Dari Ego ke Tenang: Catatan Seorang Hamba yang Belajar Melihat
Dari Ego ke Tenang: Catatan Seorang Hamba yang Belajar Melihat
Ada masa di mana aku merasa baik-baik saja.
Shalat jalan.
Kerja jalan.
Tanggung jawab ada.
Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tidak terlihat. Ego yang halus. Tidak kasar, tidak meledak-ledak setiap saat. Bahkan tampak terkontrol. Tetapi diam-diam ia hidup.
Ia ingin dihargai.
Ia ingin dianggap kuat.
Ia ingin keadaan berjalan sesuai rencana.
Dan ketika realitas tidak sesuai harapan, getarannya terasa.
Saat istriku pergi, yang muncul bukan sekadar sepi. Yang muncul adalah takut. Gelisah. Stres. Aktivitas terganggu. Fisik ikut lemah. Pikiran tidak stabil.
Saat itu aku menyangka sumbernya di luar.
Ternyata yang retak adalah sesuatu di dalam.
Aku baru sadar kemudian:
yang terguncang bukan keadaan… tapi egoku.
Dunia Ternyata Cermin
Pelan-pelan Allah bukakan penglihatan.
Apa yang kulihat di luar ternyata pantulan.
Seperti berdiri di depan cermin.
Jika bayangan terlihat kusut, apakah cerminnya yang harus dipecah?
Atau wajahnya yang dirapikan?
Di situlah aku mulai berhenti menyalahkan keadaan.
Berhenti menuntut orang lain berubah lebih dulu.
Aku mulai memperbaiki diri.
Dan ayat dalam Al-Qur'an itu terasa hidup:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11)
Ternyata perubahan bukan dimulai dari luar.
Ia dimulai dari keberanian melihat ke dalam.
Melihat Pikiran, Melihat Rasa
Ada fase yang aneh sekaligus indah.
Aku mulai menyadari bahwa aku bisa melihat pikiranku.
Aku bisa melihat rasaku.
Tubuh kulihat dengan mata.
Tapi pikiran dan rasa kulihat dengan kesadaran.
Dan anehnya, penglihatan batin itu terasa lebih jelas.
Aku seperti berdiri sedikit di belakang diriku sendiri.
Melihat takut tanpa menjadi takut.
Melihat marah tanpa tenggelam dalam marah.
Kadang terasa seperti tidak ada jarak.
Aku menyaksikan dan disaksikan sekaligus.
Di situ aku paham:
aku bukan sekadar pikiran.
Aku bukan sekadar rasa.
Ada kesadaran yang lebih dalam dari itu semua.
Ihtiar Tanpa Pembuktian
Dulu aku membagi brosur ratusan lembar.
Tenaga dipacu.
Langkah digas.
Sekarang muncul keinginan berbeda.
Cukup sepuluh, tapi fokus.
Lebih berkualitas.
Tubuh tetap aman.
Bukan karena malas.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena ada kesadaran baru:
ihtiar bukan pembuktian.
Aku tidak lagi ingin terlihat hebat.
Aku hanya ingin menjalankan sebab dengan sadar.
Dan ketika niat mulai jernih, langkah terasa ringan.
Di Balik Masalah, Datang Rezeki
Masalah dengan si bungsu dan ibunya belum sepenuhnya hilang dari sistem tubuh. Masih ada sisa lelah. Sisa rasa.
Namun anehnya, dua hari berturut-turut ada order masuk.
Hari ini bahkan lebih jelas.
Janji jam 9 digeser ke jam 12.
Awalnya hanya ganti lensa.
Ternyata ada tambahan buat baru karena keluarganya ikut pesan.
Jika ini terjadi dulu, mungkin aku kesal karena jadwal berubah.
Sekarang justru aku bersyukur.
Karena aku bisa:
Dapat tambahan order.
Istirahat sejenak.
Live dan posting video dengan tenang.
Ayat dalam Al-Qur'an itu terasa nyata:
“Fa inna ma’al ‘usri yusra.”
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Bukan setelah.
Bersama.
Masalah dan rezeki berjalan beriringan.
Dan aku mulai melihat, kemudahan sering kali lebih banyak dari kesulitan. Hanya saja dulu aku terlalu fokus pada gelapnya.
Stabilitas yang Sunyi
Kini kebahagiaan terasa berbeda.
Bukan ledakan besar.
Bukan hasil spektakuler.
Hanya ritme yang stabil.
Bangun pagi, antar anak sekolah.
Kerja dengan tenang.
Istirahat ketika perlu.
Bergerak tanpa beban pembuktian.
Tidak ada rasa harus dipuji.
Tidak ada rasa ingin diakui.
Cukup sadar bahwa aku sedang berjalan.
Rezeki datang bukan karena aku memaksa.
Tapi ketika hatiku tidak lagi berisik.
Titik Balik Itu
Jika suatu hari aku membaca catatan ini lagi, mungkin aku akan tersenyum.
Karena titik balik itu bukan ketika uang besar datang.
Bukan ketika masalah hilang total.
Titik balik itu adalah saat aku berhenti melawan pantulan…
dan mulai membenahi diri sendiri.
Dari ego yang tidak terlihat,
menuju kesadaran yang tenang.
Dari gelisah yang reaktif,
menuju syukur yang aktif.
Dan ternyata, ketika hati tenang,
Allah bukakan jalan dengan cara yang lembut.
Wallahu a’lam bissabab.
Komentar
Posting Komentar