Ketika Target Hilang dari Pikiran
Ketika Target Hilang dari Pikiran
Beberapa hari terakhir saya mengalami sesuatu yang menarik dalam perjalanan memahami ikhtiar dan tawakkal.
Awalnya saya berusaha menghindari orientasi hasil. Saya memahami bahwa hasil bukan berada dalam genggaman manusia. Hasil adalah ketentuan Allah. Dari pemahaman itu, tanpa sadar saya mulai menjauh dari target, angka, dan bayangan hasil yang selama ini menjadi arah usaha.
Akibatnya muncul perasaan aneh.
Saya tetap bergerak, tetapi seperti kehilangan arah. Saya mendatangi orang, menawarkan produk, dan menjalankan aktivitas harian, namun terasa ada sesuatu yang hilang. Semangat berkurang. Energi tidak seperti biasanya. Seolah-olah saya sedang mengejar sesuatu yang tidak ada bentuknya.
Baru kemudian saya mulai memahami bahwa mungkin selama ini saya mencampuradukkan antara target dan kepastian.
Saya mengira bahwa karena hasil tidak boleh dipastikan, maka target juga harus dilepaskan. Ternyata keduanya berbeda.
Target hanyalah arah.
Misalnya saya ingin memperoleh Rp350.000 dalam sehari. Angka itu bukan kepastian, melainkan tujuan yang memberi arah bagi langkah. Dari angka itu saya dapat memperkirakan berapa banyak kacamata yang perlu terjual, berapa orang yang perlu ditemui, dan strategi apa yang perlu diperbaiki.
Saya menyadari bahwa bayangan, prediksi, perkiraan, dan keinginan bukanlah musuh tawakkal. Justru semuanya merupakan bagian dari ikhtiar. Yang perlu dijaga adalah ketika perkiraan berubah menjadi tuntutan.
Masalahnya bukan pada kalimat:
"Saya ingin mendapatkan Rp350.000 hari ini."
Masalahnya muncul ketika berubah menjadi:
"Saya harus mendapatkan Rp350.000 hari ini."
Di situlah hati mulai terbebani oleh sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Hari ini saya merasa memperoleh pemahaman yang lebih jernih.
Saya boleh memiliki target.
Saya boleh berharap.
Saya boleh menghitung peluang.
Saya boleh memperkirakan hasil.
Saya boleh belajar dari pola-pola yang berhasil.
Namun saya tidak boleh memastikan sesuatu yang masih berada dalam wilayah takdir Allah.
Jika hasil sesuai harapan, saya bersyukur.
Jika hasil belum sesuai harapan, saya memperbaiki metode, jumlah kunjungan, kualitas komunikasi, serta terus belajar dari pengalaman.
Ternyata tawakkal bukan berarti menghilangkan tujuan. Tawakkal adalah menjaga hati agar tidak bergantung pada kepastian hasil.
Saya mulai memahami bahwa orientasi hasil yang keliru bukanlah memiliki target, melainkan menjadikan target sebagai sesuatu yang wajib terjadi.
Mungkin inilah pelajaran yang Allah ajarkan kepada saya beberapa hari terakhir.
Bukan membuang hasil dari pikiran, tetapi membuang klaim kepastian atas hasil.
Target tetap ada.
Ikhtiar tetap berjalan.
Perhitungan tetap digunakan.
Sementara hati tetap menyadari bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar