Di Antara Panas, Hujan, dan Dua Ribu Rupiah Sedekah
Di Antara Panas, Hujan, dan Dua Ribu Rupiah Sedekah
Pagi itu perjalanan dimulai seperti biasa. Setelah mengantar si bungsu ke sekolah, langkah kaki kembali menapaki jalan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Di tangan ada brosur yang harus dibagikan, di hati ada niat untuk berusaha.
Matahari mulai meninggi. Panasnya terasa tajam di kulit. Tenggorokan kering, tubuh mulai lelah, namun langkah tetap berjalan. Satu demi satu brosur dibagikan kepada orang-orang yang ditemui di jalan.
Tidak semua orang tertarik. Sebagian hanya tersenyum. Sebagian lagi menolak dengan halus.
Namun langkah tetap berjalan.
Karena sekarang mulai terasa bahwa tugas seorang hamba hanyalah melangkah. Hasilnya adalah urusan Allah.
Menjelang siang, tiba-tiba langit berubah. Awan gelap datang dengan cepat. Tidak lama kemudian hujan turun sangat deras. Jalan yang tadi panas kini basah oleh air hujan yang mengguyur dengan keras.
Perjalanan prospek hari itu seperti memperlihatkan dua keadaan sekaligus: panas yang terik dan hujan yang deras.
Namun hati tetap tenang.
Di tengah perjalanan itu Allah memberikan rezeki dua buah kacamata senilai lima puluh ribu rupiah. Secara angka mungkin tidak besar. Tetapi bagi seorang hamba yang belajar bersyukur, itu tetap nikmat dari Allah.
Rezeki sekecil apa pun tetap layak disyukuri.
Setelah itu langkah kaki singgah di sebuah masjid. Tubuh beristirahat sejenak sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba.
Di dalam masjid yang tenang itu, ada satu kebiasaan baru yang dilakukan: mengeluarkan sedekah dari omzet hari ini.
Hanya dua ribu rupiah.
Angkanya kecil, namun rasanya berbeda.
Dulu sedekah dari hasil usaha tidak pernah terasa seperti ini. Tetapi hari ini ada rasa senang ketika mengeluarkannya. Seolah-olah hati ikut bersyukur atas rezeki yang Allah titipkan, walaupun sedikit.
Di tempat yang tenang itu terasa satu kesadaran sederhana:
Rezeki bukan hanya tentang berapa banyak yang didapat, tetapi tentang bagaimana hati menerimanya.
Ada orang yang mendapatkan banyak tetapi tetap gelisah.
Ada pula orang yang mendapatkan sedikit tetapi hatinya lapang.
Perjalanan hari ini mengajarkan satu hal yang semakin jelas:
Tetap melangkah.
Tetap berusaha.
Tetap bersyukur.
Panas dan hujan hanyalah bagian dari perjalanan. Penolakan dan penerimaan juga bagian dari pelajaran.
Seorang hamba hanya berjalan sesuai kemampuannya, sementara hasil sepenuhnya berada di tangan Allah.
Maka tidak ada kalimat yang lebih pantas diucapkan selain:
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Wallahu a’lam bissawab.
Komentar
Posting Komentar