Percikan Cahaya di Tengah Perjalanan Seorang Hamba

Percikan Cahaya di Tengah Perjalanan Seorang Hamba

Pagi itu setelah mengantar si bungsu ke sekolah, langkah kaki pulang terasa biasa saja. Jalan yang dilalui sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun di dalam hati, ada sesuatu yang berbeda. Seakan-akan ada suara halus yang menuntun untuk melihat diri sendiri lebih dalam.

Di tengah perjalanan itu muncul kesadaran yang sederhana namun mengguncang:

Semua yang selama ini kucari sebenarnya sudah ada dalam diriku.

Allah telah memberi manusia alat yang lengkap:

pikiran untuk memahami,

rasa untuk merasakan,

dan tubuh untuk bergerak.

Ketiganya adalah amanah yang jika diarahkan dengan benar, dapat mengubah hidup seseorang saat ini juga.

Saat itulah teringat firman Allah bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Selama ini sering kali manusia sibuk menyalahkan keadaan luar.

Ekonomi yang sulit.

Orang lain yang tidak membantu.

Kesempatan yang terasa sempit.

Padahal kunci pertama justru berada di dalam diri.

Ketika hati mulai sadar, muncul pesan-pesan yang menenangkan sekaligus menguatkan:

Jangan takut.

Jangan khawatir.

Jangan gengsi.

Berjuanglah dengan sungguh-sungguh.

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Perjuangan memang tidak pernah lepas dari pengorbanan.

Panasnya matahari di siang hari.

Rasa haus ketika berpuasa.

Kaki yang terasa pegal setelah berjalan jauh.

Namun semua itu menjadi ujian yang mengajarkan satu hal:

sejauh mana kesungguhan seorang hamba dalam berusaha.

Penolakan dari manusia pun ternyata bukan musibah.

Ia justru menjadi guru.

Setiap penolakan mengajarkan cara yang lebih baik untuk melangkah.

Setiap pandangan remeh dari orang lain menjadi cambuk untuk memperkuat diri.

Dan perlahan-lahan tersingkap pula kenyataan tentang masa lalu.

Betapa banyak kekurangan yang dulu tidak terlihat.

Betapa sering nafsu mempermainkan arah langkah.

Betapa banyak kesempatan yang terlewat karena keraguan dan ketakutan.

Kini semua itu terlihat lebih jelas.

Bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami.

Seakan-akan setelah perjalanan panjang dalam kegelapan, Allah memperlihatkan secercah cahaya kecil yang membuat segala sesuatu menjadi lebih terang.

Cahaya itu bukanlah sesuatu yang besar.

Ia hanya percikan kecil.

Namun percikan kecil itu cukup untuk menunjukkan jalan.

Kini terasa bahwa inti perjalanan hidup ini sangat sederhana:

Ihtiar dan tawakkal.

Tubuh melangkah.

Pikiran mengatur langkah.

Rasa dijaga agar tetap tenang.

Dan hati bersandar kepada Allah.

Dengan berpegang kepada petunjuk Al-Qur’an dan sunnah, seseorang tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Perjuangan mungkin masih panjang.

Kelemahan diri masih banyak.

Namun jika Allah berkenan memberikan sedikit cahaya untuk melihat kekurangan itu, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar.

Tidak ada kata yang lebih pantas diucapkan selain:

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”