Dari Ekstrem Menuju Keseimbangan
Dari Ekstrem Menuju Keseimbangan
Beberapa bulan terakhir saya merasa sedang belajar memahami kehidupan dengan cara yang berbeda. Awalnya semua bermula dari tekanan hidup yang datang bertumpuk: ekonomi, tanggung jawab keluarga, biaya pendidikan anak, dan berbagai beban pikiran lainnya. Dari situ saya mulai banyak mengamati diri sendiri. Saya memperhatikan bagaimana pikiran bergerak, bagaimana rasa takut muncul, bagaimana tubuh bereaksi terhadap tekanan, dan bagaimana hati mencoba bertahan di tengah keadaan.
Awalnya saya mengira semua harus dikendalikan dengan keras. Saya mencoba mengatur makan secara ketat, mengurangi karbohidrat, minyak, dan makanan manis secara berlebihan. Saya pikir semakin keras menahan diri maka semakin baik hasilnya. Tetapi yang terjadi justru tubuh menjadi lemas, mudah lunglai, dan hati terasa tidak tenang. Saya mulai sadar bahwa mungkin saya sedang berada di titik yang terlalu ekstrem.
Dari pengalaman itu saya mulai memahami bahwa tubuh manusia tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Dulu kalau pinggang sakit saya langsung menyalahkan makanan tertentu, seperti gorengan atau daging. Padahal setelah diamati lebih dalam, ternyata ada banyak hal lain yang ikut berpengaruh: perjalanan jauh, duduk terlalu lama, tubuh tegang, kurang istirahat, dan aktivitas fisik yang berat.
Saya mulai memahami bahwa kehidupan bekerja dalam banyak hubungan yang saling terkait. Tidak sesederhana hitam dan putih.
Hal yang sama juga saya alami dalam memahami pikiran dan rasa. Di awal saya terlalu fokus mengamati semua gerakan batin. Saya ingin mengendalikan pikiran, menahan rasa, bahkan seperti ingin mematikan keduanya agar hati menjadi tenang. Tetapi semakin ditekan, justru hati menjadi semakin sempit.
Lalu perlahan saya sadar bahwa Allah menciptakan pikiran dan rasa bukan untuk dimusuhi. Pikiran adalah alat untuk memahami kehidupan. Rasa adalah alat untuk merasakan kasih sayang, kelelahan, bahagia, sedih, dan berbagai pengalaman hidup lainnya. Yang perlu dijaga bukan menghilangkan semuanya, tetapi mengarahkannya agar tidak berlebihan.
Saya juga mulai memahami bahwa hidup memiliki pola. Seperti adanya hujan dan kemarau, begitu pula kehidupan manusia berjalan dengan sebab dan keteraturan tertentu. Dalam pekerjaan saya yang setiap hari bertemu banyak orang, saya mulai belajar membaca perilaku manusia: ada yang terbuka, ada yang cuek, ada yang ramah, ada yang menolak. Dari situ saya menyadari bahwa keadaan batin seseorang sering tercermin dari sikapnya.
Namun saya juga belajar bahwa manusia tidak pernah bisa mengetahui segala sesuatu secara mutlak. Yang bisa dilakukan hanyalah membaca kemungkinan, memahami pola, lalu tetap menyadari bahwa hasil akhir berada di tangan Allah.
Dari semua pengalaman ini saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: ternyata proses yang saya lalui sejak awal adalah proses pendalaman diri. Fase-fase ekstrem yang pernah saya jalani justru memberi pemahaman yang lebih dalam tentang keseimbangan.
Saya mulai memahami bahwa hidup bukan tentang menekan diri sekeras mungkin, tetapi tentang belajar menempatkan segala sesuatu pada porsinya:
makan secukupnya,
bekerja sungguh-sungguh,
memahami pola kehidupan,
menjaga hati tetap sadar,
dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang saya rasakan: manusia tidak diciptakan untuk menjadi makhluk tanpa rasa dan tanpa pikiran. Justru dengan pikiran, rasa, tubuh, dan kesadaran itulah manusia belajar mengenal dirinya, memahami kehidupan, lalu perlahan belajar mendekat kepada Allah dengan cara yang lebih tenang dan lebih membumi.
Komentar
Posting Komentar