Ketika Saya Berhenti Menyalahkan Keadaan dan Mulai Melihat ke Dalam Diri
Ketika Saya Berhenti Menyalahkan Keadaan dan Mulai Melihat ke Dalam Diri
Beberapa waktu terakhir, saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian saya.
Selama bertahun-tahun, ketika hasil tidak sesuai harapan, perhatian saya sering tertuju ke luar diri.
Saya melihat hujan.
Saya melihat panas.
Saya melihat kondisi ekonomi.
Saya melihat orang yang tidak ramah.
Saya melihat masa sepi pembeli.
Saya melihat berbagai keadaan yang tampaknya menjadi penghalang.
Semua itu memang nyata. Tidak ada yang salah dengan mengakuinya. Hujan memang ada. Panas memang ada. Masa sulit memang ada.
Namun perlahan saya mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah benar semua penghambat itu berada di luar diri saya?"
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi ternyata cukup mengguncang.
Belajar Melihat yang Selama Ini Tidak Terlihat
Suatu sore saya merencanakan beberapa kunjungan.
Ada yang kacamatanya ternyata masih bagus.
Ada yang tidak berada di rumah.
Ada yang tampaknya belum membutuhkan produk yang saya tawarkan.
Awalnya saya menganggap semua itu sebagai faktor luar.
Tetapi kemudian saya menemukan sesuatu yang lain.
Saat hendak singgah ke salah satu rumah, muncul dorongan dalam hati:
"Jangan dulu."
Menariknya, saya tidak langsung menolak dorongan itu.
Saya mulai mengamatinya.
Mengapa jangan dulu?
Apakah karena memang ada alasan yang masuk akal?
Ataukah karena saya takut ditolak?
Apakah karena ada amanah lain yang lebih penting?
Ataukah karena saya sedang merasa kurang percaya diri?
Di sinilah saya mulai belajar membedakan sesuatu yang selama ini bercampur.
Tidak Semua Larangan Itu Bisikan Setan
Dulu saya cenderung berpikir bahwa setiap dorongan untuk tidak maju adalah gangguan yang harus dilawan.
Namun ternyata tidak sesederhana itu.
Kadang akal sehat berkata:
"Jangan masuk sekarang. Orangnya tidak ada."
Kadang akal sehat berkata:
"Ada anjing yang berpotensi membahayakan."
Kadang akal sehat berkata:
"Ada amanah keluarga yang lebih mendesak."
Semua itu bukan bisikan setan.
Itu adalah pertimbangan yang sehat.
Yang perlu diperhatikan justru ketika suara itu berkata:
"Jangan masuk. Nanti ditolak."
"Jangan masuk. Nanti malu."
"Jangan masuk. Percuma."
Di titik inilah saya mulai melihat bahwa sering kali yang menghambat bukan keadaan di luar, tetapi keadaan di dalam.
Keselarasan yang Mulai Saya Pahami
Saya juga mulai memahami makna keselarasan dengan cara yang lebih sederhana.
Keselarasan bukan berarti semua berjalan mulus.
Keselarasan bukan berarti semua target tercapai.
Keselarasan adalah ketika:
Pikiran membuat rencana.
Hati menerima rencana itu dengan lapang.
Tubuh menjalankan apa yang telah direncanakan.
Kemudian hasilnya diserahkan kepada Allah.
Saya mulai melihat bahwa selama ini sering terjadi pertentangan di dalam diri.
Pikiran ingin maju.
Tetapi hati takut.
Pikiran ingin singgah.
Tetapi tubuh menunda.
Pikiran ingin berikhtiar.
Tetapi perasaan sibuk membayangkan penolakan.
Akibatnya energi habis sebelum langkah benar-benar dilakukan.
Pola 0.0001
Saya juga menyadari bahwa perubahan tidak harus besar.
Selama ini saya sering berpikir bahwa keberanian berarti tidak takut.
Ternyata tidak.
Keberanian bisa berarti:
Takut, tetapi tetap melangkah.
Ragu, tetapi tetap bergerak.
Waswas, tetapi tetap menjalankan apa yang diyakini benar.
Mungkin hanya satu langkah kecil.
Mungkin hanya satu kunjungan tambahan.
Mungkin hanya satu sapaan yang sebelumnya tidak berani dilakukan.
Saya menyebutnya langkah 0.0001.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi tetap bergerak.
Tentang Impian dan Takdir
Saya masih memiliki impian.
Saya masih memiliki target.
Saya masih memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai.
Saya membayangkannya.
Saya menuliskannya.
Saya menjadikannya sebagai penyemangat.
Namun perlahan saya juga memahami bahwa gambaran yang ada di kepala saya bukanlah takdir.
Itu hanyalah harapan.
Allah bisa mewujudkannya persis seperti yang saya bayangkan.
Allah bisa mewujudkannya dengan cara yang berbeda.
Allah bisa memberikannya secara bertahap.
Allah bisa membuka pintu yang bahkan tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Tugas saya bukan memastikan hasil.
Tugas saya adalah memperbaiki kualitas ikhtiar.
Menemukan Musuh yang Sesungguhnya
Hari ini impian saya mungkin belum sepenuhnya terwujud.
Masalah-masalah saya mungkin belum sepenuhnya selesai.
Namun saya bersyukur karena Allah mulai memperlihatkan sesuatu yang lebih penting.
Saya mulai melihat apa yang selama ini menghambat langkah saya.
Bukan hujan.
Bukan panas.
Bukan masa sulit.
Bukan keadaan.
Melainkan ketakutan, keraguan, gengsi, dan berbagai penghalang yang tersembunyi di dalam diri.
Dan ketika penghalang itu mulai terlihat, saya merasa lebih tenang.
Karena sesuatu yang terlihat bisa diperbaiki.
Sedikit demi sedikit.
Langkah demi langkah.
0.0001 demi 0.0001.
Sambil terus berikhtiar, berharap kepada Allah, dan menerima bahwa hasil terbaik tetap berada dalam genggaman-Nya.
Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar