Awal Pencarian Kesadaran: Dari Buku, Imajinasi, hingga Keyakinan yang Membara

Awal Pencarian Kesadaran: Dari Buku, Imajinasi, hingga Keyakinan yang Membara

1. Benih Ketertarikan yang Tumbuh Diam-Diam Sejak Kanak-Kanak

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, jauh sebelum saya mengenal istilah kesadaran, hati saya sudah tertarik pada sesuatu yang terasa dalam, sunyi, dan penuh misteri. Saya belum mampu menjelaskannya dengan kata-kata, tetapi ada dorongan kuat untuk memahami kehidupan lebih dari sekadar rutinitas harian. Sesuatu di dalam diri seakan bertanya: apa sebenarnya yang menggerakkan manusia?

Di masa kecil itu, saya sering mendengar orang-orang dewasa berbicara. Tentang orang kebal senjata, tentang mereka yang bertapa di kuburan, di hutan belantara, di gunung-gunung tinggi. Kisah-kisah itu tidak saya dengar dengan rasa takut, justru dengan rasa takjub. Dunia terasa luas, penuh kemungkinan, dan seolah menyimpan rahasia yang bisa ditemukan jika seseorang sungguh-sungguh mencari.

2. Rumah yang Penuh Buku, Jiwa yang Haus Bacaan

Karena kedua orang tua kami adalah guru—ibu guru agama dan ayah kepala sekolah—rumah kami dipenuhi buku. Buku bukan barang langka, melainkan bagian dari keseharian. Sebelum buku-buku itu dibawa ke perpustakaan sekolah, saya sudah lebih dulu “melalapnya” di rumah.

Saya membaca apa saja yang berhubungan dengan keyakinan dan tokoh-tokoh hebat. Buku doa saya baca meski belum memahami mana yang benar dan mana yang perlu disaring. Saat itu, membaca adalah kegembiraan, bukan alat seleksi kebenaran. Yang penting membaca, yang penting tahu, yang penting hati terasa hidup.

Saya membaca kisah Wali Songo, seluruh judul yang ada saya kejar. Saya membaca kisah para nabi, seolah sedang menyaksikan langsung perjalanan mereka. Buku tentang malaikat pun tak luput dari perhatian. Setiap lembar membuka ruang imajinasi, dan imajinasi itu menumbuhkan harapan: andai aku bisa seperti mereka.

3. Imajinasi, Mistik, dan Kekaguman pada “Ilmu Hebat”

Selain buku agama, saya juga membaca kisah para pejuang kemerdekaan. Buku-buku itu penuh semangat, keberanian, dan sering kali dibumbui cerita mistik: ilmu kebal, ilmu menghilang, kekuatan batin. Tanpa sadar, saya sering membayangkan diri saya sebagai tokoh dalam cerita-cerita itu.

Ketika membaca kisah nabi, saya seakan hadir di zamannya. Ketika membaca kisah wali, saya berkhayal memperoleh ilmu yang sama. Imajinasi itu tidak membuat saya melayang, justru memperdalam rasa ingin tahu tentang kekuatan manusia—bukan hanya fisik, tetapi batin.

Mungkin itulah sebabnya sejak kelas 3 SD, saya sudah rajin ke masjid. Bukan karena disuruh, bukan karena ramai, bahkan sering kali masjid itu sepi. Tetapi ada rasa damai yang tidak bisa dijelaskan. Semua yang saya baca belum menjadi pemahaman, tetapi ia menanamkan benih.

4. Memasuki Dunia Pikiran: Motivasi dan Logika yang Membakar Semangat

Memasuki jenjang SMP hingga SMA, arah bacaan saya mulai berubah. Saya mulai membaca buku-buku tentang pikiran. Buku pertama yang sangat berpengaruh adalah Berpikir dan Berjiwa Besar. Buku ini datang pada saat yang tepat, karena saya termasuk pribadi yang pemalu dan kurang percaya diri.

