Sensasi di Betis: Antara Tubuh, Pikiran, dan Nafsu

Sensasi di Betis: Antara Tubuh, Pikiran, dan Nafsu

Beberapa hari ini saya merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuh, khususnya di bagian betis.

Bukan sakit, bukan juga kram.

Namun ada sensasi halus…

seperti aliran darah yang terasa,

kadang disertai hangat ringan seperti terkena “cabe”,

dan sedikit kesemutan dari lutut ke bawah.

Awalnya saya mengira ini karena kelelahan.

Aktivitas cukup banyak, berjalan, berdiri, bahkan menstarter motor dengan kaki berulang kali.

Namun ketika malam dan pagi hari, sensasi itu masih ada.

Di situlah pikiran mulai bekerja.

“Apakah ini karena kurang gula?”

“Atau justru kelebihan gula?”

Keraguan mulai muncul.

Padahal sebelumnya, saya sudah mulai mengurangi bahkan meninggalkan minuman manis.

Tubuh terasa lebih ringan, makan lebih terkontrol.

Namun sensasi ini membuat saya kembali bertanya.

Di sinilah saya mulai belajar membedakan…

Antara sinyal tubuh,

bisikan pikiran,

dan dorongan nafsu.

Ternyata tidak semua rasa yang muncul harus langsung diikuti.

Ada rasa yang memang berasal dari tubuh—sebagai tanda lelah atau adaptasi.

Ada juga pikiran yang mencoba mencari alasan,

dan terkadang diperkuat oleh rasa was-was.

Saat bangun di waktu subuh, sensasi itu sempat tidak terasa.

Namun perlahan muncul kembali.

Di saat yang sama, ada dorongan untuk kembali tidur.

Saya memilih untuk tidak menuruti.

Saya duduk, berbaring sejenak, bahkan mengangkat kaki agar aliran darah lebih baik.

Di situ saya menyadari sesuatu:

Rasa di tubuh tetap ada,

meskipun dorongan untuk bermalas-malasan tidak saya ikuti.

Artinya, ini bukan semata nafsu.

Ini adalah tubuh yang sedang berbicara.

Tubuh yang mungkin sedang beradaptasi dari pola lama—

yang dulu terbiasa dengan gula berlebih,

menjadi lebih bersih dan sensitif.

Dulu, mungkin banyak sinyal tubuh tertutup oleh kebiasaan makan dan minum berlebihan.

Sekarang, ketika itu mulai dikurangi,

tubuh terasa lebih “hidup”… bahkan pada hal-hal kecil.

Dari sini saya belajar:

Tidak semua rasa harus ditakuti.

Tidak semua dorongan harus diikuti.

Dan tidak semua kelemahan adalah tanda kemunduran.

Kadang itu adalah proses penyesuaian.

Dan di balik itu semua, ada latihan untuk membedakan:

mana kebutuhan,

mana kebiasaan,

dan mana sekadar bisikan.

Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk memahami diri,

menjaga amanah tubuh,

dan tidak mudah mengikuti apa yang hanya terasa benar, tetapi belum tentu benar.

Wallahu a’lam bishshawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”