Hidayah dari Allah, Lalu di Mana Posisi Hati (Qalb)?

Hidayah dari Allah, Lalu di Mana Posisi Hati (Qalb)?

Sering muncul pertanyaan di dalam diri:

Jika hidayah datang dari Allah, lalu mengapa ada orang yang menerima dan ada yang menolak? Apakah hati manusia berperan?

Pertanyaan ini penting, karena jika keliru memahaminya, seseorang bisa tergelincir ke dua sisi ekstrem:

menganggap manusia menentukan segalanya, atau sebaliknya menganggap manusia tidak memiliki tanggung jawab sama sekali.

Islam datang dengan penjelasan yang seimbang dan menenangkan.

Hidayah: Murni Pemberian Allah

Dalam Islam, hidayah bukan hasil olah pikir, rasa, atau latihan batin manusia.

Hidayah adalah pemberian langsung dari Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini menegaskan:

Nabi ﷺ tidak bisa memberi hidayah

Guru, ulama, dan orang saleh tidak bisa memberi hidayah

Apalagi manusia biasa

Sumber hidayah hanya Allah.

Lalu, Apa Peran Hati (Qalb)?

Hati bukan pencipta hidayah, tetapi tempat diterimanya hidayah.

Allah berfirman:

“Bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati (qalb) yang ada di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46)

Artinya:

Hidayah datang dari Allah

Tetapi diterima atau tertutup di dalam qalb

Hati seperti jendela:

Cahaya berasal dari matahari (Allah)

Jendela tidak menciptakan cahaya

Tapi jendela bisa dibuka atau ditutup

Apakah Hati Bisa Menolak Hidayah?

Jawabannya: bisa secara fungsi, tetapi tidak secara mutlak.

Allah berfirman:

“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.”

(QS. Ash-Shaff: 5)

Ayat ini menunjukkan urutan yang halus:

Manusia berpaling (sikap hati)

Allah membiarkan dan memalingkan hatinya (keputusan Allah)

Artinya:

Manusia bertanggung jawab atas sikap hatinya

Allah menetapkan hasil akhirnya dengan keadilan

Namun, kemampuan hati untuk menerima atau menolak itu sendiri tetap ciptaan Allah, bukan kekuatan mandiri manusia.

Kehendak Manusia di Bawah Kehendak Allah

Islam mengajarkan keseimbangan:

Allah berfirman:

“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.”

(QS. At-Takwir: 29)

Maknanya:

Manusia punya kehendak dan pilihan

Tapi kehendak itu berada di bawah kehendak Allah

Tidak ada yang keluar dari kekuasaan-Nya

Inilah jalan tengah Ahlus Sunnah:

Tidak meniadakan tanggung jawab manusia

Tidak pula menyaingi kehendak Allah

Mengapa Allah Memberi Hidayah kepada Sebagian Orang?

Allah Maha Adil dan tidak menzalimi siapa pun.

Allah berfirman:

“Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”

(QS. Yunus: 44)

Dan:

“Adapun orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Artinya:

Allah melihat kejujuran, kerendahan hati, dan kesungguhan

Bukan kepintaran, bukan pengalaman batin, bukan klaim kesadaran

Rumusan Aqidah yang Aman dan Menenangkan

Kalimat yang lurus dan selamat adalah:

“Hidayah datang dari Allah, hati hanya menerima atau menolak sesuai kehendak Allah, dan Allah tidak menzalimi siapa pun.”

Atau:

“Allah memberi hidayah, manusia bertanggung jawab atas sikap hatinya, dan keputusan akhir milik Allah.”

Penutup

Hidayah bukan rasa, bukan ilham, bukan pengalaman batin.

Hidayah adalah ketaatan yang dimudahkan, maksiat yang dijauhkan, dan hati yang tunduk.

Semakin seseorang berhidayah, biasanya ia:

tidak merasa istimewa

tidak sibuk menilai dirinya

justru merasa sebagai hamba biasa yang butuh Allah setiap saat

Dan itulah tanda keselamatan.

Hidayah tidak membuat kita merasa “sampai”, tapi membuat kita terus patuh.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”