Siapa yang Menyaksikan Pikiran, Ego, dan Nafsu?

Siapa yang Menyaksikan Pikiran, Ego, dan Nafsu?

Beberapa waktu terakhir saya mulai memperhatikan sesuatu yang menarik dalam diri saya. Bukan sesuatu yang besar, hanya percikan kecil dari pemahaman yang Allah izinkan.

Ketika saya merasa malas, saya melihat rasa malas itu muncul.

Ketika ego muncul, saya juga melihatnya.

Ketika ada dorongan untuk bermain aman, saya menyadarinya.

Lalu muncul satu pertanyaan yang sangat sederhana tetapi dalam:

Jika saya bisa melihat pikiran, melihat ego, dan melihat nafsu, maka siapakah sebenarnya yang melihat semua itu?

Karena jika kita perhatikan dengan jujur, pikiran bukanlah diri kita sepenuhnya. Pikiran datang dan pergi. Kadang tenang, kadang ramai.

Begitu juga dengan nafsu. Ia muncul dengan berbagai wajah. Kadang mengajak kepada kemalasan, kadang mengajak kepada ambisi, kadang bahkan mengajak kepada sesuatu yang tampak baik tetapi sebenarnya hanya ingin memuaskan ego.

Namun di balik semua itu ada sesuatu yang diam tetapi menyaksikan.

Sesuatu yang melihat ketika pikiran berbicara.

Sesuatu yang melihat ketika nafsu bergerak.

Sesuatu yang menyadari ketika ego muncul.

Para ulama tasawuf sering menyebut keadaan ini sebagai kesadaran hati atau basirah, yaitu kejernihan hati yang mulai mampu melihat gerak-gerik dirinya sendiri.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46)

Ayat ini memberi isyarat bahwa manusia memiliki mata hati, yaitu kemampuan untuk melihat keadaan dirinya sendiri.

Namun di sinilah muncul ujian yang sangat halus.

Ketika seseorang mulai bisa melihat nafsunya, ia kadang tanpa sadar mulai kagum pada dirinya sendiri.

Ia berkata dalam hatinya:

“Aku sekarang bisa melihat ego.”

“Aku sekarang bisa mengenali nafsu.”

“Aku sekarang lebih sadar.”

Padahal pada saat itulah ego yang lebih halus sedang muncul kembali.

Kesombongan tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar seperti membanggakan harta atau keberhasilan. Ada juga kesombongan yang sangat halus: merasa lebih sadar daripada orang lain.

Para ulama tasawuf sering mengingatkan bahwa kesombongan yang paling berbahaya bukanlah kesombongan orang awam, tetapi kesombongan yang muncul pada orang yang mulai mengenal jalan ruhani.

Karena kesombongan itu tersembunyi di balik kata-kata yang tampak baik.

Ketika seseorang melihat orang lain membanggakan dirinya, ia mungkin berkata dalam hati:

“Dia sombong.”

Namun jika tidak berhati-hati, muncul bisikan yang lebih halus:

“Setidaknya aku tidak seperti dia.”

Padahal kalimat itu pun sudah mengandung benih kesombongan yang sangat lembut.

Karena itu para ulama mengajarkan satu sikap yang sangat indah: setiap kali kita melihat kesalahan orang lain, kita justru semakin melihat kelemahan diri kita sendiri.

Jika kita melihat orang sombong, kita berkata dalam hati:

“Ya Allah, mungkin dia sedang diuji dengan keberhasilan.

Dan mungkin aku sedang diuji dengan melihatnya.”

Kesadaran seperti ini menjaga hati agar tetap rendah.

Pada akhirnya saya mulai memahami satu hal kecil.

Ternyata perjalanan mengenal diri bukan perjalanan menjadi lebih hebat, tetapi perjalanan menjadi semakin kecil di hadapan Allah.

Semakin kita melihat gerak nafsu dalam diri, semakin kita sadar bahwa hati manusia sangat mudah berubah.

Hari ini kita bisa melihat ego.

Besok ego bisa kembali menyelinap tanpa kita sadari.

Karena itu keselamatan bukan pada merasa sudah sampai pada kesadaran tertentu, tetapi pada terus menjaga kerendahan hati.

Jika suatu saat kita bisa melihat pikiran kita, melihat nafsu kita, dan melihat ego kita, maka ingatlah satu hal:

yang menyaksikan semua itu bukanlah kehebatan kita, tetapi rahmat Allah yang memberi sedikit cahaya pada hati.

Dan ketika cahaya itu datang, tugas kita hanya satu: menjaganya dengan kerendahan hati.

Karena semakin seseorang dekat dengan cahaya kebenaran, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya.

Wallahu a'lam bissabab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”