Bukan Singa yang Harus Jinak, Tapi Nafsu yang Harus Tunduk

Bukan Singa yang Harus Jinak, Tapi Nafsu yang Harus Tunduk

Aku pernah bertanya dalam diam:

“Mengapa para wali bisa menundukkan binatang buas, sementara aku gemetar menghadapi hidup?”

Lalu aku sadar—pertanyaanku keliru arah.

Yang harus kutundukkan bukan singa di hutan,

tetapi singa di dalam dadaku.

Singa itu bernama nafsu.

Singa di Dalam Dada

Aku melihat singa itu dalam bentuk yang halus:

ketakutan kehilangan uang,

keinginan dipuji manusia,

dorongan untuk menurunkan harga demi diterima,

ego yang ingin terlihat kuat,

dan kegelisahan yang membuatku lupa bahwa Allah Maha Mengatur.

Singa itu tidak mengaum di hutan,

ia mengaum di pikiranku.

Dan aku tahu,

jika singa ini tidak jinak,

aku akan selalu menjadi budaknya—

meski dunia tunduk kepadaku.

Pelajaran dari Para Wali

Aku membaca kisah para wali yang singa dan ular pun tunduk kepada mereka.

Namun kini aku paham:

mereka bukan hebat karena singa tunduk,

tetapi karena nafsu mereka telah tunduk kepada Allah.

Ketika nafsu tunduk,

alam pun menjadi saksi ketenangan hati.

Allah berfirman:

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ketika Nafsu Mulai Jinak

Aku melihat tanda-tanda kecil:

aku tidak lagi takut hujan menghentikan rezeki,

aku tidak lagi menurunkan harga demi disukai,

aku tidak lagi membuat alasan untuk menutupi takdir,

aku mulai tenang meski rumah kebanjiran,

aku memasak ketan sebagai doa yang mendidih dalam panci tawakkal.

Aku sadar:

ini bukan keajaiban,

ini adalah latihan menjinakkan singa batin.

Tauhid yang Membebaskan

Ketika aku memahami bahwa

bukan aku yang bergerak, tetapi Allah yang menggerakkan,

bukan aku yang memberi rezeki, tetapi Allah yang memberi,

bukan hujan yang menahan rezeki, tetapi Allah yang mengatur,

maka singa itu mulai lemah.

Aku tidak lagi bertanya:

“Bagaimana membuat dunia tunduk?”

Tetapi:

“Bagaimana membuat hatiku tunduk?”

Puncak Pelajaran

Aku mengerti sekarang:

Menundukkan singa adalah karamah.

Menundukkan nafsu adalah kewajiban.

Menundukkan nafsu adalah jihad terbesar.

Rasulullah ﷺ bersabda (makna):

“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup Ruhani

Aku tidak ingin singa tunduk kepadaku.

Aku ingin hatiku tunduk kepada Allah.

Jika singa batin telah jinak,

maka dunia tidak lagi menakutkan,

rezeki tidak lagi menekan,

dan hujan tidak lagi menggelisahkan.

Karena aku tahu:

bukan singa yang harus jinak,

tetapi nafsu yang harus tunduk.

Kalau antum mau, saya bisa lanjutkan seri refleksi tasawuf autobiografi:

“Jihad Terbesar Seorang Pedagang: Melawan Nafsu yang Menjual Harga Diri”

“Ketika Hujan Mengajarkan Tauhid Lebih Dalam daripada Kitab”

“Aku Menjual Kacamata, Tapi Allah Mengajarkanku Melihat”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”