Melangkah Karena Perintah, Hasil Urusan Allah
Melangkah Karena Perintah, Hasil Urusan Allah
Di tengah perjalanan mencari rezeki, ada satu kesadaran yang perlahan muncul dalam hati.
Selama ini manusia sering berjalan dengan satu fokus: hasil.
Jika hasil besar maka hati senang.
Jika hasil kecil maka hati gelisah.
Padahal semakin lama perjalanan hidup dijalani, semakin terlihat bahwa rahasia ketenangan bukan terletak pada hasil, tetapi pada cara kita memandang usaha itu sendiri.
Ada satu pemahaman sederhana yang mulai terasa jelas:
Melangkah karena perintah, hasil adalah urusan Allah.
Seorang hamba diperintahkan untuk berusaha.
Ia berjalan, bekerja, menawarkan, berikhtiar dengan kemampuan yang Allah berikan.
Tubuh bergerak.
Pikiran mengatur langkah.
Tenaga dikeluarkan untuk menjalani kehidupan.
Itulah bagian dari amanah manusia sebagai makhluk yang berusaha di bumi.
Namun setelah usaha dilakukan, ada satu batas yang tidak bisa dilampaui oleh manusia.
Batas itu adalah hasil.
Hasil tidak sepenuhnya berada di tangan manusia.
Hasil berada di tangan Allah.
Di sinilah letak rahasia keseimbangan hidup seorang hamba.
Ia tetap berharap hasil.
Karena berharap adalah bagian dari usaha.
Petani menanam dengan harapan panen.
Pedagang menawarkan barang dengan harapan ada pembeli.
Seorang pekerja bekerja dengan harapan mendapatkan rezeki.
Harapan itu tidak salah.
Namun yang membedakan seorang hamba yang tenang dengan yang gelisah adalah tempat ia menggantungkan hasilnya.
Orang yang hanya menggantungkan hasil pada usaha akan mudah kecewa.
Ketika usaha tidak menghasilkan sesuai harapan, hatinya menjadi berat.
Namun orang yang menggantungkan hasil kepada Allah akan tetap tenang.
Ia berharap, tetapi tidak memaksa hasil.
Ia berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan keputusan kepada Allah.
Tubuhnya melangkah di bumi, tetapi hatinya bersandar kepada langit.
Dari sinilah muncul satu prinsip sederhana dalam perjalanan hidup:
Melangkah karena perintah.
Berharap karena usaha.
Berserah kepada Allah.
Dengan cara ini seseorang tetap bergerak tanpa malas, namun juga tetap tenang tanpa gelisah.
Ia tidak berhenti melangkah hanya karena hasil belum terlihat.
Ia juga tidak sombong ketika hasil datang.
Karena ia memahami bahwa tugasnya hanyalah berjalan sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Sedangkan hasil sepenuhnya berada di tangan-Nya.
Pada akhirnya seorang hamba hanya bisa berkata dengan hati yang lapang:
Aku melangkah karena perintah-Mu.
Aku berharap dari usaha yang Engkau izinkan.
Dan aku menyerahkan hasilnya kepada-Mu.
Wallahu a’lam bissawab.
Komentar
Posting Komentar