Menyadari Pikiran, Kembali kepada Allah

Menyadari Pikiran, Kembali kepada Allah

Beberapa waktu terakhir saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini hanya saya pahami secara teori. Tentang pikiran, rasa, hati, tubuh, dan bagaimana semuanya saling terhubung dalam diri manusia.

Dulu saya hanya memahami ayat:

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Saya mengerti maknanya secara bahasa dan penjelasan para ustaz. Tetapi kali ini saya mulai merasakan langsung bagaimana ayat itu bekerja di dalam diri.

Ketika pikiran datang bertubi-tubi membawa berbagai masalah, dada terasa panas dan bergemuruh. Pikiran seperti menarik ke banyak arah sekaligus. Lalu saya mulai berzikir:

istighfar,

laa hawla wala quwwata illa بالله,

selawat,

dan berdoa kepada Allah agar tidak diserahkan kepada selain-Nya walau sedetik.

Saat itu saya mencoba hadir penuh. Tidak melawan pikiran dengan keras, tetapi menyadari keberadaannya lalu mengarahkan hati kembali kepada Allah.

Perlahan saya merasakan sesuatu yang berbeda: dada yang tadinya bergemuruh mulai datar dan tenang. Memang masih ada sedikit sisa gelombang, tetapi sangat jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Di situ saya mulai memahami: tenang bukan berarti pikiran hilang total. Pikiran masih bisa muncul, tetapi hati tidak lagi sepenuhnya tenggelam di dalamnya.

Pikiran Tidak Selalu Harus Dilawan

Saya juga mulai memahami bahwa tidak semua pikiran harus diperangi habis-habisan.

Kadang ketika muncul pikiran negatif, kita terlalu serius ingin mengubahnya menjadi positif. Akibatnya muncul perlawanan baru di dalam diri. Semakin dilawan, semakin kuat terasa.

Lalu saya mulai belajar:

pikiran cukup disadari,

tidak langsung dipercaya,

tidak juga dipelihara,

lalu diarahkan kepada petunjuk Allah.

Contohnya ketika muncul lintasan buruk atau keinginan maksiat: saya menyadari bahwa lintasan itu ada, tetapi saya tidak harus menjadi lintasan itu.

Kemudian saya beristighfar dan berkata dalam hati:

“Ini tidak diridhai Allah.”

Lalu perhatian saya kembalikan kepada dzikir, doa, dan hal-hal yang lebih baik.

Saya mulai melihat bahwa pikiran datang dan pergi seperti gelombang. Ketika tidak diberi bahan bakar berlebihan, ia perlahan mereda sendiri.

Pikiran, Rasa, Tubuh, dan Hati

Saya juga merenungkan: apakah pikiran, rasa, tubuh, dan hati sebenarnya satu kesatuan?

Dalam pengalaman sehari-hari, semuanya memang saling terhubung:

pikiran mempengaruhi tubuh,

tubuh mempengaruhi rasa,

hati mempengaruhi ketenangan,

dzikir mempengaruhi semuanya.

Mereka bukan bagian yang benar-benar terpisah, tetapi juga bukan hal yang sama persis. Masing-masing memiliki peran.

Kemudian muncul pertanyaan lebih dalam tentang kesadaran dan objek yang disadari.

Saya mulai memahami bahwa:

pikiran bisa disadari,

rasa bisa disadari,

tubuh bisa disadari.

Artinya semua itu adalah sesuatu yang muncul dalam pengalaman manusia.

Namun saya juga belajar untuk berhati-hati agar tidak melampaui batas aqidah. Sebab dalam Islam:

manusia tetap makhluk,

kesadaran manusia tetap ciptaan Allah,

dan Allah tidak serupa dengan apa pun.

“Laisa kamitslihi syai’un.”

Allah bukan pikiran, bukan ruang, bukan tubuh, dan tidak bisa disamakan dengan pengalaman manusia.

Menjadikan Wahyu Sebagai Arah

Akhirnya saya mulai memahami satu hal penting: pikiran tidak selalu bisa dijadikan pegangan karena sifatnya berubah-ubah.

Kadang positif. Kadang negatif. Kadang tenang. Kadang kacau.

Karena itu yang lebih penting bukan mengikuti semua isi pikiran, tetapi:

menyadari keberadaannya,

lalu mengarahkan diri kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Pikiran boleh datang dan pergi. Rasa boleh naik dan turun. Tetapi hati tetap memiliki arah kembali: kepada Allah.

Dan mungkin di situlah letak ketenangan yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”