TANYA–JAWAB: Memahami Wujud, Sosok, dan Zat dalam Islam
TANYA–JAWAB: Memahami Wujud, Sosok, dan Zat dalam Islam
Tanya 1: Apa itu wujud?
Jawab:
Wujud artinya ada atau eksistensi.
Sesuatu yang wujud belum tentu bersosok atau berbentuk.
Dalam Islam, Allah itu ada (wujud), bahkan Dia adalah Yang Pasti Ada (Al-Wājibul Wujūd). Keberadaan Allah diyakini dengan iman, bukan dengan bayangan atau gambaran.
Tanya 2: Apakah wujud sama dengan sosok?
Jawab:
Tidak.
Wujud ≠ sosok.
Wujud: keberadaan
Sosok: bentuk, rupa, figur yang bisa dibayangkan
Banyak kekeliruan terjadi karena orang menyamakan “Allah itu ada” dengan “Allah itu bersosok”. Ini keliru.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”
(QS. Asy-Syūrā: 11)
Tanya 3: Apa itu sosok?
Jawab:
Sosok adalah bentuk atau rupa yang memiliki ciri:
arah
ukuran
posisi
bisa dibayangkan
Semua makhluk memiliki sosok.
Allah tidak bersosok.
Membayangkan Allah sebagai sosok berarti menyerupakan Allah dengan makhluk.
Tanya 4: Kalau Allah tidak bersosok, apakah berarti Allah “tidak ada”?
Jawab:
Tidak. Ini kesalahpahaman umum.
Allah ada (wujud), tetapi tidak seperti makhluk.
Keterbatasan manusia bukan ukuran keberadaan Allah.
Allah tidak bisa dibayangkan, bukan karena Dia tidak ada, tetapi karena Dia Maha Agung dan melampaui bayangan.
Tanya 5: Lalu apa itu zat (Dzat)?
Jawab:
Zat adalah hakikat keberadaan sesuatu.
Allah memiliki Dzat, namun hakikat Dzat Allah tidak bisa diketahui oleh makhluk. Kita hanya menetapkan bahwa Allah memiliki Dzat, tanpa membahas bagaimana (bilā kayf).
Ini adalah prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Tanya 6: Bagaimana dengan ayat seperti “Yadullāh” (tangan Allah)?
Jawab:
Ayat-ayat sifat seperti ini:
Ditetapkan sebagaimana datangnya
Tidak ditolak
Tidak diserupakan
Tidak dibayangkan
Kita meyakini maknanya, tetapi tidak membayangkan sosoknya.
Allah Maha Mendengar — bukan berarti punya telinga seperti makhluk
Allah Maha Melihat — bukan berarti punya mata seperti makhluk
Tanya 7: Apakah salah jika dulu pernah membayangkan Allah sebagai sosok?
Jawab:
Tidak berdosa jika karena ketidaktahuan, dan itu sangat umum terjadi.
Yang penting:
Menyadari kekeliruan
Meluruskan pemahaman
Kembali pada Qur’an dan Sunnah
Allah Maha Pengampun dan Maha Lembut kepada hamba-Nya yang ingin lurus.
Tanya 8: Mengapa sekarang saya lebih fokus ke arti kata, bukan kalimat panjang?
Jawab:
Karena pemahaman sedang dimurnikan.
Kata adalah akar makna.
Jika istilahnya lurus, pemahaman akan lurus.
Jika istilahnya keliru, pemahaman bisa menyimpang meski niatnya baik.
Ini bukan tanda merasa paling benar, tapi tanda takut salah dalam iman.
Tanya 9: Mengapa sekarang membaca harus utuh dan pelan?
Jawab:
Karena tujuan membaca berubah:
Dulu: mencari
Sekarang: memastikan kebenaran
Orang yang ingin selamat dalam aqidah akan berhenti di batas dalil dan tidak tergesa-gesa.
Tanya 10: Kesimpulan singkatnya apa?
Jawab:
- Allah ada (wujud)
- Allah memiliki Dzat
- Allah tidak bersosok
- Allah tidak serupa dengan makhluk
- Allah diyakini, bukan dibayangkan
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup Blog
Ketika pemahaman tentang Allah diluruskan, ibadah menjadi lebih tenang, shalat lebih khusyuk, dan hati lebih damai. Bukan karena merasa tahu hakikat Allah, tetapi karena berhenti di tempat yang Allah izinkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Komentar
Posting Komentar