Kisah Inspiratif: Tumbuh dalam Sunyi yang Penuh Cinta
Kisah Inspiratif: Tumbuh dalam Sunyi yang Penuh Cinta
Oleh Amran. Sejak kecil, saya termasuk anak yang penurut kepada orang tua. Namun kepatuhan itu bukan lahir dari rasa takut, bukan pula karena tekanan atau ancaman. Kepatuhan itu tumbuh secara alami, seperti daun yang mekar karena cahaya matahari, bukan karena dipaksa membuka diri. Kedua orang tua saya mendidik kami dengan cara yang sangat bijaksana, lembut, dan penuh kesadaran—meski saat itu saya sendiri belum memahami apa arti kesadaran itu.
Ayah dan ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Mereka tidak menuntut kami untuk menjadi ini atau itu. Tidak pernah ada kalimat bernada keras, apalagi teriakan di dalam rumah. Suasana rumah kami tenang, hangat, dan penuh rasa aman. Kami hidup dalam kebahagiaan yang sederhana, kebahagiaan yang mungkin baru saya sadari nilainya ketika saya dewasa.
Kedua orang tua kami adalah pendidik. Ibu seorang guru agama, sementara ayah adalah guru SD sekaligus kepala sekolah. Namun anehnya, meskipun latar belakang mereka adalah dunia pendidikan, rumah kami tidak pernah terasa seperti ruang kelas. Tidak ada papan tulis, tidak ada jadwal wajib, tidak ada target nilai. Yang ada hanyalah teladan hidup.
Sejak masih SD, kami terbiasa hidup tanpa paksaan. Soal makan, tidak pernah ada kata “ayo cepat makan” atau “harus habis”. Jika lapar, kami tahu ke mana harus melangkah. Di dapur selalu tersedia makanan. Ibu saya sangat telaten menyiapkan segalanya. Tangannya seperti tidak pernah lelah memberi. Bagi orang tua kami, urusan makanan adalah bentuk kasih sayang yang tidak perlu diumumkan dengan kata-kata. Alhamdulillah, sejauh ingatan saya, makanan di rumah selalu tersedia.
Belajar pun demikian. Tidak pernah ada suara keras yang mengingatkan kami untuk membuka buku. Tidak ada ancaman jika nilai jelek. Orang tua hanya mengingatkan seperlunya, selebihnya diserahkan kepada kesadaran kami sendiri. Ibadah juga begitu. Sholat tidak pernah dipaksa, tetapi kami melihat langsung bagaimana orang tua menjaga sholatnya. Tanpa disadari, kami belajar bukan dari perintah, tetapi dari contoh.
Membantu ibu mengangkat air, menyapu halaman, membersihkan rumah—semuanya dilakukan tanpa disuruh. Bukan karena kami anak yang luar biasa, tetapi karena suasana rumah membuat kami merasa ingin ikut bertanggung jawab. Ada rasa memiliki, ada rasa terlibat. Kami tidak merasa sebagai “anak yang disuruh”, tetapi sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.
Waktu berjalan, dan tiba saatnya saya harus meninggalkan rumah. Sejak SMP, saya berpisah dengan orang tua untuk bersekolah di Bontocani, Bone. Perpisahan itu tidak mudah, tetapi bekal dari rumah ternyata ikut terbawa. Kebiasaan-kebiasaan yang tertanam sejak kecil tetap hidup di dalam diri: melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah, bergerak tanpa harus diawasi.
Kebiasaan itu berlanjut hingga masa kuliah. Sholat dilakukan tanpa disuruh, belajar tanpa dipaksa, membersihkan rumah tanpa ada yang mengingatkan. Saat itu saya hanya menjalani hidup seperti biasa, tanpa menyadari bahwa apa yang saya lakukan sesungguhnya adalah praktik kesadaran. Saya belum mengenal istilahnya, belum memahami teorinya, tetapi tubuh dan hati saya telah lebih dulu mempraktikkannya.
Baru setelah dewasa, setelah melewati berbagai fase kehidupan, saya mulai menoleh ke belakang dan menyadari satu hal penting: apa yang orang tua saya tanamkan bukanlah kepatuhan, melainkan kesadaran. Mereka tidak membentuk kami dengan tekanan, tetapi dengan keteladanan dan kepercayaan. Mereka tidak menciptakan anak-anak yang takut melanggar, tetapi anak-anak yang memahami tanggung jawab.
Kini saya mengerti, rumah masa kecil saya bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah madrasah sunyi yang tidak banyak bicara, tetapi dalam. Ia adalah ruang aman tempat jiwa belajar tumbuh tanpa luka. Dan dari sanalah, tanpa saya sadari, perjalanan panjang mencari makna kesadaran itu bermula.
Pada tulisan selanjutnya, insyaAllah, saya akan mengajak pembaca menyusuri proses panjang pencarian tersebut—bagaimana kesadaran yang dulu hidup secara alami, kemudian diuji, hilang, dan akhirnya ditemukan kembali dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar