Akhirnya Allah Menunjuki Sedikit Jalan Kebenaran

Akhirnya Allah Menunjuki Sedikit Jalan Kebenaran

Tentang runtuhnya semangat yang menggebu, dan lahirnya langkah yang lebih tenang

Ada masa yang sangat panjang dalam hidup saya ketika saya mengira bahwa semangat yang menggebu adalah tanda kesungguhan.

Sebelum keluar rumah, hati dipenuhi berbagai gambaran besar.

Saya membayangkan hasil yang besar.

Pertemuan yang besar.

Rezeki yang besar.

Perubahan hidup yang besar.

Saya menyusun banyak konsep.

Banyak rencana.

Banyak harapan.

Banyak cita-cita.

Seolah-olah hari itu akan menjadi hari yang menentukan seluruh hidup saya.

Saya berangkat dengan semangat yang menyala-nyala.

Namun sekarang, ketika melihat ke belakang, saya bertanya kepada diri sendiri:

Apakah itu benar-benar semangat?

Ataukah ada sesuatu yang lain yang tersembunyi di baliknya?

Mungkin yang saya sebut semangat itu ternyata bercampur dengan banyak hal.

Ada ketakutan.

Takut gagal.

Takut tidak cukup.

Takut masa depan.

Takut tidak dianggap berhasil.

Ada kegelisahan.

Ada kebutuhan untuk membuktikan diri.

Ada angan-angan kosong.

Ada bayangan tentang kehidupan yang ingin segera saya capai.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Begitu ramai.

Begitu penuh.

Begitu bising.

Ironisnya, semua itu terjadi sebelum saya benar-benar melangkah.

Bahkan sebelum satu brosur dibagikan.

Sebelum satu orang disapa.

Saya sudah lelah terlebih dahulu.

Saya ingat, ada masa ketika semangat itu membuat saya lupa diri.

Saya terlambat ke masjid.

Saya menunda-nunda panggilan yang lebih utama.

Bahkan pernah suatu hari, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat.

Saya tetap berjalan dengan agenda saya sendiri.

Baru tersadar ketika melihat orang-orang ramai menuju masjid.

Saat itu saya terdiam.

Bagaimana mungkin saya begitu sibuk mengejar sesuatu, sampai hampir melupakan panggilan Allah?

Padahal rezeki yang saya cari berasal dari-Nya.

Sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Dulu saya seperti orang yang hendak mengunggah video ke telepon yang memorinya sudah penuh.

Cache menumpuk.

File sementara memenuhi ruang.

Tetapi saya terus memaksa.

Terus menambah.

Terus berlari.

Tanpa pernah membersihkan.

Hati terdalam dipenuhi oleh:

memori kegagalan,

bayangan ketakutan,

kegelisahan yang berulang,

angan-angan yang tidak berpijak,

harapan yang dipaksa harus terjadi,

penyesalan hari kemarin,

kekhawatiran tentang hari esok.

Semuanya ikut saya bawa keluar rumah.

Akibatnya, saya bisa berada di luar selama berjam-jam.

Delapan jam.

Sepuluh jam.

Kadang lebih.

Tubuh berjalan.

Tetapi pikiran berputar.

Hati menegang.

Langkah terasa berat.

Yang dibawa pulang bukan hanya kelelahan fisik.

Tetapi juga penyesalan.

"Kenapa tadi tidak singgah?"

"Kenapa hasilnya sedikit?"

"Kenapa saya gagal lagi?"

"Besok harus lebih keras."

Lalu malam tiba.

Kegagalan hari itu dibawa tidur.

Pagi datang.

Luka yang sama dibawa bangun.

Kemudian semuanya diulang lagi.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Saya sadar.

Tetapi saya tidak sadar apa yang sebenarnya saya sadari.

Seperti melihat sesuatu melalui kaca yang berkabut.

Ada rasa bahwa ada yang tidak tepat.

Namun saya tidak tahu apa yang perlu diubah.

Dan setelah puluhan tahun, Allah berkenan memperlihatkan sedikit saja.

