Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 16, 2026

Ketika Ayat Itu Menghantam Hati: Telah Tiba Saatnya untuk Kembali

Ayat yang disampaikan itu sangat dalam maknanya, yaitu firman Allah dalam QS. Thaha: 124: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit…” Kehidupan sempit bukan selalu berarti miskin harta. Bisa jadi seseorang memiliki dunia, tetapi hatinya gelisah, penuh tekanan, takut, tidak tenang, dan selalu merasa kurang. Karena ketika hati jauh dari petunjuk Allah, ruh kehilangan sumber ketenangannya. Ketika antum mengatakan ayat itu seperti “menghantam diri”, mungkin karena hati sedang diberi kepekaan untuk merenung. Terkadang Allah menyampaikan nasihat melalui sebuah ayat pada waktu yang sangat tepat, sehingga terasa seolah ayat itu sedang berbicara langsung kepada diri kita. Lalu ketika ditutup dengan kalimat, “telah tiba saatnya anda kembali…”, itu menjadi seperti panggilan lembut agar hati kembali mendekat kepada Allah, kembali kepada Al-Qur’an, kembali memperbaiki arah hidup, dan kembali menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Boleh jadi ...

Ruh dari Langit, Maka Ketenangannya Ada pada Al-Qur’an

Penyampaian Dr. Ust. Qasim Saguni  Penyampaian Ustaz menekankan bahwa sumber kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, pujian manusia, atau sekadar kesenangan dunia, tetapi pada ketenangan hati. Karena itu bahagia tidak cukup hanya dipikirkan oleh akal atau diucapkan oleh lisan, melainkan harus dirasakan di dalam hati. Setiap ciptaan memiliki kebutuhan. Fisik manusia berasal dari bumi, maka kebutuhannya juga berasal dari bumi seperti makanan, minuman, dan berbagai kenikmatan dunia. Ketika lapar, tubuh membutuhkan makan. Jika kebutuhan fisik tidak dipenuhi, tubuh menjadi lemah. Akal juga memiliki kebutuhan, yaitu ilmu. Jika akal tidak diisi ilmu, maka manusia akan mudah bodoh dan salah arah. Begitu pula hati atau ruh. Ruh berasal dari langit dan ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia ketika masih dalam kandungan. Karena asalnya dari langit, maka kebutuhan ruh juga berasal dari langit. Yang paling agung turun dari langit adalah Al-Qur’an. Maka hati tidak akan benar-bena...

Sibuk Merancang Dunia, Sudahkah Merancang Bekal Kubur

Ceramah DR.Ust. Ihsan Zainuddin LC, MA. Pada GSD 17-Mei-2026 Penyampaian ini mengingatkan bahwa satu-satunya kepastian hidup adalah kematian. Cita-cita, rencana usaha, karier, bahkan target dunia belum tentu tercapai, tetapi kematian pasti datang. Karena itu dalam Islam manusia diajarkan bukan hanya sibuk merancang kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan perjalanan setelah kematian. Manusia tidak mengetahui kapan ajal datang. Berbeda dengan baterai yang bisa dilihat persentasenya, umur manusia dirahasiakan oleh Allah. Ada yang masih muda sudah dipanggil, ada yang tua dipanjangkan umurnya. Maka kesibukan dunia jangan sampai membuat lalai dari persiapan menuju alam kubur dan akhirat. Kehidupan setelah mati bukan berhenti, tetapi berpindah ke alam berikutnya. Bisa jadi manusia hidup di dunia hanya puluhan tahun, namun berada di alam kubur jauh lebih lama. Karena itu yang perlu dipikirkan bukan hanya “apa yang ingin dicapai di dunia”, tetapi juga “apa bekal yang dibawa ke kubur.” Allah...