Ruh dari Langit, Maka Ketenangannya Ada pada Al-Qur’an

Penyampaian Dr. Ust. Qasim Saguni 

Penyampaian Ustaz menekankan bahwa sumber kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, pujian manusia, atau sekadar kesenangan dunia, tetapi pada ketenangan hati. Karena itu bahagia tidak cukup hanya dipikirkan oleh akal atau diucapkan oleh lisan, melainkan harus dirasakan di dalam hati.

Setiap ciptaan memiliki kebutuhan. Fisik manusia berasal dari bumi, maka kebutuhannya juga berasal dari bumi seperti makanan, minuman, dan berbagai kenikmatan dunia. Ketika lapar, tubuh membutuhkan makan. Jika kebutuhan fisik tidak dipenuhi, tubuh menjadi lemah.

Akal juga memiliki kebutuhan, yaitu ilmu. Jika akal tidak diisi ilmu, maka manusia akan mudah bodoh dan salah arah.

Begitu pula hati atau ruh. Ruh berasal dari langit dan ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia ketika masih dalam kandungan. Karena asalnya dari langit, maka kebutuhan ruh juga berasal dari langit. Yang paling agung turun dari langit adalah Al-Qur’an. Maka hati tidak akan benar-benar tenang kecuali dekat dengan Al-Qur’an.

Inilah sebabnya banyak orang merasakan ketenangan dan kebahagiaan pada bulan Ramadan. Bukan semata karena makanan berbuka atau suasana ramai, tetapi karena pada bulan itu manusia lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an: membaca, mendengar, mentadabburi, dan mengamalkannya. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin hidup dan tenang hatinya.

Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari, hati juga membutuhkan “makanan ruh” berupa Al-Qur’an, dzikir, dan kedekatan kepada Allah. Jika hati jauh dari itu, maka meskipun dunia dimiliki, seseorang tetap bisa merasa kosong dan gelisah.

Ada peserta ditanya oleh ustaz. Jawabannya : Peserta tersebut menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah Allah siapkan jalannya. Manusia tidak perlu bingung mencari ke mana arah hidup, karena Allah telah menurunkan petunjuk berupa Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Sering kali manusia mencari kebahagiaan melalui banyak jalan: harta, popularitas, kesenangan dunia, atau mengikuti hawa nafsu. Namun semua itu tidak selalu menghadirkan ketenangan. Karena hati manusia diciptakan oleh Allah, maka yang paling mengetahui jalan kebahagiaan hati adalah Allah sendiri.

Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk hidup. Di dalamnya terdapat arahan tentang akidah, ibadah, akhlak, kesabaran, syukur, hubungan dengan manusia, hingga cara menghadapi ujian kehidupan. Sunnah Rasulullah ﷺ menjadi contoh nyata bagaimana Al-Qur’an dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah tidak akan tersesat. Artinya, hidupnya memiliki arah, hati lebih tenang, dan langkahnya lebih terjaga.

Kesimpulannya, kebahagiaan bukan sesuatu yang harus diciptakan sendiri oleh manusia dengan mengikuti keinginan dunia tanpa batas. Jalan kebahagiaan sudah Allah tunjukkan. Tinggal apakah manusia mau mengikuti petunjuk itu atau mencari jalan lain yang justru membuat hati semakin jauh dari ketenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”