bukan kepada yang paling pandai, tetapi kepada yang tidak berhenti berusaha.
Karena itu aku ingin terus mengingatkan diriku sendiri dengan prinsip sederhana:
Lihat orang → singgah → salam → tawarkan → tawakkal.
Jika diterima, itu karunia Allah.
Jika ditolak, itu juga bagian dari latihan kesabaran.
Yang penting langkah tetap ada, hati tetap rendah, dan niat tetap lurus.
Semoga Allah menjaga hati dari ujub dan kesombongan, menjaga langkah dari rasa malas, serta memberikan keberkahan pada setiap usaha kecil yang dilakukan.
Wallahu a'lam bissabab.
Komentar
Posting Komentar