Ketika Aku Mengakui Kelemahan, Aku Melihat Pertolongan Allah

Ketika Aku Mengakui Kelemahan, Aku Melihat Pertolongan Allah

Beberapa hari terakhir adalah hari-hari yang cukup berat. Pikiran dipenuhi berbagai persoalan yang datang hampir bersamaan. Uang sekolah Athirah, cicilan yang harus dibayar, kebutuhan obat, kebutuhan harian, serta usaha yang terasa semakin tidak mudah. Di saat yang sama, kendaraan yang menjadi alat ikhtiar juga mulai sering bermasalah.

Dahulu, ketika berada dalam kondisi seperti ini, yang muncul adalah kepanikan. Pikiran berlari ke mana-mana mencari jalan keluar. Siapa yang bisa dipinjam? Siapa yang bisa membantu? Ke mana harus mengadu? Hati terasa sesak, tubuh ikut tegang, dan doa sering kali hanya keluar dari lisan sementara pikiran tetap tenggelam dalam masalah.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Masalahnya tidak lebih kecil. Bahkan mungkin lebih berat dari beberapa masalah yang pernah dihadapi sebelumnya. Akan tetapi, ada perubahan yang perlahan Allah perlihatkan di dalam diri. Saya mulai menyadari bahwa selama ini yang paling melelahkan bukan hanya masalah itu sendiri, tetapi keinginan untuk mengendalikan semuanya dengan kemampuan yang sangat terbatas.

Saya mulai belajar mengakui kelemahan.

Saya mulai belajar berkata kepada diri sendiri:

"Saya memang tidak mampu menyelesaikan semuanya."

"Saya memang memiliki keterbatasan."

"Saya hanya mampu melakukan apa yang Allah berikan kemampuan kepada saya."

Anehnya, ketika pengakuan itu muncul, hati justru menjadi lebih ringan.

Bukan ringan karena masalah telah selesai. Bukan pula karena semua kebutuhan telah terpenuhi. Tetapi ringan karena saya tidak lagi memaksa diri menjadi pengatur segala sesuatu. Saya mulai menerima bahwa ada wilayah ikhtiar yang harus saya kerjakan, dan ada wilayah yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.

Hari itu saya tetap keluar menemui konsumen. Dari satu tempat ke tempat lain. Hasilnya tidak besar. Hanya sedikit demi sedikit. Bahkan ada saat di mana saya berhenti sejenak dan berpikir secara realistis. Secara hitungan manusia, kondisi yang ada memang terasa berat.

Lalu saya menghubungi keluarga di kampung.

Bukan karena panik. Bukan karena putus asa. Tetapi karena saya melihatnya sebagai salah satu pintu ikhtiar yang masih mungkin ditempuh.

Di dalam hati saya berkata:

"Jika ada bantuan, saya bersyukur."

"Jika tidak ada, saya juga menerima."

Saya tidak lagi menggantungkan harapan kepada manusia. Saya hanya berharap kepada Allah, sementara manusia hanyalah salah satu jalan yang mungkin Allah pilih.

Tidak lama kemudian kabar itu datang.

Ayah bersedia membantu.

Saat membaca pesan itu, tanpa terasa air mata keluar. Bukan semata-mata karena bantuan yang diberikan. Tetapi karena saya merasakan kasih sayang yang tidak pernah pudar dari seorang ayah kepada anaknya. Di usia yang tidak lagi muda, kebaikan dan kepeduliannya masih tetap sama.

Pada saat yang sama, saya merasakan sesuatu yang lebih dalam.

Saya merasakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Selama ini saya sering mengira pertolongan Allah harus datang dalam bentuk penyelesaian masalah yang besar dan cepat. Padahal sering kali pertolongan itu hadir sedikit demi sedikit. Melalui orang tua. Melalui teman. Melalui pelanggan. Melalui guru yang masih berusaha mencarikan jalan. Bahkan melalui masalah-masalah kecil yang ternyata mengajarkan kesabaran.

Saya teringat kisah Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah. Air Zamzam tidak muncul ketika beliau sedang berlari. Air itu muncul setelah beliau menyelesaikan ikhtiarnya dan menyadari bahwa selebihnya bukan lagi wilayah yang bisa dikendalikan oleh manusia.

Mungkin di situlah saya mulai memahami sesuatu.

Tawakkal bukan berarti berhenti berusaha.

Tawakkal juga bukan berarti menyerah karena putus asa.

Tawakkal adalah ketika seseorang telah melakukan apa yang mampu dilakukannya, lalu mengakui dengan jujur bahwa dirinya memiliki keterbatasan. Setelah itu ia menyerahkan urusan yang tidak mampu dijangkaunya kepada Allah.

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa mengakui kelemahan bukanlah kekalahan.

Justru ketika saya mengakui kelemahan di hadapan Allah, saya mulai melihat betapa luas pertolongan-Nya.

Saya tetap melangkah dengan kemampuan yang hanya 0,000...1.

Saya tetap berusaha dengan apa yang ada di tangan.

Tetapi kini saya lebih memahami bahwa yang menggerakkan langkah, membuka jalan, dan menyelesaikan urusan bukanlah saya.

Melainkan Allah, Rabb yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang terus berharap kepada-Nya.

Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”