Bergerak, Membaca Pola, dan Menyerahkan Hasil kepada Allah

Bergerak, Membaca Pola, dan Menyerahkan Hasil kepada Allah

Subuh ini saya kembali memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mencari hasil, tetapi tentang memahami diri sendiri di tengah perjalanan hidup yang terus bergerak. Beberapa hari terakhir saya banyak melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya: pikiran, rasa, ketakutan, harapan, tekanan, dan bagaimana semuanya mempengaruhi langkah saya setiap hari.

Awalnya saya mengira sumber masalah ada di luar diri. Saya sibuk melihat keadaan ekonomi, target pembayaran, perilaku orang, peluang prospek, cuaca, dan berbagai kejadian di sekitar saya. Tetapi perlahan saya mulai sadar bahwa yang paling sering memecah fokus justru konflik kecil di dalam diri sendiri.

Saat hendak prospek misalnya, ada dua suara yang muncul bersamaan. Satu sisi mengatakan bahwa peluang bisa muncul di mana saja. Tempat lama maupun tempat baru tetap memiliki kemungkinan. Orang berubah, kebutuhan berubah, dan momen juga berubah. Tetapi di sisi lain muncul pikiran yang berkata: “Tempat dekat sudah sering didatangi.” “Tidak ada peluang lagi.” “Kalau mau hasil besar harus cari tempat yang jauh.”

Pikiran seperti itu ternyata lahir dari tekanan. Tekanan target, tekanan waktu, rasa takut kehilangan kesempatan, dan keinginan mendapatkan hasil yang cepat. Akibatnya fokus menjadi pecah. Tubuh ingin bergerak, tetapi pikiran sibuk menghitung kemungkinan gagal.

Dari situ saya mulai memahami bahwa tugas manusia bukan menguasai hasil, tetapi membaca pola dan bergerak sebaik mungkin.

Saya mulai melihat bahwa kehidupan memiliki sunnatullah. Sebagaimana Allah menetapkan hujan dan kemarau, begitu pula kehidupan manusia berjalan dengan sebab dan keteraturan tertentu. Dalam pekerjaan saya yang setiap hari bertemu banyak orang, saya mulai belajar membaca perilaku manusia. Ada yang terbuka, ada yang cuek, ada yang ramah, ada yang menolak. Saya belajar memahami bahwa keadaan batin manusia sering tercermin dari sikapnya.

Namun saya juga sadar bahwa manusia tidak pernah bisa mengetahui segala sesuatu secara mutlak. Yang bisa dilakukan hanyalah membaca tanda, memahami pola, lalu mengambil langkah dengan sebaik mungkin.

Dulu saya terlalu keras terhadap diri sendiri. Dalam menjaga pola makan misalnya, saya pernah sangat takut terhadap karbohidrat, minyak, dan makanan manis. Saya mengira semakin keras menahan diri maka semakin baik hasilnya. Tetapi tubuh justru menjadi lemas dan hati tidak tenang. Saya lalu sadar bahwa saya sedang berada di titik yang terlalu ekstrem.

Begitu pula dalam memahami pikiran dan rasa. Saya pernah terlalu sibuk mengamati semua gerakan batin hingga ingin mematikan rasa dan pikiran itu sendiri. Padahal Allah menciptakan pikiran dan rasa bukan untuk dimusuhi. Pikiran adalah alat untuk memahami kehidupan. Rasa adalah alat untuk merasakan kasih sayang, takut, lelah, bahagia, dan berbagai pengalaman hidup lainnya.

Yang perlu dijaga bukan menghilangkan semuanya, tetapi menempatkannya pada posisi yang seimbang.

Dari pengalaman-pengalaman itu saya mulai memahami bahwa banyak hal di dunia tidak berdiri sendiri. Tubuh manusia tidak dipengaruhi satu faktor saja. Perilaku manusia juga tidak lahir dari satu sebab saja. Kehidupan ternyata bekerja melalui banyak hubungan yang saling berkaitan:

pikiran mempengaruhi rasa,

rasa mempengaruhi langkah,

tekanan mempengaruhi fokus,

hati mempengaruhi cara melihat orang,

dan keadaan batin mempengaruhi kualitas usaha.

Saya juga mulai menyadari bahwa tempat lama bukan berarti tidak memiliki peluang. Justru tempat yang sering didatangi bisa menjadi tempat tumbuhnya kepercayaan. Orang mulai mengenal wajah kita, rasa asing mulai hilang, dan hubungan kecil mulai terbentuk. Kadang peluang bukan muncul karena tempat baru, tetapi karena momen yang baru.

Akhirnya saya sampai pada satu pemahaman yang membuat hati lebih tenang: tugas manusia adalah bergerak.

Bergerak dengan:

membaca pola,

memperbaiki komunikasi,

membangun kepercayaan,

menjaga tubuh,

menjernihkan pikiran,

mengendalikan rasa,

dan menjaga hati tetap tenang.

Sedangkan hasil akhirnya bukan milik manusia.

Kita bergerak karena Allah yang menggerakkan. Tenaga, kesempatan, akal, kesadaran, bahkan kemampuan untuk bangkit setiap pagi semuanya berasal dari Allah. Karena itu manusia hanya bisa berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.

Dan mungkin inilah makna tawakkal yang mulai saya pahami: bukan berhenti berusaha, tetapi menjalankan usaha dengan ihsan tanpa memaksa diri menguasai seluruh hasil kehidupan.

Hari ini saya merasa bahwa semua perjalanan batin, tekanan hidup, kegagalan, ketakutan, bahkan fase-fase ekstrem yang pernah saya alami ternyata bukan sesuatu yang sia-sia. Semua itu seperti proses pendalaman diri agar saya belajar memahami kehidupan dengan lebih sadar, lebih seimbang, dan lebih membumi.

Karena pada akhirnya manusia bukan diciptakan untuk menguasai dunia, tetapi untuk belajar berjalan di dalamnya dengan hati yang tetap sadar kepada Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”