Ketika Hati, Pikiran, dan Tubuh Mulai Sejalan

Ketika Hati, Pikiran, dan Tubuh Mulai Sejalan

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa sangat sibuk, bergerak ke sana kemari, memikirkan banyak hal, tetapi pada akhirnya sedikit sekali yang benar-benar selesai. Waktu habis, tenaga terkuras, namun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan.

Dulu saya mengira masalahnya terletak pada kurangnya rencana. Saya berpikir bahwa jika memiliki tujuan yang jelas, maka semua akan berjalan dengan baik. Namun setelah diamati, ternyata persoalannya tidak sesederhana itu.

Hari ini saya mulai melihat bahwa sering kali masalah bukan terletak pada tidak adanya rencana, melainkan pada ketidaksinkronan antara hati, pikiran, dan tubuh.

Pikiran sudah membuat rute perjalanan. Tujuan sudah ditentukan. Daftar konsumen yang akan dikunjungi sudah ada. Namun ketika sampai di depan lokasi, muncul pertimbangan baru.

"Bagaimana kalau tidak jadi order?"

"Bagaimana kalau nanti saja?"

"Bagaimana kalau ke tempat lain terlebih dahulu?"

Pertimbangan demi pertimbangan berkembang. Akhirnya tubuh terus bergerak, tetapi tujuan yang telah direncanakan justru dilewati. Dari sepuluh lokasi yang direncanakan, mungkin hanya dua yang benar-benar disinggahi.

Secara lahiriah tampak sibuk. Namun jika direnungkan, kesibukan itu tidak efektif dan tidak efisien.

Dari sinilah saya mulai memahami bahwa dalam diri manusia ada beberapa unsur yang saling memengaruhi.

Pikiran berfungsi untuk mempertimbangkan dan merencanakan.

Hati berfungsi menerima, meyakini, dan memberi arah batin.

Tubuh berfungsi menjalankan tindakan nyata.

Ketika ketiganya tidak sejalan, muncullah berbagai gejala yang sering kita rasakan: ragu-ragu, menunda, gelisah, dan kehilangan fokus.

Pikiran berkata, "Singgah ke tempat ini."

Namun hati belum menerima keputusan itu.

Tubuh akhirnya tidak bergerak sesuai rencana.

Lalu muncullah rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Sebaliknya, ketika pikiran telah membuat keputusan yang baik, hati menerimanya, dan tubuh menjalankannya, muncul keadaan yang berbeda. Rasa menjadi lebih tenang. Bukan karena hasil sudah diketahui, tetapi karena tidak ada lagi pertentangan besar di dalam diri.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa ketenangan bukan berarti tidak memiliki masalah.

Hari ini kebutuhan masih ada. Tanggung jawab masih ada. Urusan keluarga masih ada. Kewajiban-kewajiban masih menunggu penyelesaian.

Namun ketenangan muncul ketika kita mengetahui apa yang menjadi bagian kita dan apa yang menjadi bagian Allah.

Bagian kita adalah ikhtiar.

Bagian Allah adalah hasil.

Karena itu saya mulai belajar menjalankan prinsip yang sederhana: 0,00...1.

Tidak perlu langsung menyelesaikan seluruh persoalan.

Tidak perlu memastikan seluruh hasil.

Cukup lakukan satu langkah yang berada dalam kendali kita saat ini.

Turun dari kendaraan.

Masuk ke toko.

Menyapa konsumen.

Menjalankan rute yang telah direncanakan.

Menghubungi pelanggan lama.

Satu langkah kecil demi satu langkah kecil.

Jika hati menerima bahwa hasil berada di tangan Allah, maka pikiran tidak perlu terus-menerus mengulang keputusan yang sama. Tubuh pun lebih mudah bergerak menjalankan tugasnya.

Dari sini saya belajar bahwa rasa bukanlah musuh yang harus dihilangkan. Rasa tetap ada. Kekhawatiran tetap ada. Harapan tetap ada. Namun ketika hati, pikiran, dan tubuh mulai sejalan, rasa tidak lagi menguasai seluruh tindakan. Ia hadir sebagai bagian dari pengalaman manusia, tetapi tidak menghalangi langkah.

Mungkin inilah salah satu bentuk tawakal yang sedang saya pelajari.

Merencanakan dengan akal.

Menerima dengan hati.

Melangkah dengan tubuh.

Lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

Wallahu a'lam. Namun semakin hari saya semakin melihat bahwa hidup menjadi lebih ringan bukan karena semua masalah telah selesai, melainkan karena hati mulai memahami bahwa tugas kita hanyalah melangkah, sedangkan Allah yang menentukan ke mana langkah itu akan bermuara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”