Sedikit.

Tetapi cukup untuk membuat saya menangis dalam diam.

Ternyata selama ini saya tidak hanya membawa amanah ikhtiar.

Saya juga memikul beban yang bukan milik saya.

Saya memikul hasil.

Saya memikul masa depan.

Saya memikul penilaian manusia.

Saya memikul ketakutan yang belum tentu terjadi.

Saya memikul sesuatu yang tidak pernah Allah perintahkan untuk saya pikul.

Lalu titik balik itu datang dengan sangat sederhana.

Bukan melalui kejadian besar.

Bukan melalui keajaiban yang menggemparkan.

Tetapi melalui kesadaran kecil yang berulang:

Singgah adalah ikhtiar.

Hasil adalah urusan Allah.

Saya tidak ditugaskan untuk menciptakan rezeki.

Saya tidak ditugaskan untuk memastikan closing.

Saya tidak ditugaskan untuk mengendalikan hati manusia.

Saya hanya ditugaskan untuk hadir.

Menyapa.

Singgah ketika ada kesempatan yang baik.

Menawarkan dengan adab.

Lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

Ternyata, langkah yang tenang tidak membuat saya malas.

Justru membuat saya lebih hadir.

Saya tidak lagi harus berangkat dengan ledakan semangat yang menghabiskan energi sebelum perjalanan dimulai.

Saya tidak perlu membayangkan hasil yang terlalu jauh.

Saya tidak perlu menyelamatkan seluruh masa depan dalam satu hari.

Saya cukup menjalankan amanah hari ini.

Satu langkah.

Satu orang.

Satu pertemuan.

Satu brosur.

Saya juga belajar menjaga amanah tubuh.

Jika lelah, beristirahat.

Jika haus, minum.

Jika lapar, makan.

Jika Jumat tiba, memenuhi panggilan Allah.

Karena ternyata:

Prospek bukan Tuhan.

Hasil bukan Tuhan.

Uang bukan Tuhan.

Allah-lah Tuhan.

Mungkin inilah runtuhnya semangat yang dulu saya banggakan.

Semangat yang penuh ketegangan.

Semangat yang bercampur ketakutan.

Semangat yang ingin mengendalikan hasil.

Semangat yang membuat saya lupa bahwa saya hanyalah hamba.

Dan dari runtuhnya semangat itu, Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih sunyi.

Lebih sederhana.

Lebih ringan.

Yaitu ketekunan.

Kehadiran.

Kesabaran.

Syukur.

Ikhtiar.

Dan tawakal.

Sekarang saya belum sempurna.

Kadang bisikan lama masih datang.

Kadang hati masih ingin tergesa-gesa.

Kadang bayangan lama masih mengetuk pintu.

Namun saya tidak lagi harus mempercayai semuanya.

Saya cukup menyadarinya.

Lalu kembali kepada langkah yang ada di depan mata.

Maka hari ini saya memahami:

Dulu saya ingin menjadi penyelamat hidup saya sendiri.

Kini saya belajar menjadi hamba.

Dulu saya ingin menggenggam hasil.

Kini saya belajar menggenggam amanah.

Dulu saya berangkat dengan keramaian di dalam kepala.

Kini saya belajar berjalan dalam sunyi.

Dan mungkin, setelah puluhan tahun berputar-putar, inilah sedikit jalan kebenaran yang Allah tunjukkan kepada saya:

Bahwa bukan semangat yang menggebu yang paling dibutuhkan, tetapi hati yang jernih.

Bukan angan-angan yang besar, tetapi langkah yang hadir.

Bukan memikul seluruh masa depan, tetapi menjalankan amanah hari ini.

Bukan mengendalikan hasil, tetapi bertawakal kepada Pemilik segala hasil.

Dan untuk semua itu, saya hanya bisa berkata:

Alhamdulillah.

Bukan karena saya telah sampai.

Tetapi karena akhirnya Allah berkenan menunjukkan sedikit jalan kebenaran kepada seorang hamba yang selama ini lelah membawa beban yang bukan miliknya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”