Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran

 Perjalanan Panjang Menuju Kesadaran

Sejak selesai program magister, saya tidak terlalu berambisi menjadi pegawai negeri. Sebenarnya ada minat, tapi entah kenapa terasa malas memburu posisi itu. Dalam hati, saya sering berkata:

“Menjadi pegawai itu terikat, gaji rendah, tidak bebas…”

Ternyata itu hanyalah angan-angan dalam pikiran. Saya merendahkan PNS, tapi realitasnya saya sendiri lebih miskin dari sisi materi.

Cara berpakaian biasa saja

Kendaraan motor sudah usang, baru terganti dengan cicilan yang kadang menunggak

Di balik itu, ada kesombongan tersembunyi.

🌊 Perjalanan yang Panjang dan Berliku

Setelah lulus, saya mulai bekerja, tetapi pekerjaan tidak jelas. Hasilnya pun boleh dikata tidak ada.

Dari situ, saya masuk dunia MLM—satu MLM ke MLM lain. Tidak ada yang berhasil, tapi cerita saya tentang pengalaman seolah membuat saya terlihat ahli.

Kemudian saya beralih ke usaha serabutan:

Jual obat herbal, obat Cina

Jual pakaian, perhiasan

Pernah buka jasa ketik

Sekali lagi, tidak ada yang sukses. Namun semua itu membuat saya merasa penuh pengalaman, bahkan terkadang sombong akan pengalaman sendiri.

Saya juga sempat menjadi dosen, tapi tidak sukses besar.

Orang dari luar melihat saya seperti orang tenang dan sukses, karena saya sering bercerita tentang kesuksesan. Padahal kenyataannya tidak demikian.

🌱 Titik Balik Setelah Usia 50

Perubahan mulai terasa setelah umur di atas 50 tahun.

Allah memberi secercah cahaya. Perlahan, saya mampu melihat semua kekurangan dalam diri. Saya sadar betapa konyolnya sikap dan pandangan masa lalu:

Menganggap diri ahli padahal tidak berhasil

Menunjukkan kesuksesan palsu

Merendahkan orang lain tanpa alasan

Allah memberi sedikit ilmu mengenal diri dan memperbaiki tauhid saya.

Sekarang saya memahami:

Sukses bukan tentang tampilan luar, pengalaman semu, atau pengakuan orang.

Sukses sejati adalah kesadaran diri, ketaatan kepada Allah, dan kejujuran hati.

🧭 Pelajaran dari Perjalanan

Kesombongan tersembunyi itu bahaya

Bisa membuat kita bangga palsu, padahal tidak berhasil

Pengalaman tanpa ilmu tauhid tidak cukup

Semua usaha dunia tanpa cahaya Allah hanyalah perjalanan melelahkan

Allah memberi cahaya sedikit demi sedikit

Semakin kita terbuka hati, semakin kita bisa melihat diri sendiri dengan jujur

Kesuksesan hakiki berasal dari hati

Tenang, rendah hati, dan ikhlas, bukan sekadar cerita atau tampilan luar

🌿 Penutup

Perjalanan ini panjang dan melelahkan, tapi menjadi guru terbaik.

Sekarang saya menyadari:

Betapa berharganya secercah cahaya Allah yang mampu membuka mata hati.

Betapa pentingnya mengenal diri dan memperbaiki tauhid.

Wallahu a’lam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”