Takut Kehilangan Ketenangan

Takut Kehilangan Ketenangan

Ada satu rasa yang diam-diam muncul setelah hati mulai tenang.

Bukan takut miskin.

Bukan takut gagal.

Tapi takut… kehilangan ketenangan itu sendiri.

Karena setelah sekian lama hidup dalam gelombang, akhirnya aku menemukan permukaan air yang relatif tenang. Nafas lebih stabil. Pikiran lebih jernih. Reaksi tidak secepat dulu. Masalah datang, tapi tidak langsung mengguncang pondasi.

Dan justru di situ muncul pertanyaan halus:

“Bagaimana kalau ini hilang?”

Aku mulai sadar, ketenangan pun bisa dijadikan sandaran baru. Ego lama mungkin sudah melemah, tapi ia bisa berganti bentuk. Ia bisa berbisik:

“Pertahankan rasa ini. Jangan sampai rusak. Jangan sampai ada yang mengganggu.”

Tanpa sadar, aku bisa kembali tegang — bukan karena masalah, tapi karena takut kehilangan rasa tenang.

Di situlah aku mengerti:

ketenangan bukan untuk digenggam.

Ia untuk dilewati dengan sadar.

Ketenangan Bukan Milik, Tapi Amanah

Aku belajar satu hal pelan-pelan.

Tenang bukan karena aku hebat mengatur hidup.

Tenang bukan karena semua sudah sempurna.

Tenang adalah amanah sesaat yang Allah titipkan.

Dalam Al-Qur'an Allah menyebut tentang hati yang tenteram:

“Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub.”

Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra’d: 28)

Artinya sumbernya bukan situasi.

Bukan keberhasilan.

Bukan kestabilan ekonomi.

Sumbernya adalah keterhubungan.

Jika aku kembali menjadikan situasi sebagai sumber tenang, maka ketika situasi berubah, tenang itu ikut goyah.

Pola Lama Selalu Menunggu

Aku juga jujur pada diri sendiri: pola lama tidak benar-benar mati. Ia hanya melemah.

Reaktif.

Membuktikan diri.

Ingin mengontrol.

Semua itu masih ada dalam memori tubuh dan pikiran. Ia bisa muncul saat lelah, saat konflik, saat hasil tidak sesuai harapan.

Maka menjaga ketenangan bukan berarti menjaga agar masalah tidak datang. Itu mustahil.

Menjaganya berarti:

Sadar lebih cepat saat emosi naik.

Berhenti sejenak sebelum bereaksi.

Mengakui lelah sebelum memaksa diri.

Mengurangi langkah ketika tubuh memberi sinyal.

Bukan kesempurnaan yang menjaga tenang.

Tapi kesadaran yang berulang-ulang.

Melepaskan, Bukan Mengamankan

Aku pelan-pelan mengubah doa.

Bukan lagi: “Ya Allah, jangan hilangkan ketenangan ini.”

Tapi menjadi: “Ya Allah, jika Engkau ambil ketenangan ini, jangan Engkau ambil kesadaranku.”

Karena yang paling berharga bukan rasa tenang itu sendiri.

Yang paling berharga adalah kemampuan untuk kembali.

Kembali melihat.

Kembali menyadari.

Kembali memperbaiki diri.

Jika suatu hari gelombang datang lagi, itu bukan berarti aku mundur. Itu hanya tanda bahwa hidup bergerak.

Dan mungkin, kedewasaan sejati bukan ketika hati selalu tenang…

tetapi ketika hati tahu ke mana harus kembali saat ia terguncang.

Akhirnya Aku Mengerti

Takut kehilangan ketenangan adalah manusiawi.

Namun menggenggamnya terlalu kuat justru membuatnya rapuh.

Sekarang aku memilih menjalaninya seperti udara.

Diambil nafasnya.

Disyukuri.

Lalu dilepas.

Jika ia datang lagi, alhamdulillah.

Jika ia pergi sebentar, aku tidak panik.

Karena yang kucari bukan suasana hati yang selalu stabil.

Yang kucari adalah hubungan yang selalu hidup.

Dan selama hubungan itu terjaga,

aku tahu aku tidak benar-benar kehilangan apa pun.

Wallahu a’lam bissabab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”