Judul: Sore yang Mengajarkan Saya Tentang Tenang
Judul: Sore yang Mengajarkan Saya Tentang Tenang
Sore ini tidak ada yang istimewa.
Langit biasa saja.
Angin pun tidak terlalu kencang.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalam diri saya.
Tubuh terasa pegal.
Pinggang nyeri ringan.
Tangan seperti habis mengangkat beban panjang.
Mata mengantuk, pikiran sedikit berat.
Dulu, kondisi seperti ini akan saya lawan.
Saya paksa diri untuk tetap bergerak, tetap prospek, tetap mengejar.
Karena dalam kepala saya waktu itu hanya ada satu kalimat:
“Kalau saya berhenti, rezeki berhenti.”
Sore ini berbeda.
Saya duduk.
Saya rasakan tubuh saya.
Saya akui kelelahan itu.
Dan untuk pertama kalinya, saya tidak marah pada diri sendiri karena ingin istirahat.
Saya berkata dalam hati:
“Kalau tubuh ini amanah, maka ia juga punya hak.”
Belum lama niat itu terlintas, tiba-tiba kabar datang.
Ada yang meminta nomor rekening untuk mengirim sedikit rezeki.
Ada konsumen yang ingin mengganti lensa.
Saya terdiam.
Bukan karena nominalnya besar.
Tetapi karena pelajarannya dalam.
Rezeki ternyata tidak selalu menunggu saya berlari.
Ia datang atas izin-Nya, bukan semata karena saya mengejar.
Sore ini saya belajar lagi tentang tawakal.
Dulu saya bekerja dengan gelisah.
Kalau dapat uang, hati melonjak tinggi.
Kalau tidak dapat, wajah seperti orang kalah perang.
Rumah ikut naik turun mengikuti ekspresi saya.
Ada rasa ingin diakui.
Ada rasa ingin terlihat mampu.
Ada kebanggaan halus ketika hasil datang.
Dan ada rasa malu ketika hasil tidak ada.
Sekarang saya melihat itu sebagai kabut.
Kabut yang dulu menutup matahari dalam diri saya.
Saya kira itu semangat.
Ternyata itu kegelisahan.
Saya kira itu percaya diri.
Ternyata itu ego yang takut dianggap gagal.
Hari ini, ketika dapat — saya tenang.
Ketika tidak dapat — saya tetap tenang.
Istri dan anak tidak lagi bisa membaca isi dompet dari wajah saya.
Kalau saya memberi, mereka tahu ada.
Kalau saya tidak memberi, mereka tahu belum ada.
Tanpa desakan.
Tanpa cemberut.
Tanpa drama.
Saya tidak tahu kapan tepatnya perubahan ini terjadi.
Mungkin sejak doa yang saya ulang dua puluh tahun lalu perlahan dijawab.
“Ya Allah, lembutkan hatiku dan hati keluargaku.”
Saya dulu meminta hati istri dilembutkan.
Ternyata Allah melembutkan saya lebih dulu.
Mungkin selama ini yang keras bukan hanya dia.
Saya juga keras.
Hanya saja keras saya tersembunyi di balik logika, gelar, dan pembelaan diri.
Saya pernah bangga dengan titel.
Saya pernah merasa mampu mengatur semuanya.
Saya pernah sulit menerima kritik.
Hari ini saya sadar:
Ilmu tanpa ketenangan hanya melahirkan kecemasan yang lebih terstruktur.
Sore ini saya juga belajar tentang doa.
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”
Dulu saya mengira dikabulkan berarti diberi sesuai bentuk yang saya bayangkan.
Sekarang saya mulai memahami:
Dikabulkan bisa berarti dibentuk.
Saya meminta hasil.
Allah memberi proses.
Saya meminta perubahan orang lain.
Allah mengubah kapasitas hati saya.
Saya meminta kelapangan.
Allah memberi ketenangan terlebih dahulu.
Dan ternyata ketenangan jauh lebih mahal daripada kelapangan.
Karena dengan tenang, saya bisa berpikir jernih.
Dengan jernih, saya bisa melihat peluang.
Dengan peluang, saya tetap bergerak.
Tetapi saya tidak lagi menggantungkan diri pada hasil gerakan itu.
Saya hanya ingin satu:
Menjalankan perintah dengan sebaik mungkin.
Sehat → bekerja maksimal.
Lelah → bekerja ringan.
Sakit → istirahat, tapi tetap berdzikir dan berniat baik.
Hasilnya?
Saya kembalikan kepada Allah.
Kalau diberi, saya bersyukur.
Kalau ditunda, saya percaya ada maksud.
Sore ini sederhana.
Tidak ada peristiwa besar.
Hanya tubuh yang minta istirahat dan hati yang minta jujur.
Tetapi di kesederhanaan itulah saya merasa sedang dididik.
Bukan dididik untuk kaya.
Bukan dididik untuk terlihat berhasil.
Tetapi dididik untuk stabil.
Karena mungkin kemenangan terbesar bukan saat kita mendapat banyak,
melainkan saat hati kita tidak lagi terguncang oleh sedikit dan banyak.
Wallahu a’lam bissabab. 🌿
Komentar
Posting Komentar