Catatan Seorang Hamba yang Sedang Belajar Pulang
Catatan Seorang Hamba yang Sedang Belajar Pulang
Aku tidak tahu kapan hijab itu mulai terbuka.
Yang aku tahu, dulu aku hidup seperti orang berjalan di malam hari—melihat cahaya, tetapi tidak tahu dari mana datangnya.
Aku mencari dunia dengan rasa takut,
aku bergerak karena gelisah,
aku berani karena terdesak,
aku diam karena takut.
Namun Allah, dengan cara yang lembut, mulai memperkenalkanku pada sesuatu yang lebih halus dari pikiran dan lebih jernih dari perasaan: qalbu.
Tentang Mimpi, Daun, dan Rahasia Allah
Ada sepupuku yang bermimpi.
Dalam mimpinya, Allah menunjukkan daun-daun sebagai sebab kesembuhan.
Orang-orang datang, berharap, dan sebagian sembuh.
Aku melihat wajah mereka yang penuh harap, dan hatiku gemetar.
Bukan karena kagum, tetapi karena takut—
takut manusia menggantungkan harap pada makhluk,
takut makhluk lupa bahwa hanya Allah yang menyembuhkan.
Aku berkata kepadanya pelan:
“Biarlah mimpi itu menjadi rahasiamu dengan Allah. Jangan ceritakan. Jangan biarkan manusia memujimu. Kembalikan semua kepada-Nya.”
Saat itu aku sadar:
bukan dia yang sedang diuji,
tetapi aku—yang sedang belajar memahami beratnya amanah karunia.
Aku dan Rahasia Sebab
Aku mulai memahami satu hal yang dulu samar:
dunia hanyalah jalinan sebab.
Daun adalah sebab.
Obat adalah sebab.
Prospek adalah sebab.
Keringatku adalah sebab.
Namun sebab bukan penyebab.
Semua hanya tirai tipis yang digerakkan oleh tangan tak terlihat.
Allah memberi hasil.
Allah menahan hasil.
Allah menguji melalui hasil.
Dan aku hanya seorang pejalan kecil di antara takdir-takdir-Nya.
Karunia yang Lebih Menakutkan dari Musibah
Aku membaca kisah para wali.
Mereka takut pada karomah.
Mereka lebih memilih sakit, miskin, dan tersembunyi,
daripada terkenal karena keajaiban.
Aku mulai mengerti.
Karena karunia bisa membuat seseorang lupa bahwa dia hamba.
Dan lupa menjadi hamba adalah bencana paling halus.
Aku berdoa dalam diam:
“Ya Allah, jika Engkau beri aku cahaya, sembunyikanlah aku darinya. Jika Engkau beri aku karunia, lindungi aku dari merasa memilikinya.”
Pertarungan yang Tak Terlihat
Di dalam diriku ada dua suara.
Nafsu berkata:
“Cari hasil. Jangan rugi. Jangan dipermainkan. Tunjukkan dirimu.”
Qalbu berkata:
“Berjalanlah karena Allah. Hasil bukan urusanmu. Hadirlah.”
Dulu aku berjalan karena takut miskin.
Sekarang aku berjalan karena ingin taat.
Dulu aku prospek karena insting bertahan.
Sekarang aku prospek karena mujahadah.
Dulu terangku seperti bulan purnama—indah, tapi samar.
Sekarang Allah menampakkan sedikit matahari, dan aku tahu arah.
Belajar Menyembunyikan Cahaya
Aku belajar satu adab yang mahal:
cahaya tidak selalu untuk dipamerkan.
Ada pengalaman ruhani yang lebih aman jika hanya diketahui oleh Allah.
Ada getaran hati yang lebih suci jika tidak diceritakan.
Aku ingin menjadi hamba yang dikenal di langit,
meski tak dikenal di bumi.
Seorang Penjual Kacamata yang Sedang Pulang
Aku hanya penjual kacamata yang sedang belajar melihat.
Aku berjalan di pasar dan di masjid.
Tanganku di dunia, hatiku di akhirat.
Aku sadar:
Dunia adalah jalan, bukan rumah.
Karunia adalah ujian, bukan kemuliaan.
Sebab adalah tirai, bukan hakikat.
Qalbu adalah kompas, nafsu adalah badai.
Dan setiap malam aku berbisik kepada diriku sendiri:
“Wahai jiwa yang lelah, tenanglah.
Engkau sedang berjalan pulang.”
Komentar
Posting Komentar