Cahaya Itu Turun ke Hal-Hal Sederhana Sehari setelah Idul Fitri 1447 H, suasana berubah.
Cahaya Itu Turun ke Hal-Hal Sederhana
Sehari setelah Idul Fitri 1447 H, suasana berubah.
Tidak lagi di lapangan Lapangan Hertasning dengan gema takbir dan khutbah yang menyentuh hati.
Kini saya berada di tengah keluarga—dalam suasana yang hangat, sederhana, dan sangat manusiawi.
Kami berkumpul.
Makan bersama.
Minum.
Bercerita.
Lalu beristirahat.
Sekilas, ini hanya momen biasa.
Namun kali ini, saya merasakannya dengan cara yang berbeda.
Ketika Nafsu Tidak Lagi Ditolak, Tapi Disadari
Saya makan.
Menikmati hidangan.
Mengikuti rasa ingin dalam diri.
Namun kali ini, saya tidak tenggelam.
Saya justru menyaksikan:
bagaimana keinginan itu muncul
bagaimana tubuh merespon
bagaimana rasa kenyang perlahan datang
Saya merasakan:
kenyang yang penuh
tubuh yang mulai pegal
leher yang sedikit tegang setelah makan daging
Dan di tengah semua itu… saya sadar.
Tubuh yang Mengajarkan
Dulu, mungkin semua ini lewat begitu saja.
Makan → kenyang → selesai.
Namun kali ini terasa berbeda.
Seolah tubuh ini sedang “berbicara”:
ketika berlebihan → ada rasa tidak nyaman
ketika cukup → ada ketenangan
ketika sadar → ada pelajaran
Saya mulai melihat bahwa tubuh bukan sekadar alat,
tapi juga media pembelajaran dari Allah.
Menikmati, Tapi Tetap Terhubung
Saya tidak menolak kebahagiaan itu.
Saya senang berkumpul dengan keluarga.
Saya menikmati makanan.
Saya beristirahat.
Namun di dalamnya, ada sesuatu yang tetap terjaga:
kesadaran.
Bahwa semua ini:
bukan sekadar rutinitas
bukan sekadar kenikmatan
tapi juga bagian dari petunjuk
Syukur yang Tidak Lagi Sekadar Ucapan
Di tengah momen itu, terlintas dalam hati:
“Fabiayyi rabbikuma tukazziban…”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Dan kali ini, ayat itu terasa hidup.
Karena saya tidak hanya mengucapkannya,
tapi benar-benar merasakan:
nikmat berkumpul
nikmat makan
nikmat merasakan tubuh
bahkan nikmat dari rasa “tidak nyaman”
Karena semua itu membawa saya kepada kesadaran.
Dari Khutbah ke Kehidupan Nyata
Saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat:
Cahaya yang saya rasakan saat khutbah,
ternyata tidak berhenti di sana.
Ia turun…
ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ke dalam:
cara saya makan
cara saya merasakan tubuh
cara saya menikmati kebersamaan
Seolah Allah sedang mengajarkan:
“Petunjuk itu bukan hanya untuk didengar,
tapi untuk dirasakan dalam setiap aktivitas.”
Hidup yang Menjadi Lebih Dalam
Hal-hal sederhana menjadi terasa lebih dalam:
makan bukan sekadar makan
istirahat bukan sekadar lelah
kebahagiaan bukan sekadar emosi
Semua menjadi: jalan untuk mengenal diri dan mengenal Allah.
Penutup: Menjaga Kesadaran Itu
Saya tidak tahu sampai kapan kesadaran ini akan terasa kuat.
Namun saya memahami satu hal:
Bahwa yang perlu dijaga bukan hanya amal besar,
tapi juga kesadaran dalam hal-hal kecil.
Karena di situlah:
nafsu bisa dikenali
diri bisa dipahami
dan petunjuk bisa dirasakan
Refleksi akhir:
“Aku makan, aku kenyang, tubuhku terasa berat.
Namun di balik itu, aku melihat:
setiap rasa adalah pelajaran,
setiap nikmat adalah panggilan.
Bahkan dalam kenyang dan lelah,
Allah tetap berbicara—
bagi hati yang mau menyadari.”
Baca :
Komentar
Posting Komentar