Perjalanan Panjang Untuk Menemukan Kesadaran

Pendahuluan

“Tulisan ini adalah refleksi proses pribadi, bukan rujukan praktik.”

Tulisan ini adalah refleksi pribadi tentang bagaimana Allah ﷻ membentuk pola pikir dan kesadaran saya melalui berbagai guru, lingkungan, bacaan, dan pengalaman hidup sejak kecil hingga dewasa. Ini bukan pengakuan kebenaran diri, bukan pula ajakan mengikuti jalan tertentu, melainkan catatan proses agar saya dan pembaca memahami bahwa kesadaran tidak lahir dari satu guru, satu buku, atau satu fase, tetapi dari rangkaian panjang yang berada dalam izin dan penjagaan Allah.


1. Pondasi Awal: Orang Tua dan Ibadah Dasar

Peranan paling awal dan paling menentukan adalah kedua orang tua. Sejak SD kelas 2, saya dibiasakan sholat lima waktu dan puasa penuh satu bulan Ramadhan. Pada fase ini:

  • Ibadah belum didasari pemahaman mendalam

  • Tetapi pola disiplin, takut kepada Allah, dan rasa kewajiban sudah tertanam

Inilah fondasi penting: sebelum akal mencari, tubuh sudah tunduk.


2. Fase Pencarian Awal: Spiritual Tradisional dan Campuran (SD–SMP)

Pada masa SD hingga SMP, saya mulai mengenal dunia spiritual melalui:

  • Guru-guru spiritual kampung

  • Praktik pengobatan tradisional

  • Dukun yang mencampur spiritual dengan khurafat

Fase ini membentuk:

  • Kepekaan rasa

  • Rasa ingin tahu terhadap hal gaib

  • Tetapi juga menanamkan kebingungan antara agama dan budaya

Ini adalah fase pencarian tanpa peta.


3. Fase Akal dan Pikiran: Buku, Filsafat, dan Pengembangan Diri (SMA–S2)

Memasuki SMA hingga selesai S2, pengaruh terbesar datang dari bacaan:

  • Buku berpikir besar, motivasi, kepemimpinan

  • Buku filsafat

  • Buku pengobatan, sulap, strategi bisnis

  • Artikel, koran, dan buletin (ratusan judul)

Dampaknya:

  • Akal menjadi aktif dan kritis

  • Logika berkembang

  • Tetapi hati mulai lelah dan kering karena terlalu banyak konsep

Ilmu bertambah, tetapi arah belum tentu lurus.


4. Fase Penegasan Aqidah: Wahdah Islamiyah dan Salafi

Di sela fase pencarian akal, Allah menghadirkan benteng aqidah melalui:

  • Wahdah Islamiyah (sejak SMA kelas 3, aktif kembali pasca S2)

  • Kajian salafi (ustadz Khalid Basalamah, ustadz Reza Basalamah, dll)

Di sini saya belajar:

  • Tauhid yang tegas

  • Fiqih yang membumi

  • Batas jelas antara sunnah dan bid’ah

Ini menjadi rem agar pencarian tidak keluar jalur.


5. Fase Multimedia: YouTube, Debat, Motivator, dan Spiritual Populer

Pada fase dewasa, pengaruh datang dari berbagai arah:

  • Motivator (Ari Ginanjar, dll)

  • Tokoh kesadaran Islam (Buya Syakur, Saeful Karim)

  • Ustadz populer dan artis

  • Kajian selawat intens (hingga puluhan ribu per hari)

  • Spiritual modern (mirroring, bening, magnet rezeki)

  • Bahkan mempelajari aliran sesat dan Syiah sekadar untuk tahu, bukan mendalami

Fase ini memperkaya wawasan, tetapi juga:

  • Menambah risiko pencampuran konsep

  • Menguji kemurnian niat dan aqidah


6. Peranan Guru-Guru Kesadaran

Tokoh-tokoh kesadaran seperti:

  • Riko Hutama (mirroring, bening)

  • Teh Febi

  • Pak Wayang

dan lainnya, memberi pelajaran penting:

  • Tentang kehadiran

  • Tentang pengamatan diri

Namun melalui proses, Allah menuntun saya untuk meluruskan makna:

  • Dari “bening = kosong”

  • Menjadi “tenang agar dzikir fokus”

Di sinilah penyaringan terjadi.


7. Sintesis: Apa yang Sebenarnya Membentuk Kesadaran?

Kesadaran saya tidak dibentuk oleh satu guru. Kesadaran terbentuk oleh:

  1. Pondasi ibadah dari orang tua

  2. Pencarian rasa di masa kecil

  3. Aktivasi akal lewat buku dan filsafat

  4. Penegasan aqidah lewat Wahdah dan Salafi

  5. Ujian pencampuran konsep di fase dewasa

  6. Penyaringan akhir: dzikir, tauhid, dan adab

Semua itu terjadi dalam izin Allah.


Penutup

Saya menyadari:

  • Jika bukan karena Allah, pencarian ini bisa menyesatkan

  • Jika bukan karena benteng aqidah, ilmu bisa menjadi racun

  • Jika bukan karena dzikir, akal bisa sombong

Kesadaran bukan tujuan akhir. Kesadaran hanyalah alat untuk tunduk lebih jujur kepada Allah.

Jika ada kebenaran dalam tulisan ini, itu dari Allah. Jika ada kekeliruan, itu dari keterbatasan saya.

Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”