Dari Orientasi Hasil menuju Tawakkal Beradab

 REFLEKSI PERJALANAN:

Dari Orientasi Hasil menuju Tawakkal Beradab

Sejak menyelesaikan pendidikan Magister Agribisnis pada tahun 2003, saya memasuki dunia kerja dengan satu keyakinan besar: pendidikan tinggi adalah modal utama kesuksesan. Dengan gelar master, saya merasa telah memiliki bekal keilmuan yang cukup dan secara tidak sadar muncul rasa percaya diri yang berlebih—bahkan mendekati kesombongan halus.

Pilihan pertama saya adalah bergabung dengan perusahaan Pupuk Organik Super ACI. Pada masa itu, orientasi saya sangat sederhana: bekerja untuk hasil. Bukan untuk pengabdian, bukan untuk proses, apalagi untuk adab. Hasil menjadi tujuan utama, sementara cara dan keadaan batin menjadi nomor sekian.

Dunia MLM dan Ilusi Kesuksesan

Pupuk ACI pada awalnya dikembangkan dengan sistem bisnis jaringan (MLM). Di sinilah saya mulai dikenalkan pada metode pemasaran berbasis jaringan: membuat daftar nama, menghubungi keluarga, teman, hingga teman dari teman. Setiap hari diisi dengan aktivitas mengundang calon mitra untuk hadir dalam acara presentasi (prosentase).

Dalam forum prosentase tersebut, porsi penjelasan produk justru sangat sedikit. Yang ditonjolkan adalah sistem bisnis dan iming-iming hasil. Testimoni orang-orang yang dianggap sukses dipamerkan: hadiah ponsel, laptop, motor, mobil, hingga rumah mewah.

Orang datang bukan karena kebutuhan produk, melainkan karena hasrat akan hadiah dan mimpi instan. Namun kenyataannya, dari ribuan orang yang bergabung, hanya segelintir yang benar-benar berhasil. Struktur keberhasilan sudah terbentuk di puncak, sementara sebagian besar hanya menjadi pengisi sistem.

Saya menyimpulkan satu hal pahit:

Secara statistik, impian itu hampir mustahil digapai.

Namun yang lebih aneh, kegagalan tidak membuat sistem ini ditinggalkan. Banyak orang—termasuk saya—berpindah dari satu MLM ke MLM lain, dengan keyakinan bahwa “yang ini berbeda”. Padahal pola dan ruhnya sama: hasil dijadikan sesembahan.

Akhirnya saya pun harus mengakui: saya gagal menjadi pengusaha MLM, bukan karena kurang usaha, tetapi karena sejak awal pijakannya rapuh.

Kerja Keras Tanpa Petunjuk

Beberapa tahun kemudian, saya berpindah ke dunia farmasi dan obat-obatan, khususnya produk herbal dari Tiongkok. Sistem kerjanya berbeda: door to door, dari kabupaten ke kabupaten, dari provinsi ke provinsi, menjelajahi hampir seluruh Indonesia.

Secara lahiriah, ini terlihat sebagai perjuangan besar:

  • Kerja keras
  • Disiplin tinggi
  • Target ketat
  • Tubuh dipaksa
  • Hasil dikejar

Namun secara batin, saya mengalami kekosongan:

  • Tidak ada petunjuk
  • Tidak ada niat yang ditata
  • Tidak ada adab dalam berjalan
  • Hati gelisah
  • Iman terbengkalai

Semua pekerjaan lain yang saya lakoni—sales buku, minyak gosok, pakaian, obat herbal, bekam, hingga ruqyah syar’iyyah—memiliki satu kesamaan:

Saya melakukannya demi hasil, bukan demi kebenaran langkah.

Padahal Allah telah mengingatkan:

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”(QS. Ṭāhā: 124)

Kehidupan sempit itu bukan selalu tentang kekurangan materi, tetapi hati yang kering meski tangan bekerja keras.

Hikmah yang Baru Dipahami Sekarang

Kini, setelah perjalanan panjang itu, saya mulai memahami bahwa Allah tidak sedang menyia-nyiakan masa lalu saya. Semua pengalaman itu adalah madrasah kehidupan yang mahal. Saya diajarkan:

Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan halus

Dan di atas setiap orang berilmu ada yang lebih berilmu.”(QS. Yusuf: 76)

Kerja keras tanpa petunjuk melelahkan jiwa

“Bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati.”(QS. Al-Hajj: 46)

Hasil bukan tujuan, tapi konsekuensi

Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Rezeki bukan karena kepintaran, tapi karena adab dan tawakkal

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Perubahan yang Saya Alami Sekarang

Perubahan terbesar yang saya rasakan bukan pada pekerjaan, tetapi pada cara berjalan:

  • Saya keluar dengan niat, bukan beban
  • Saya punya tujuan, tanpa memaksa hasil
  • Saya menempatkan rasa, tidak lagi ditunduki olehnya
  • Saya mengikuti petunjuk, bukan prasangka
  • Saya bertawakkal, bukan sekadar berharap

Dan di situlah hati mulai lapang, bukan karena dunia berubah, tetapi karena posisi hati kembali ke tempatnya sebagai hamba.

Penutup

Jika dulu saya berjalan dengan berkata:

“Saya bekerja agar berhasil”

Kini saya belajar berkata:

“Saya berjalan dengan adab, hasil saya serahkan kepada Allah.”

Semua masa lalu itu tetap saya syukuri, karena tanpanya saya tidak akan sampai pada pemahaman hari ini.

Wallāhu a‘lam bissabab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”