Ketika Motor Mogok dan Hati Tidak Lagi Panik
Ketika Motor Mogok dan Hati Tidak Lagi Panik Beberapa hari terakhir, hidup terasa seperti berada di tengah ujian yang datang bertubi-tubi. Urusan sekolah Athirah belum menemukan titik terang, kondisi keuangan masih terbatas, prospek tidak semudah biasanya, dan kendaraan yang menjadi alat untuk bergerak pun mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Namun hari ini ada pelajaran yang berbeda. Pagi hari saya memutuskan untuk tetap bergerak. Bukan dengan target besar, bukan dengan ambisi harus mendapatkan hasil tertentu, tetapi hanya menjalankan langkah-langkah kecil yang masih mampu dilakukan. Mengantar kacamata yang menghasilkan Rp50.000, membagikan brosur, memperbaiki komunikasi dengan calon konsumen, dan mendapatkan closing kecil senilai Rp20.000. Jumlahnya memang tidak besar. Tetapi ada satu hal yang terasa berbeda: hati lebih ringan. Tidak ada lagi dorongan untuk memaksa hasil. Yang ada hanya keinginan untuk menjalankan ikhtiar sebaik mungkin. Di tengah perjalanan, motor tiba-tiba mogo...