Ketika Hati Tunduk, Siapa yang Menyaksikan?

Ketika Hati Tunduk, Siapa yang Menyaksikan?

Beberapa hari terakhir terasa seperti perjalanan yang panjang. Bukan perjalanan jauh dalam ukuran kilometer, tetapi perjalanan batin yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan.

Masalah datang silih berganti. Uang sekolah Athirah, cicilan yang harus dibayar, kebutuhan harian, usaha yang belum stabil, kendaraan yang mulai sering bermasalah, dan berbagai urusan lain yang seolah datang bersamaan. Pada satu sisi saya harus bergerak dan mencari solusi. Pada sisi lain, saya menyadari bahwa kemampuan saya sangat terbatas.

Dahulu, ketika menghadapi situasi seperti ini, yang muncul adalah kepanikan. Pikiran berlari ke mana-mana. Tubuh ikut tegang. Hati seperti terus-menerus mencari pegangan pada sesuatu di luar dirinya. Jika ada orang yang mungkin bisa membantu, pikiran langsung tertuju ke sana. Jika ada kemungkinan meminjam, harapan langsung bergantung pada itu. Ketika harapan tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Masalahnya belum tentu lebih ringan. Tetapi ada kesadaran yang perlahan tumbuh. Kesadaran bahwa saya tidak mampu mengendalikan semua keadaan. Kesadaran bahwa saya hanyalah seorang hamba yang diberi kemampuan terbatas.

Ketika kesadaran itu muncul, saya tidak menjadi lemah. Justru saya merasa lebih jujur terhadap diri sendiri.

Saya tetap berusaha.

Saya tetap keluar menemui konsumen.

Saya tetap membagikan brosur.

Saya tetap memperbaiki kendaraan yang rusak.

Saya tetap mencari jalan untuk menyelesaikan kewajiban.

Tetapi ada sesuatu yang mulai berubah. Hati tidak lagi menggantungkan dirinya kepada hasil yang belum terjadi.

Lalu Allah membukakan jalan.

Athirah dapat kembali mengikuti ujian.

Bantuan datang dari orang tua.

Komunikasi dengan sekolah menemukan titik terang.

Masalah memang belum seluruhnya selesai, tetapi jalan mulai terlihat.

Dan di situlah saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Bukan sekadar lega.

Bukan sekadar senang.

Tetapi ada ketenangan yang lebih dalam.

Seolah hati berkata:

"Cukuplah Allah bagiku."

Di tengah ketenangan itu muncul pertanyaan yang sudah beberapa kali hadir dalam perjalanan ini.

Ketika hati mulai tenang, ketika pikiran tidak lagi terlalu gaduh, saya menyadari ada sesuatu yang memperhatikan semua yang sedang terjadi.

Saya melihat pikiran yang sedang berpikir.

Saya melihat perasaan yang sedang merasa.

Saya melihat kecemasan yang datang dan pergi.

Saya melihat syukur yang muncul ketika pertolongan datang.

Tetapi siapakah yang melihat semua itu?

Di sinilah saya mulai merenung.

Pikiran jelas bukan penyaksi itu, karena pikiran sendiri dapat diamati.

Perasaan juga bukan penyaksi itu, karena perasaan datang dan pergi.

Tubuh bukan penyaksi itu, karena tubuh berubah dari waktu ke waktu.

Lalu siapakah yang menyaksikan semuanya?

Dalam perjalanan tasawuf, para ulama sering mengajak manusia untuk mengenal dirinya. Bukan sekadar mengenal nama, pekerjaan, atau kedudukannya, tetapi mengenal lapisan-lapisan yang lebih dalam dalam dirinya.

Ketika seseorang mulai menyadari pikirannya, ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai pikiran.

Ketika seseorang mulai menyadari emosinya, ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai emosi.

Ketika seseorang mulai menyadari ketakutannya, ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai ketakutan.

Muncul ruang batin yang lebih luas.

Di dalam ruang itulah seseorang mulai merasakan kehadiran kesadaran.

Namun tasawuf Islam mengingatkan bahwa kesadaran itu bukanlah tujuan akhir.

Karena jika seseorang berhenti pada kesadaran dirinya, ia masih berada pada dirinya.

Kesadaran sejati justru mengantarkan manusia pada pengakuan yang lebih dalam:

"Aku hanyalah hamba."

Semakin jernih seseorang melihat dirinya, semakin jelas pula ia melihat keterbatasannya.

Dan semakin jelas ia melihat keterbatasannya, semakin mudah ia melihat kebesaran Allah.

Di titik itu, kesadaran bukan lagi sekadar menyaksikan diri.

Kesadaran mulai menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang bekerja dalam hidupnya.

Pertolongan yang datang melalui orang tua.

Kemudahan yang muncul melalui sekolah.

Jalan keluar yang terbuka setelah kebuntuan.

Ketetapan yang datang pada waktu yang tidak pernah bisa dihitung oleh manusia.

Secara filsafat, manusia sering ingin menjadi pengendali hidupnya.

Kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Kita ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana.

Kita ingin menguasai hasil dari setiap usaha.

Tetapi kehidupan berkali-kali mengajarkan bahwa kemampuan manusia sangat terbatas.

Kita hanya menguasai sebagian kecil dari proses.

Kita tidak menguasai hasil.

Kita tidak menguasai hati manusia.

Kita tidak menguasai takdir.

Ketika manusia mencoba menguasai semuanya, lahirlah kegelisahan.

Ketika manusia menerima keterbatasannya, lahirlah ketenangan.

Bukan karena masalah hilang, tetapi karena ia tidak lagi memikul sesuatu yang memang bukan tugasnya untuk dipikul.

Mungkin inilah yang saya rasakan hari ini.

Bukan berarti saya telah mencapai apa-apa.

Bukan berarti saya telah bebas dari rasa takut.

Bukan berarti saya tidak lagi memiliki masalah.

Tetapi saya mulai memahami sedikit demi sedikit bahwa ketenangan bukan muncul ketika semua masalah selesai.

Ketenangan muncul ketika hati tunduk.

Tunduk bukan kepada keadaan.

Tunduk bukan kepada manusia.

Tunduk bukan kepada rasa takut.

Tetapi tunduk kepada Allah.

Dan ketika hati tunduk kepada-Nya, muncul kesadaran yang lebih jernih.

Kesadaran bahwa saya hanyalah seorang hamba yang sedang berjalan.

Melangkah sedikit demi sedikit.

Berikhtiar dengan kemampuan yang ada.

Lalu menyerahkan hasilnya kepada Dia yang menggenggam seluruh urusan langit dan bumi.

Di situlah saya mulai memahami bahwa mungkin tujuan perjalanan ini bukan sekadar menyelesaikan masalah.

Melainkan mengenal siapa diri ini sebenarnya.

Dan lebih dari itu, mengenal kepada siapa hati ini seharusnya bersandar.

Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”