Ketika Sandaran Hati Berubah
Ketika Sandaran Hati Berubah
Sore ini saya mendapatkan pelajaran yang terasa sangat nyata dalam kehidupan. Bukan pelajaran dari buku, bukan pula dari kajian yang panjang, melainkan dari sebuah keadaan yang sedang saya hadapi.
Pihak sekolah menyampaikan bahwa ujian Ananda Athirah akan ditunda apabila belum ada pembayaran yang masuk. Secara manusiawi, tentu ada rasa sedih. Saya juga memikirkan perasaan Athirah dan bagaimana saya harus menjelaskan keadaan ini kepadanya.
Namun yang menarik, kali ini saya merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Dahulu, ketika menghadapi tekanan keuangan, pikiran saya langsung bergerak mencari jalan keluar dengan cara yang penuh kepanikan. Fokus utama saya adalah mencari siapa yang bisa dipinjam uangnya, siapa yang bisa dimintai bantuan, dan ke mana lagi saya harus pergi. Pikiran berlari ke sana kemari, tubuh ikut tegang, hati gelisah, dan sering kali berakhir dengan kelelahan serta kekecewaan.
Saat itu saya merasa sedang berikhtiar, padahal jika direnungkan kembali, sebagian besar tenaga saya justru habis untuk mengejar kepastian dari manusia.
Sore ini saya melihat sesuatu yang berbeda.
Ketika menerima informasi dari sekolah, saya tidak merasakan kepanikan seperti dahulu. Ada rasa sedih, ada rasa haru, ada kekhawatiran terhadap Athirah, tetapi tidak ada dorongan untuk menyalahkan diri sendiri, tidak ada kemarahan kepada pihak sekolah, dan tidak ada keinginan untuk berlari ke sana kemari mencari pinjaman dengan penuh tekanan.
Yang saya rasakan justru sebuah ketenangan yang sulit dijelaskan.
Awalnya saya sempat bertanya kepada diri sendiri:
"Mengapa saya seperti kehilangan semangat?"
"Mengapa saya tidak ngotot seperti dulu padahal kebutuhan ini sangat mendesak?"
Setelah merenung, saya mulai memahami bahwa mungkin yang hilang bukan semangat, melainkan kepanikan yang selama ini saya anggap sebagai semangat.
Dulu saya bergerak karena takut.
Sekarang saya mencoba bergerak karena kesadaran dan tanggung jawab.
Dulu saya merasa harus segera mendapatkan solusi.
Sekarang saya berusaha melakukan bagian yang mampu saya lakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Perubahan yang paling terasa adalah pada sandaran hati.
Dahulu urutannya seperti ini:
Masalah datang → mencari orang yang bisa membantu → berharap kepada orang tersebut → baru berharap kepada Allah agar orang itu membantu.
Tanpa sadar, manusia sering menjadi tujuan pertama, sedangkan Allah menjadi harapan kedua.
Kini saya merasakan urutan yang berbeda:
Masalah datang → berharap kepada Allah → memohon pertolongan-Nya → kemudian menjalankan sebab-sebab yang tersedia.
Saya tetap menerima jika ada yang membantu. Saya tetap berterima kasih kepada siapa pun yang menjadi perantara kebaikan. Namun hati saya mulai belajar bahwa yang menggerakkan manusia untuk membantu adalah Allah, bukan manusia itu sendiri.
Jika bantuan datang, saya bersyukur kepada Allah.
Jika bantuan belum datang, saya tetap berharap kepada Allah.
Karena manusia hanyalah sebab, sedangkan Allah adalah sumber pertolongan.
Saya juga menyadari bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal bukan berarti duduk menunggu keajaiban. Tawakal adalah tetap bergerak dengan sungguh-sungguh tanpa harus diseret oleh kepanikan.
Malam ini mungkin saya akan lebih banyak bermunajat kepada Allah. Bukan semata-mata meminta agar masalah ini segera selesai, tetapi juga memohon agar hati tetap tenang, pikiran tetap jernih, dan langkah tetap diarahkan kepada jalan yang benar.
Masalah ini mungkin belum selesai hari ini.
Ujian Athirah mungkin saja benar-benar tertunda.
Rezeki yang saya harapkan mungkin belum tampak.
Namun ada satu nikmat yang saya syukuri:
Allah telah memperlihatkan kepada saya bahwa selama ini saya sering menggantungkan harapan kepada sebab, sementara perlahan-lahan Dia sedang mengajarkan saya untuk menggantungkan harapan kepada-Nya.
Dan bisa jadi, pelajaran tentang sandaran hati ini jauh lebih berharga daripada sekadar selesainya satu masalah yang sedang saya hadapi.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Komentar
Posting Komentar