Dari Banyak Alasan Menuju Disiplin: Belajar Mengendalikan Nafsu dalam Perjalanan
Dari Banyak Alasan Menuju Disiplin: Belajar Mengendalikan Nafsu dalam Perjalanan
Bismillahirrahmanirrahim.
Jika saya melihat ke belakang, ada satu hal yang perlahan saya sadari:
dulu saya sering punya alasan.
Ketika di lapangan menghadapi kendala, hati terasa berat.
Langkah menjadi lambat.
Dan akhirnya pulang dengan berbagai pembenaran.
Seolah-olah kondisi di luar menjadi penentu langkah saya.
Namun sekarang, dengan pemahaman yang masih sangat terbatas, saya mencoba belajar sesuatu yang berbeda: menjalankan waktu, bukan mengikuti rasa.
Ketika Rasa Tidak Lagi Diikuti
Beberapa hari terakhir, saya mencoba tetap berada di lapangan sesuai waktu yang telah saya niatkan.
Ada hasil atau tidak, tetap dijalani.
Mudah atau tidak, tetap dilanjutkan.
Dan ternyata, yang berubah bukan hanya hasil, tetapi cara melihat proses itu sendiri.
Dulu pulang terasa seperti beban.
Sekarang pulang terasa lebih tenang.
Bukan karena semuanya berhasil,
tetapi karena sudah berusaha menjalankan apa yang seharusnya dijalankan.
Belajar Mengendalikan Nafsu
Saya mulai melihat bahwa seringkali yang menghalangi bukan keadaan, tetapi dorongan dalam diri:
ingin cepat selesai
ingin yang mudah
ingin menghindari penolakan
Dan dorongan itu terasa nyata.
Namun ketika tidak diikuti, ternyata perlahan hilang.
Seperti gelombang yang datang, lalu pergi.
Dari sini saya mulai memahami—dengan pemahaman yang masih sangat terbatas—bahwa nafsu bukan untuk dihilangkan, tetapi untuk dikendalikan.
Perubahan yang Terasa di Rumah
Hal lain yang saya rasakan, ketika pulang ke rumah, saya menjadi lebih banyak diam.
Bukan karena tidak peduli,
tetapi lebih kepada ingin menjaga diri.
Tetap mengingatkan anak untuk sholat.
Tetap memperhatikan hal-hal sederhana di rumah.
Tetapi tidak banyak berbicara hal yang tidak perlu.
Saya juga belum memahami sepenuhnya apakah ini sudah tepat,
namun saya mencoba menjaga keseimbangan: antara diam dan perhatian.
Rezeki dan Ketenangan
Di sisi lain, saya melihat sesuatu yang menenangkan hati.
Rezeki tetap ada, walaupun tidak besar.
Keluarga juga menerima dengan lapang.
Dan di situ saya belajar bahwa:
ketenangan tidak selalu datang dari banyaknya hasil,
tetapi dari cara menjalani proses.
Renungan untuk Diri
Dari perjalanan kecil ini, saya mulai memahami:
Bahwa selama ini saya sering kalah bukan karena keadaan,
tetapi karena mengikuti rasa.
Dan mungkin, latihan terbesar bukan pada hasil,
tetapi pada mengendalikan diri sendiri.
Penutup
Saya menyadari perjalanan ini masih sangat panjang.
Apa yang saya rasakan hari ini, bisa jadi baru langkah awal.
Masih banyak kekurangan.
Masih banyak yang perlu diperbaiki.
Namun setidaknya, saya sedang belajar:
menjalani waktu dengan disiplin
tidak mudah mengikuti dorongan sesaat
dan mencoba tetap berjalan walau perlahan
Semoga Allah menjaga langkah ini, meluruskan niatnya, dan mengampuni kekurangan dalam proses ini.
Wallahu a’lam bissawab.
Komentar
Posting Komentar