Ketika Hati Tunduk, Siapa yang Menyaksikan?
Ketika Hati Tunduk, Siapa yang Menyaksikan? Beberapa hari terakhir terasa seperti perjalanan yang panjang. Bukan perjalanan jauh dalam ukuran kilometer, tetapi perjalanan batin yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Masalah datang silih berganti. Uang sekolah Athirah, cicilan yang harus dibayar, kebutuhan harian, usaha yang belum stabil, kendaraan yang mulai sering bermasalah, dan berbagai urusan lain yang seolah datang bersamaan. Pada satu sisi saya harus bergerak dan mencari solusi. Pada sisi lain, saya menyadari bahwa kemampuan saya sangat terbatas. Dahulu, ketika menghadapi situasi seperti ini, yang muncul adalah kepanikan. Pikiran berlari ke mana-mana. Tubuh ikut tegang. Hati seperti terus-menerus mencari pegangan pada sesuatu di luar dirinya. Jika ada orang yang mungkin bisa membantu, pikiran langsung tertuju ke sana. Jika ada kemungkinan meminjam, harapan langsung bergantung pada itu. Ketika harapan tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan. Namun kali ini ada sesuatu yang ber...