Antara Mengantuknya Hati dan Terjaganya Kesadaran

 Antara Mengantuknya Hati dan Terjaganya Kesadaran

Malam ini saya mengikuti tarbiyah tentang beberapa istilah tidur dalam Al-Qur'an. Sekilas pembahasannya tampak sederhana, yaitu tentang tingkatan-tingkatan tidur manusia. Namun ketika direnungkan lebih dalam, saya melihat bahwa pembahasan ini bukan hanya tentang tidur fisik, tetapi juga tentang perjalanan batin seorang hamba menuju Allah.

Al-Qur'an menyebut beberapa keadaan tidur dengan istilah yang berbeda. Setiap istilah memiliki makna yang khas dan seakan menggambarkan kondisi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan.

Pada Ayat Kursi disebutkan bahwa Allah tidak ditimpa sinatun, yaitu kantuk ringan sebelum tidur. Ini adalah keadaan ketika seseorang masih sadar, tetapi kesadarannya mulai melemah. Perhatiannya mulai bergeser.

Dalam perjalanan hidup, saya melihat bahwa hati juga memiliki "sinatun". Bukan tidur sepenuhnya, tetapi mulai mengantuk oleh kekhawatiran, ketakutan, dan berbagai lintasan pikiran tentang masa depan. Keyakinan kepada Allah masih ada, tetapi perhatian mulai lebih banyak tertuju kepada sebab-sebab daripada kepada Pemilik segala sebab.

Di sinilah Ayat Kursi terasa begitu menenangkan. Ketika saya bisa lalai, Allah tidak pernah lalai. Ketika perhatian saya berpindah-pindah, Allah tetap mengatur seluruh urusan langit dan bumi tanpa pernah lengah walau sesaat.

Kemudian Al-Qur'an menyebut nu'ās, kantuk yang Allah turunkan kepada para sahabat pada Perang Badar sebagai bentuk ketenteraman.

Menariknya, Allah tidak langsung menghilangkan peperangan mereka. Musuh tetap ada. Ancaman tetap ada. Namun hati mereka ditenangkan.

Saya mulai memahami bahwa ketenangan bukanlah hilangnya masalah. Ketenangan adalah hadirnya Allah dalam kesadaran seorang hamba ketika masalah masih ada.

Tasawuf sering berbicara tentang sakinah, yaitu ketenteraman yang lahir ketika hati kembali bersandar kepada Allah. Bukan karena keadaan berubah, tetapi karena pusat sandaran berubah. Dari bersandar kepada kemampuan diri menjadi bersandar kepada kekuasaan Allah.

Lalu ada istilah hujū'an, yaitu tidur yang sedikit pada malam hari. Allah menyebutnya sebagai salah satu sifat orang-orang bertakwa.

Saya merenung bahwa orang bertakwa bukanlah orang yang tenggelam dalam tidur panjang kelalaian. Mereka memberi hak tubuhnya untuk beristirahat, tetapi hati mereka tetap hidup.

Dalam bahasa tasawuf, hati yang hidup adalah hati yang selalu memiliki hubungan dengan Allah. Ketika bekerja ia ingat Allah. Ketika mencari rezeki ia ingat Allah. Ketika menghadapi kesulitan ia kembali kepada Allah.

Bukan berarti mereka selalu berzikir dengan lisan, tetapi kesadarannya tidak jauh dari Allah.

Kemudian ada ruqūd, tidur panjang seperti yang dialami para pemuda Ashabul Kahfi.

Mereka tidur ratusan tahun dalam penjagaan Allah. Mereka tidak mengetahui bagaimana Allah mengatur tubuh mereka, membolak-balikkan posisi mereka, dan menjaga mereka sepanjang waktu.

Kisah ini memberi pelajaran mendalam tentang tawakkal.

Selama ini saya sering berpikir bahwa saya harus memahami semua jalan keluar sebelum merasa tenang. Saya harus mengetahui bagaimana solusi akan datang sebelum bisa menyerahkan diri kepada Allah.

Namun Ashabul Kahfi mengajarkan hal yang berbeda.

Mereka melakukan bagian mereka: beriman, menjaga keyakinan, lalu berlindung kepada Allah. Setelah itu Allah mengambil alih perkara yang berada di luar kemampuan mereka.

Mungkin inilah salah satu rahasia tawakkal yang perlahan mulai saya pahami.

Bukan berarti berhenti berusaha. Bukan berarti pasrah tanpa tindakan. Tetapi melakukan apa yang mampu dilakukan, lalu membiarkan Allah mengurus wilayah yang memang bukan kuasa manusia.

Semakin direnungkan, tingkatan tidur dalam Al-Qur'an seperti menggambarkan perjalanan jiwa.

Ada saat hati mulai mengantuk oleh dunia (sinatun).

Ada saat Allah menurunkan ketenangan di tengah badai kehidupan (nu'ās).

Ada saat seorang hamba menjaga kesadarannya agar tetap hidup bersama Allah (hujū'an).

Dan ada saat ia benar-benar menyerahkan dirinya ke dalam penjagaan Allah (ruqūd).

Pada akhirnya, perjalanan ruhani bukanlah tentang menjadi manusia yang tidak pernah cemas. Bukan pula tentang menghilangkan seluruh pikiran dan rasa.

Perjalanan ruhani adalah belajar kembali kepada satu kesadaran sederhana:

Allah tidak pernah mengantuk, tidak pernah tidur, dan tidak pernah lalai mengurus hamba-Nya.

Ketika kesadaran itu hadir, hati perlahan menemukan tempat istirahatnya yang sejati.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”