Ketika Petunjuk Menjadi Sandaran Langkah
Ketika Petunjuk Menjadi Sandaran Langkah
Hari ini saya kembali memahami satu hal kecil dalam perjalanan hidup: ketika petunjuk dijadikan sandaran dalam bertindak, langkah terasa ringan.
Bukan berarti tubuh tidak merasakan lelah. Pikiran tetap bekerja, rasa tetap bergerak, dan badan tetap merasakan capek sebagaimana manusia biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Ketika seseorang mengikuti petunjuk yang Allah berikan dalam hati, langkah terasa lebih tenang. Pikiran tidak terlalu dipenuhi tekanan. Hati tidak dipenuhi ambisi berlebihan.
Semua berjalan dengan normal.
Saya mulai memahami bahwa jika langkah dilakukan dengan niat yang benar, maka setiap langkah bisa menjadi ibadah. Karena yang kita lakukan sebenarnya hanyalah menjalankan perintah untuk berusaha, sementara hasil tetap berada dalam kehendak Allah.
Hari itu Allah memperlihatkan beberapa peristiwa kecil yang membuat hati semakin bersyukur.
Di perjalanan saya bertemu seorang ibu yang sedang memiliki masalah dengan anak dan menantunya. Ia terlihat tidak nyaman dengan keadaan keluarga yang sedang dijalaninya.
Saya mencoba menyampaikan satu nasihat sederhana dengan sebuah perumpamaan.
Saya berkata bahwa hubungan manusia kadang seperti proyektor dan layar. Apa yang terlihat di layar sebenarnya berasal dari program yang ada di dalam proyektor.
Jika gambar di layar tidak baik, maka yang perlu diperbaiki bukan layar itu sendiri, tetapi program yang ada di proyektor.
Begitu juga dalam kehidupan. Jika hubungan dengan orang lain terasa tidak nyaman, kadang yang perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah keadaan hati dan cara pandang kita sendiri.
Ketika “proyektor” berubah, maka “layar” pun akan berubah.
Setelah cukup lama berbincang, ibu itu akhirnya mengucapkan terima kasih.
Tidak lama setelah itu saya juga bertemu dengan seseorang yang sedang mengalami stroke. Ia banyak mengeluh tentang keadaan tubuhnya.
Saya mencoba menjelaskan pemahaman yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali tentang hubungan pikiran, rasa, dan tubuh.
Ketiganya saling mempengaruhi.
Apa yang dipikirkan akan mempengaruhi perasaan.
Apa yang dirasakan akan mempengaruhi tubuh.
Saya menyarankan agar ia mencoba mengatur pola makan dan menjaga pikirannya agar lebih tenang. Ia mendengarkan dengan baik, lalu berkata:
“Singgah saja kalau lewat, Pak. Nanti kalau ada rezeki saya mau ukur kacamata.”
Hari itu saya tidak merasa bekerja terlalu keras.
Langkah terasa santai. Brosur yang terbagi sekitar dua puluh delapan lembar. Namun tanpa terasa rezeki yang Allah berikan sekitar dua ratus lima belas ribu rupiah.
Saya teringat hari sebelumnya.
Saat itu brosur yang terbagi sekitar enam puluh lembar, tetapi hasilnya hanya sekitar seratus ribu rupiah.
Di situlah saya kembali belajar satu pelajaran penting.
Dalam bekerja, ketenangan sering lebih bernilai daripada tergesa-gesa.
Langkah yang santai tetapi fokus kadang lebih efektif daripada langkah yang penuh tekanan.
Hari ini Allah juga memperlihatkan karunia lain dalam keluarga.
Istri saya mendapatkan satu order kacamata dengan nilai sekitar delapan ratus ribu rupiah. Istri yang lain juga menerima kiriman uang tiga ratus ribu rupiah dari tantenya.
Semua itu bukan sesuatu yang besar jika dilihat dari ukuran dunia. Namun bagi saya itu adalah isyarat kecil dari karunia Allah yang patut disyukuri.
Setelah rezeki hari itu saya terima, sebagaimana kebiasaan yang sedang saya latih beberapa waktu terakhir, saya langsung menyisihkan sebagian kecilnya untuk dimasukkan ke dalam celengan sedekah.
Hari itu saya memasukkan tujuh ribu rupiah.
Jumlahnya memang kecil, tetapi saya belajar bahwa sedekah bukan tentang besarnya nilai, melainkan tentang melatih hati untuk tidak menggenggam rezeki terlalu erat.
Sedikit demi sedikit kebiasaan ini membuat hati terasa lebih lapang.
Karena setiap rezeki yang datang selalu diingatkan bahwa di dalamnya ada hak orang lain.
Pada akhirnya saya kembali menyadari satu hal sederhana.
Manusia tidak pernah benar-benar tahu dari mana rezekinya akan datang.
Tugas manusia hanyalah melangkah dengan niat yang baik, bekerja dengan tenang, menjaga hati agar tidak dipenuhi ambisi, dan tetap bersyukur atas setiap karunia yang Allah perlihatkan.
Ketika langkah mengikuti petunjuk, hidup terasa lebih ringan.
Dan ketika karunia-karunia kecil disadari dengan penuh syukur, perjalanan hidup terasa lebih berkah.
Wallahu a'lam bissabab.
Komentar
Posting Komentar