Akhirnya Aku Tidak Lagi Takut Melihat Hidup

Akhirnya Aku Tidak Lagi Takut Melihat Hidup

Catatan seorang ayah yang belajar tenang di puncak ujian

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa tidur dengan lebih tenang.

Bukan karena semua masalah telah selesai.

Bukan karena hutang telah lunas.

Bukan karena jalan keluar sudah terlihat seluruhnya.

Tetapi karena ada sesuatu yang berubah di dalam hati.

Aku tidak lagi membawa kegagalan sebagai hukuman.

Aku tidak lagi membayangkan masa depan dengan ketakutan yang tak berujung.

Aku tidak lagi berputar-putar dalam kepanikan.

Yang ada hanyalah ketenangan.

Dan ketenangan itu bukan karena aku merasa kuat.

Tetapi karena Allah memperlihatkan sedikit jalan untuk berpikir lebih jernih.

Aku menyadari sesuatu.

Selama ini, aku sering melihat hidup dalam warna hitam dan putih.

Kalau berhasil, aku merasa aman.

Kalau gagal, aku merasa hancur.

Kalau ada hasil, aku bersemangat.

Kalau tidak ada hasil, aku kehilangan harapan.

Aku membawa kegagalan hari ini ke dalam tidur.

Lalu membawanya lagi ke pagi hari berikutnya.

Diulang.

Terus diulang.

Bertahun-tahun.

Aku sadar.

Tetapi aku belum sadar apa yang sebenarnya harus kusadari.

Kini aku melihatnya dengan cara yang berbeda.

Ternyata banyak kegagalan masa lalu bukan untuk dibenci.

Bukan pula untuk disesali tanpa akhir.

Tetapi untuk dipelajari.

Memang ada kekurangan.

Memang ada kesalahan.

Ada ketakutan yang tidak kusadari.

Ada keraguan.

Ada rasa ingin diterima.

Ada rasa takut dinilai.

Ada volume pertemuan yang sedikit karena terlalu banyak drama di dalam kepala.

Ada ikhtiar yang belum maksimal karena langkah sering terhenti oleh bayangan-bayangan yang belum tentu nyata.

Dan aku tidak membenci diriku yang dulu.

Karena mungkin, sejauh pemahamanku saat itu, aku memang hanya mampu berjalan sejauh itu.

Kini aku melihatnya dengan lebih jernih.

Bukan untuk menyalahkan.

Tetapi untuk memperbaiki.

Aku juga menyadari bahwa penderitaan tidak selalu datang untuk menghancurkan.

Masalah keluarga.

Kesulitan ekonomi.

Kekecewaan.

Kegagalan.

Rasa tidak menyenangkan.

Bisa jadi itulah jalan pendidikan dari Allah.

Melalui jalan yang sempit itu, Allah mengajarkanku tentang kelemahan diriku.

Tentang keterbatasanku.

Tentang ketidakmampuanku mengendalikan segala sesuatu.

Tentang pentingnya bersandar kepada-Nya.

Aku tidak akan memilih penderitaan itu jika diberi pilihan.

Tetapi hari ini aku mampu berkata:

"Ya Allah, melalui jalan inilah Engkau mendidikku."

Hari ini mungkin adalah salah satu ujian terberat dalam hidupku.

Ada amanah sebagai ayah.

Ada amanah sebagai suami.

Ada tanggung jawab yang belum selesai.

Ada beban mental yang terasa besar.

Tetapi anehnya...

Aku tidak lagi panik.

Aku tidak lagi gelisah seperti dulu.

Aku tidak lagi merasa harus menyelesaikan seluruh masa depan dalam satu hari.

Aku mulai berpikir jernih.

Aku mulai melihat solusi.

Dan solusi itu ternyata sederhana.

Langkah 0,001.

Bukan lompatan besar.

Bukan mimpi kosong.

Tetapi langkah nyata.

Satu pertemuan.

Satu singgah.

Satu brosur.

Satu pelanggan.

Satu usaha kecil yang dilakukan dengan penuh kehadiran.

Jika hari ini mampu menjual dua puluh buah kacamata, alhamdulillah.

Jika besok bertambah dua buah, alhamdulillah.

Jika bertambah lagi, alhamdulillah.

Bukan karena aku memastikan hasil.

Tetapi karena aku belajar menghargai proses.

Selama ini mungkin aku belum maksimal dalam berikhtiar.

Masih banyak ragu.

Masih takut terhadap penilaian.

Masih sedikit dalam volume pertemuan.

Masih membawa beban yang bukan tugasku.

Kini aku mulai memahami:

Singgah adalah amanah.

Hasil adalah urusan Allah.

Tugasku hanyalah hadir.

Menyapa.

Menawarkan dengan adab.

Menjaga tubuh.

Menjaga shalat.

Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Lalu menyerahkan apa yang berada di luar kemampuanku kepada Allah.

Aku juga belajar bahwa menjadi ayah bukan berarti selalu mampu memenuhi semuanya.

Bukan berarti tidak pernah kekurangan.

Bukan berarti tidak pernah gagal.

Tetapi menjadi ayah berarti:

jujur terhadap kenyataan,

menyayangi anak-anak dengan tulus,

berikhtiar semaksimal kemampuan,

dan bertawakal kepada Allah.

Aku ingin memperjuangkan Athirah bukan karena gengsi.

Bukan karena takut dianggap tidak mampu.

Tetapi karena kasih sayang.

Karena aku ingin menjalankan amanahku dengan sebaik-baiknya.

Dan jika nanti Allah memilih jalan yang berbeda dari keinginanku, aku berharap mampu menerimanya dengan lapang.

Karena aku tahu:

Allah lebih menyayangi anak-anakku daripada diriku sendiri.

Malam ini aku juga teringat kedua orang tuaku.

Betapa sering mereka membantu ketika aku berada dalam kesulitan.

Betapa banyak yang tidak mampu kubalas.

Maka yang bisa kulakukan hanyalah berdoa:

"Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil. Berilah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu."

Hari ini aku merasa seperti seorang musafir yang akhirnya berhenti sejenak di puncak pendakian.

Bukan karena perjalanan telah selesai.

Masih ada jalan panjang di depan.

Masih ada tantangan baru.

Masih ada ujian yang mungkin lebih besar.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut melihat hidup.

Aku tidak lagi takut melihat diriku sendiri.

Aku tidak lagi takut menghadapi kenyataan.

Karena aku tahu, aku tidak berjalan sendirian.

Maka mulai hari ini aku berkata kepada diriku sendiri:

Aku akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Aku akan memperbaiki apa yang dahulu belum kulihat.

Aku akan melangkah dengan tenang.

Aku akan menjaga amanah sebagai ayah dan suami.

Aku akan menjadikan perjuangan ini sebagai ibadah.

Dan apa pun hasilnya, aku serahkan kepada Allah.

Lalu dengan hati yang lebih lapang daripada sebelumnya, aku berdoa:

"Ya Allah, mudahkanlah urusanku. Berkahilah langkah-langkah kecilku. Jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Mulai hari ini, aku pasrahkan hidupku kepada-Mu. Tuntunlah aku menuju jalan yang Engkau ridai."

Dan untuk semua pelajaran yang mahal ini, aku hanya mampu berkata:

Alhamdulillah.

Karena ternyata, setelah sekian lama berlari dalam ketakutan, Allah tidak membawaku menuju kehancuran.

Tetapi membawaku menuju kesadaran.

Dan mungkin, inilah awal dari kehidupan yang benar-benar baru.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”