Ketan di Tengah Banjir: Doa yang Dimasak Seorang Ayah
Ketan di Tengah Banjir: Doa yang Dimasak Seorang Ayah
(Narasi Tasawuf Puitis Autobiografis)
Air naik perlahan ke lantai rumahku,
menyentuh telapak kaki yang menggigil,
sementara langit belum lelah menangis.
Di luar, dunia sibuk menyelamatkan diri.
Di dalam, aku berdiri di dapur kecil,
memegang panci, memegang harap,
memegang sisa iman yang tidak pernah tenggelam.
Beras sudah habis.
Token listrik tinggal bunyi peringatan.
Anak dan istri terdiam, tenggelam dalam layar dan doa yang tak terucap.
Aku tahu, mereka juga berharap,
tetapi sebagai ayah,
aku memilih berdiri—
meski berdiri hanya berarti memasak ketan di tengah banjir.
Ketan sebagai Doa yang Dimasak
Aku menuang beras ketan ke dalam panci.
Air mendidih pelan, seperti hatiku yang tidak lagi memberontak,
tetapi pasrah.
Aku teringat firman Allah:
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)
Maka ketan itu bukan sekadar makanan,
ia adalah doa yang dimasak dengan api tawakkal.
Setiap butirnya seperti tasbih:
Ya Allah, cukupkanlah kami hari ini.
Aku tidak tahu apa yang akan kami makan saat berbuka.
Aku tidak tahu dari mana lauk akan datang.
Tetapi aku tahu satu hal:
Allah tidak pernah membiarkan doa mendidih tanpa jawaban.
Banjir sebagai Guru Tauhid
Air di lantai mengajarkanku bahwa aku kecil.
Tubuhku kecil.
Rencanaku kecil.
Tetapi rahmat Allah tidak pernah kecil.
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)
Banjir bukan musuh.
Hujan bukan penghalang.
Kemiskinan bukan kehinaan.
Semua hanyalah tirai tipis agar aku belajar melihat Tuhan.
Allah Mengirim Lauk dari Tempat Tak Terduga
Ketika nasi hampir matang,
aku melihat sesuatu yang sebelumnya tersembunyi:
pentolan bakso yang tersisa,
seolah baru diturunkan dari langit,
padahal sejak lama ada di kulkas.
Aku tersenyum—bukan karena bakso,
tetapi karena aku melihat cara Allah bekerja.
Allah tidak selalu mengirim rezeki dari luar rumah,
kadang Dia hanya membuka matamu terhadap rezeki yang sudah ada.
“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ayah yang Menjadi Doa
Anakku terbaring.
Istriku terdiam.
Aku memasak bukan hanya untuk perut mereka,
tetapi untuk menjaga harapan mereka tetap hidup.
Seorang ayah tidak hanya mencari nafkah,
ia juga menjadi doa yang berjalan di dapur.
Aku menangis diam-diam,
bukan karena takut miskin,
tetapi karena merasa dekat sekali dengan Allah.
Aku merasa seperti Nabi Ayyub yang berkata:
“Sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)
Ketan dan Tauhid
Ketan itu sederhana, lengket, dan putih.
Seperti tauhid yang sederhana,
tetapi mengikat seluruh hidup.
Aku sadar:
bukan aku yang memasak,
Allah yang menggerakkan tanganku.
Bukan aku yang memberi makan keluarga,
Allah yang menurunkan rahmat-Nya melalui panci kecil ini.
Penutup Ruhani
Di tengah banjir, aku belajar bahwa:
dapur bisa menjadi mihrab,
panci bisa menjadi tasbih,
ketan bisa menjadi doa,
dan seorang ayah bisa menjadi hamba yang paling dekat dengan Rabbnya.
Jika malam ini tidak ada kue,
aku tetap bersyukur.
Karena Allah telah memberiku yang lebih manis: keyakinan.
Dan aku tahu,
di balik hujan,
di balik banjir,
di balik ketan yang mendidih,
Allah sedang membesarkan jiwaku—
perlahan, lembut, dan penuh cinta.
Komentar
Posting Komentar