Isi buku itu memantik semangat besar. Saya terkesan dengan logika-logika sederhana namun menghentak. Seperti pertanyaan: bisakah memindahkan gunung? Orang awam menjawab mustahil. Tetapi buku itu menjelaskan: gunung bisa dipindahkan dengan mengangkat tanahnya sedikit demi sedikit. Logika itu mengajarkan bahwa sesuatu yang besar bisa ditaklukkan dengan langkah kecil namun konsisten.

Sejak saat itu, saya mulai percaya bahwa apa pun bisa dicapai jika kita mau. Buku motivasi mengajarkan: kalau ingin berhasil, kita akan berhasil; kalau ingin gagal, kegagalan pun akan datang. Pikiran seolah menjadi pengendali segalanya, bahkan memaksa tubuh melampaui batasnya.

5. Makassar, Buku-Buku Pikiran, dan Semangat yang Menggebu

Saat SMA dan menetap di Makassar, semangat membaca saya semakin tinggi. Namun fokus bacaan makin mengerucut pada buku-buku pikiran: berpikir dinamis, berpikir positif, bagaimana mencari kawan dan memengaruhi orang lain. Jumlahnya bukan lagi puluhan, tetapi ratusan buku.

Pada tahun 1992, saat kelas 3 SMA, saya mulai belajar agama secara lebih terstruktur di Wahdah Islamiyah. Di sinilah cara pandang saya mulai berubah. Pemahaman agama yang bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah membuka mata saya terhadap banyak kebiasaan di kampung yang ternyata bercampur antara tradisi, khurafat, bid’ah, bahkan kesyirikan.

Saya menjadi lebih tegas, bahkan cenderung keras. Ketika pulang kampung, saya mulai menolak mengikuti kebiasaan seperti barzanji tertentu, maulid, membawa lilin ke kuburan, membakar dupa. Yang pertama kami lakukan di rumah adalah menghentikan sesajian rutin—malam Jumat, maulid, persembahan  hingga menjelang panen. Alhamdulillah, orang tua menerima dengan lapang dan terbebas dari itu.

6. Kampus, Filsafat, Organisasi, dan Logika Tanpa Henti

Setelah S1, saya kembali aktif di organisasi kampus, termasuk HMI dan berbagai organisasi keislaman lainnya. Di sinilah bacaan saya meluas ke filsafat. Saya sendiri tidak tahu berapa banyak buku filsafat yang telah saya baca. Hampir setiap hari saya membaca koran lokal dan nasional. Perpustakaan menjadi tempat yang akrab, seolah rumah kedua.

Semangat belajar makin membara. Buku motivasi tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikkan. Belajar dipaksakan dengan logika-logika motivasi. Seperti analogi klasik: bisakah kamu memakan seekor kerbau? Jawabannya: bisa, jika dipotong kecil dan dimakan sedikit demi sedikit. Logika ini saya pakai dari SMA hingga S2. Hidup terasa seperti tantangan intelektual yang harus ditaklukkan.

7. Gelar, Kebanggaan, dan Keyakinan Diri yang Tinggi

Alhamdulillah, di kampus saya termasuk cepat menyelesaikan studi. Hingga akhirnya gelar S2 berada di tangan. Saat itu, ada rasa bangga yang besar. Ada keyakinan kuat bahwa dengan ilmu, logika, dan motivasi, semua impian pasti bisa diraih.

Saya merasa telah menemukan kunci kehidupan: pikiran yang kuat, semangat yang membara, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Namun, perjalanan belum selesai. Justru di titik inilah babak baru dimulai—babak ketika semua keyakinan itu diuji oleh kehidupan nyata.

Pada tulisan selanjutnya, saya akan mengisahkan apa yang terjadi setelah semua gelar diraih, ketika realitas mulai berbicara, dan ketika pencarian kesadaran memasuki fase yang jauh lebih dalam, sunyi, dan mengguncang batin hingga saya menemukan kesadaran sejati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”