Dari Pasrah Buntu ke Tawakkal Sadar
Dari Pasrah Buntu ke Tawakkal Sadar
Ada masa dalam hidup ketika kita pasrah karena sudah tidak tahu harus berbuat apa. Semua pintu terasa tertutup. Tenaga habis. Pikiran buntu. Saat itu kita menyebutnya pasrah, padahal yang terjadi sering kali hanyalah lelah tanpa pemahaman.
Namun waktu berjalan. Ujian demi ujian datang. Perlahan muncul satu hal yang berbeda: kesadaran.
Kesadaran ini bukan berarti masalah hilang. Tagihan tetap ada. Hujan tetap turun. Rencana tetap bisa tertunda. Tetapi ada sesuatu yang berubah di dalam: hati menjadi lebih tenang.
Saya mulai memahami bahwa di dalam diri ini ada banyak unsur yang bekerja:
Tubuh punya keterbatasan dan reaksi
Pikiran suka menebak-nebak
Rasa bisa naik turun
Nafsu ingin cepat dan nyaman
Setan membisiki ketakutan
Dulu semua ini bercampur dan saling tarik-menarik. Sekarang saya belajar melihatnya apa adanya. Tidak dilawan, tidak diikuti membabi buta.
Hati tetap menghadap Allah. Tubuh tetap bergerak semampunya. Pikiran dipakai untuk mencari jalan, bukan menakuti diri. Rasa hadir, tapi tidak memimpin.
Di sinilah saya memahami perbedaan besar antara:
Pasrah karena buntu, dan
Tawakkal karena sadar.
Tawakkal bukan berarti menunggu tanpa usaha. Tawakkal adalah bergerak dengan adab, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Kadang satu pintu tertutup, seperti hujan yang menghalangi langkah. Tapi ternyata pintu lain terbuka: online, silaturahmi, atau sekadar menunggu jeda. Rezeki tidak selalu datang dari arah yang kita rencanakan.
Saya juga belajar dari membaca. Buku apa pun bisa dibaca, tapi tidak semua harus ditelan. Yang baik diambil, yang tidak baik ditinggalkan. Kompasnya tetap satu: Al-Qur’an, Sunnah, dan hati yang jernih.
Akhirnya saya sadar, selama ini Allah sudah menolong berkali-kali. Rumah terbayar. Kebutuhan terpenuhi. Solusi selalu ada. Hanya saja dulu saya belum menyadarinya.
Kini langkah terasa lebih ringan. Bukan karena hidup mudah, tapi karena hati tahu ke mana harus bersandar.
Semoga kita semua diberi pemahaman untuk terus berusaha dengan jujur, bertawakkal dengan sadar, dan berjalan di jalan tauhid dengan tenang.
Wallahu a’lam bissabab.
Komentar
Posting Komentar