Mengejar Dunia, Mengejar Akhirat: Pergeseran Kesadaran Seorang Pedagang Kacamata
Mengejar Dunia, Mengejar Akhirat: Pergeseran Kesadaran Seorang Pedagang Kacamata
Prolog Subuh: Kesadaran yang Terbit Bersama Cahaya Fajar
Subuh hari itu, setelah rakaat terakhir dan doa yang panjang, sebuah kalimat terlintas kuat di benak: “Kejar akhirat, dunia akan ikut.” Aku menyadari, selama bertahun-tahun aku bekerja, berkeliling menjajakan kacamata, tetapi orientasi batinku sering terpaku pada hasil. Ketika hasil tidak datang, hatiku gelisah; ketika hasil datang, hatiku terikat. Di saat itulah aku mengerti bahwa yang perlu diubah bukan aktivitas lahir, melainkan niat dan orientasi qalbu.
1. Dunia dan Akhirat dalam Perspektif Tasawuf Klasik
Para ulama tasawuf sepakat bahwa dunia dan akhirat bukan sekadar dua tempat, tetapi dua orientasi kesadaran (tawajjuh al-qalb).
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis bahwa dunia adalah mazra‘ah al-akhirah (ladang akhirat). Dunia menjadi tercela ketika ia menguasai hati, bukan ketika ia berada di tangan.
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa dunia adalah segala sesuatu yang melalaikan dari Allah, sedangkan akhirat adalah segala sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya. Maka satu pekerjaan bisa bernilai dunia atau akhirat, tergantung niat, kesadaran, dan ketergantungan batin.
2. Qalbu sebagai Raja, Nafs sebagai Rakyat, Ruh sebagai Amanah Ilahi
Dalam tasawuf klasik, struktur batin manusia digambarkan sebagai kerajaan:
Ruh: asal cahaya dari Allah, membawa fitrah tauhid sebagaimana perjanjian Alastu bi Rabbikum.
Qalbu: pusat kesadaran dan keputusan, disebut Nabi sebagai segumpal daging yang menentukan baik-buruk seluruh tubuh.
Nafs: dorongan instinktif, bisa menjadi nafs al-ammarah (mengajak pada dunia), nafs al-lawwamah (mencela diri), hingga nafs al-mutma’innah (tenang dalam Allah).
Aql (akal): alat memahami, menimbang, dan merumuskan strategi hidup.
Jika qalbu tunduk kepada ruh (fitrah tauhid), maka nafs tunduk dan tertib. Jika qalbu tunduk kepada nafs, maka ruh tertutup hijab.
3. Mengejar Dunia: Ketika Nafs Menjadi Raja
Pada fase awal hidupku sebagai pedagang, prospek kulakukan karena dorongan kebutuhan, ketakutan, dan kegelisahan. Aku singgah ke rumah orang bukan karena niat ibadah, tetapi karena takut tidak punya uang. Inilah yang disebut para sufi sebagai ubudiyyah al-hajah (penghambaan pada kebutuhan).
Al-Ghazali menyebut kondisi ini sebagai hubb al-dunya (cinta dunia), yang tidak berarti memiliki dunia, tetapi bergantung secara batin kepada dunia.
4. Momen Pergeseran: Subuh dan Reorientasi Niat
Pada suatu subuh, aku merenung tentang ayat: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Aku sadar bahwa menjual kacamata pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan sebagai amanah, pelayanan, dan ikhtiar mencari ridha Allah.
Di sinilah aku memahami konsep niyyah al-ma‘rifah dalam tasawuf: niat yang lahir dari kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas.
5. Mengejar Akhirat: Dunia Menjadi Alat, Bukan Tujuan
Setelah pergeseran itu, prospek kulakukan sebagai bentuk mujahadah dan khidmah. Hasil tidak lagi menjadi pusat makna. Aku belajar melihat konsumen sebagai amanah, bukan target. Aku belajar melihat rezeki sebagai keputusan Allah, bukan semata hasil strategi.
Ibn Ata’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam berkata: “Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu; apa yang telah diatur untukmu tidak akan luput darimu.” Ini bukan ajakan pasif, tetapi ajakan melepaskan ketergantungan batin.
6. Dunia Ikut Akhirat: Pengalaman Magnet Rezeki
Aku merasakan fenomena yang oleh sebagian orang disebut “magnet rezeki”. Dalam tasawuf, ini dipahami sebagai barakah al-tawajjuh: ketika orientasi qalbu tertuju kepada Allah, maka urusan dunia menjadi mudah dan teratur.
Hadis menyebutkan bahwa siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, Allah mengumpulkan urusannya dan dunia datang kepadanya. Aku merasakan ini dalam bentuk ketenangan, kemudahan bertemu orang, dan rezeki yang cukup pada waktu yang tepat.
7. Kesabaran, Ketaatan, dan Disiplin sebagai Buah Tauhid
Dalam shalat, sabar bukan hanya fisik, tetapi keselarasan ruh, qalbu, akal, rasa, dan tubuh dalam ketaatan. Jika qalbu bijaksana, seluruh anggota kerajaan batin tunduk.
Para sufi menyebut ini sebagai al-insijam al-batini (harmoni batin), di mana nafs tidak lagi memberontak, akal melayani qalbu, dan ruh menjadi sumber cahaya.
Epilog: Pedagang yang Pulang ke Akhirat
Aku masih berjalan di pasar, masih menawarkan kacamata, masih menghitung modal dan keuntungan. Tetapi orientasi batinku berubah. Dunia tidak lagi di dada, ia berada di tangan. Dada ini kini mencoba menghadap akhirat.
Seorang sufi berkata: “Berjalanlah di bumi dengan kakimu, tetapi tinggallah di langit dengan hatimu.” Inilah perjalanan seorang pedagang kacamata yang perlahan belajar pulang kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar